Pembangunan/perkembangan manusia yang integral (integral human development, IHD) adalah fungsi integritas dalam perilaku seseorang, integritas masyarakat, integritas ciptaan, dan integritas dengan yang ilahi : itu adalah psikologis, sosiologis, ekologis, dan teologis.

Karena itu, pribadi manusia di dalam dan dengan komunitasnya harus berusaha untuk berkembang secara psikologis, sosiologis, ekologis, dan teologis. Ini adalah kondisi minimum dan kriteria untuk pengembangan/pembangunan manusia integral yang otentik. (Camillus Kassala)

Komentar Camilus Kassala itu, setidaknya bagi saya, merangkum gagasan yang luas dari  perkembangan manusia yang integral, sebuah gagasan yang ditawarkan paus Paulus IV lewat ensiklik beliau, Populorum Progressio yang dikeluarkan 52 tahun yang lalu, 26 Maret 1967. Ensiklik besar ini mengantisipasi satu tema besar : pembangunan. Populorum Progressio adalah tanggapan Gereja dalam menghadapi lahirnya begitu banyak negara-negara bangsa baru di berbagai penjuru dunia, khususnya di Asia dan Afrika dengan berakhirnya era kolonialisme Barat, serta tantangan bagaimana membantu negara-negara muda ini keluar dari belenggu kemiskinan, ketertindasan, dan ketertinggalannya.

PP menunjukkan sikap dukungan dan masukan Gereja atas akan hadirnya optimisme dan gairah akan kemajuan yang luar biasa di antara bangsa-bansga baru ini.  Optimisme ini muncul dalam seruan kunci Paus  Paulus VI : “Pembangunan adalah nama baru untuk perdamaian”. Mereka yang selama ini tunduk di bawah penjajahan pemerintah kolonial, memiliki kesempatan untuk menentukan nasib mereka sendiri.

Di sisi lain, PP juga muncul dari interaksi Gereja, khususnya Bapa Suci Paulus VI dengan PBB dan dengan berbagai negara yang beliau kunjungi. Paus berjumpa dengan realitas penderitaan dan kemiskinan yang terjadi secara global di satu sisi, dan melihat pula harapan yang tercipta dari adanya struktur transnasional seperti PBB dan berbagai lembaga di bawahnya. PP menandai masuknya Gereja Katolik ke dalam dataran politik dan kerjasama internasional untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil, damai, dan bermartabat. Paus melihat perlunya tindakan dan solidaritas bersama dunia internasional untuk melenyapkan kemiskinan, ketidakadilan, demi mewujudkan “perkembangan pribadi manusia yang seutuhnya”.

Lewat gagasan konsep integral human development ini Bapa Suci mengajak seluruh dunia melampaui gagasan teori-teori pembangunan konvensional yang menempatkan ekonomi sebagai tolok ukur utama, dan menemukan visi Kristiani bahwa “pembangunan sejati haruslah bercorak integral, mencakup setiap pribadi manusia dan seluruh umat manusia”.

Logika pembangunan lama mengandaikan bahwa pembangunan yang merata akan sulit diwujudkan, dan cenderung memilih trickle down effect sebagai mekanisme pemerataan pembangunan yang alami. Dalam model teori lama ini manusia juga direduksi menjadi angka-angka statistik sehingga kehilangan kehadirannya yang sejati. Daya dukung alam juga diluar perhitungan ekonomi, dianggap cuma-cuma, tanpa memperdulikan daya topangnya atas cara manusia hidup sehari-hari.

Integral human development berusaha memulihkan dimensi manusia yang hilang dalam pembangunan. Pembangunan yang sejati seharusnya adalah gerak dari situasi yang tidak manusiawi menjadi lebih manusiawi. Ia harus mendukung upaya manusia mencapai pemenuhan diri. Pemenuhan bukan hanya dalam hal ekonomi atau sosial semata, tetapi moral, nilai-nilai kehidupan, dan spiritualitas : mengarahkan manusia kepada Allah Penciptanya.

Bapa Suci kemudian melengkapi cita-cita ini dengan pembentukan Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan di Vatikan. Dalam dasawarsa-dasawarsa berikutnya, harapan akan pembangunan yang lebih manusiawi dari Paus Paulus VI itu berkembang menjadi berbagai karya dan gerak dalam Gereja, dan menjadi kontribusi penting bagi gerakan sosial di dunia. Namun demikian tema ini perlahan surut sejak dasawarsa 1990an seiring dengan dinamika Vatikan dan politik global. Kehadiran Paus Fransiskus yang berasal dari Dunia Ketiga, memunculkan harapan baru bagi perhatian yang lebih besar dari Gereja kepada isu pembangunan manusia. Perhatian ini nampak antara lain dalam komitmen Bapa Suci melalui pembentukan Dicastery for Promoting Integral Human Development di Vatikan.

Dalam sambutan Paus Fransiskus di sebuah konvensi yang diselenggarakan Dicastery for Promoting Integral Human Development  guna memperingati 50 tahun Populorum Progessio, Bapa Suci mempertajam dan memperluas gagasan perkembangan manusia yang integral itu dengan tantangan solidaritas dan integrasi universal baru.

Perkembangan manusia yang integral bagi Paus Fransiskus berarti menyatukan berbagai bangsa di muka bumi. Solidaritas mengajak kita untuk berbagi secara adil dan dihapuskannya ketidakadilan radikal antara mereka yang kaya dan miskin. Hanya dalam kesatuan bangsa-bangsa kemanusiaan memiliki masa depan yang damai dan penuh harapan. IHD juga menawarkan model integrasi sosial dimana setiap orang memiliki hak sekaligus tanggung jawab untuk berkontribusi pada hidup bersama. masyarakat manusia yang terbuka membutuhkan kesediaan dan kebebasan kepada setiap orang untuk berkontribusi.

Perkembangan manusia yang integral juga menunjukkan kesatuan perkembangan dari berbagai elemen-elemen dasar kehidupan. Setiap sistem entah ekonomi, keuangan, tenaga kerja, kebudayaan, keluarga, agama, hingga alam adalah komponen unik yang mendasar bagi pertumbuhan. Tidak ada satupun yang dapat dikecualikan, tidak ada satupun yang mendominasi sistem yang lain. Semua memadu menjadi satu harmoni pertumbuhan yang dinikmati secara adil oleh setiap orang.

Perkembangan manusia yang integral juga menunjukkan kesatuan dimensi pribadi dan komunitas. Dua kutub yang selama ini saling dipertentangkan sejatinya satu dan tidak terpisahkan. Tidak ada individu yang benar-benar terpisah dari komunitasnya, dan tidak  boleh pula pribadi seseorang itu dilenyapkan demi alasan keseragaman dan kesatuan komunitas. Pribadi dan komunitas tidaklah saling bersaing, sebaliknya pribadi hanya bisa menjadi dewasa dalam kehadiran relasi otentik yang lahir di tengah komunitas. Komunitas berperan generatif bagi tumbuh kembang pribadi, terlebih-lebih dalam lingkup keluarga.

Terakhir, perkembangan manusia yang integral juga berarti keutuhan tubuh dan jiwa. Perkembangan bukan hanya semata-mata pencapaian kesejahteraan material, melainkan juga pertumbuhan rohani. Pembangunan tidak akan mencapai tujuannya yang sejati bila ia tak menghormati kehadiran Allah dalam hati manusia.

Bagi Bapa Suci Fransiskus, model manusia integral dapat ditemukan dalam sosok Kristus sendiri :

“Allah telah menyatakan diriNya dalam Yesus Kristus : dalam Dia, Allah dan manusia tak dapat dibagi dan terpisahkan. Allah menjadi menjadi manusia untuk menjadikan hidup manusia, baik sebagai pribadi maupun sosial, sebagai jalan yang nyata menuju keselamatan.  Kehadiran Allah di dalam Kristus, dalam tindakan penyembuhan, pembebasan, dan pendamaianNya, itulah yang mengundang kita untuk kita tawarkan kepada banyak orang yang terluka di sepanjang jalan, menunjukkan jalan dan bentuk pelayanan yang ingin ditawarkan Gereja kepada dunia.”

Inilah makna sejati dari gagasan “integral” dari pembangunan : pembangunan yang tak menyakiti Allah maupun manusia, karena ia konsisten dengan keduanya.

Referensi :

Paus Paulus VI, http://w2.vatican.va/content/paul-vi/en/encyclicals/documents/hf_p-vi_enc_26031967_populorum.html

Pope Francis: What is Integral Human Development?, Apr 4, 2017, https://catholicecology.net/blog/pope-francis-what-integral-human-development

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *