dari diskusi KMKI di Rumah Kuwera, Sabtu, 7 April 2019

Menjadi tugas setiap umat beriman untuk membagi harta rohani Gereja kepada semua umat beriman lainnya, agar setiap putra-putri Allah mengenali dan memiliki harta Gereja di dalam hatinya dan menghidupi dengan tindakannya.

Supaya mereka bergembira

“ Mas, ini bukunya, aku kembalikanya.” Kata Nadya, relawan di KKPKC KAS sembari menyerahkan buku YOUCAT kepada saya. “Bagaimana isinya ?” tanya saya, berusaha memperoleh umpan balik. “Bagus mas, banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang selama ini belum aku temukan jawabannya, dijawab di situ, bagus banget.” Jawabnya dengan sumringah. Buku yang aslinya berjudul Katholischer Jugendkatechismus  itu memang dibuat untuk membuat Nadia tersenyum : agar orang-orang muda mengenali harta warisan imannya, dan berbahagia karenanya.  

Buku itu, katekismus bagi kaum muda yang disusun para teolog Jerman di bawah arahan Kardinal Christoph Schönborn memang saya pinjamkan kepadanya sebagai bagian dari persiapan seri diskusi teman-teman Kolektivitas Muda Katolik Indonesia (KMKI) yang diselenggarakan di Rumah Kuwera/Dinamika Edukasi Dasar, tempat swargi Romo Mangun dahulu berkarya. Dan tema diskusi mereka pada hari Sabtu, 7 April 2019 lalu sederhana, namun (sangat) menantang : Katolisitas.

Ruang kosong dalam iman kita

Katolisitas menjadi tema besar yang sengaja mereka pilih lantaran mereka sadar betapa penting sekaligus lemahnya pemahaman akan wawasan iman di tengah kaum muda Katolik Indonesia. Benar, kita memiliki sangat banyak instrumen mulai dari kotbah, pertemuan umat berkala; pertemuan khusus seperti APP, BKL, BKS, dan Adven, rekoleksi dan retret, hingga media cetak dan media sosial, tetapi teramat besar harta iman kita, hingga teramat kecil yang bisa kita bagikan bersama. Dan teramat kecil lagi yang mampu menyentuh secara pribadi kepada setiap umat beriman, khususnya orang-orang muda. Menghubungkan dan meneruskan warisan harta agung iman kita adalah tugas wajib bagi semua umat beriman, tentu saja dalam prinsip-prinsip yang telah diajarkan oleh Gereja Kudus.

Dan bagi saya yang belajar iman partikelir, membagikan wawasan iman tentu bukan perkara mudah, apalagi  mampu menyampaikannya secara sistematis. Tetapi setidak-tidaknya, dengan kelemahan-kelemahan yang ada, saya bisa membagikan semangatnya kepada mereka. Semangat yang, setidak-tidaknya dalam tafsir saya, menggerakkan sejarah Gerea Katolik, sejarah umat manusia, dan saya harap juga, sejarah pribadi mereka, anak-anak muda Katolik Indonesia.

Hari itu saya dan mas Benny Pudyastanto, M, Psi diminta untuk menjadi pemantik diskusi. Diskusi dipandu oleh mas Lukas, alumni FISIPOL UGM Yogyakarta.  Ada 20an orangmuda Katolik dari berbagai kampus dan kampung berkumpul untuk berbagi bersama. Saya diminta untuk memaparkan Katolisitas secara umum  (apapun itu maknanya bagi mereka, dan apapun itu maknanya bagi saya) sementara mas Benny akan melanjutkan dengan aspek solidaritas dalam Katolik. Kebetulan, selama beberapa tahun terakhir, saya sering diminta sharing apa itu iman Katolik di kalangan teman-teman mahasiswa  Fakultas Ushuludin UIN Sunan Kalijaga. Jadi ada semacam template baku di kepala saya tentang Katolisitas : Apa itu iman Katolik, sumber-sumber iman Katolik, Kitab Suci dan sejarah keselamatan, Allah Tritunggal (trinitas), Dinamika Gereja sepanjang sejarah (dan skisma-skismanya), serta Gereja di tengah jaman ini. Sayang, tidak semua materi ini bisa kami diskusikan sepanjang siang hingga malam itu.

Sumber-sumber iman Katolik

Gereja tentu saja memiliki tiga sumber iman paling dasar : Kitab Suci, Tradisi, dan Magisterium.  Tetapi sebagaimana umumnya umat Katolik, tidak semua peserta diskusi memahami tiga hal ini, apalagi langsung pernah membaca dan mendalami teks-teks terkait dengannya. Ah. Andai saja mereka tahu harta rohani yang mereka warisi, mereka pasti akan sangat takjub, bersyukur, dan terpesona. Maka sore itu dengan sengaja kami (mas Benny dan saya) membawa beberapa sumber bacaan utama di dalam Gereja kita saat ini : Katekismus besar, kompendium Katekismus, dan YOUCAT; Dokumen Konsili Vatikan II; Kompendium ASG dan DOCAT. Mohon maaf kami tidak siap dengan Kitab Suci dan KHK :D.

Diskusi diawali dengan mengajak peserta mengenal sumber-sumber iman, lewat paparan singkat tentang buku-buku yang sengaja kami siapkan. Sejauh mana mereka mengenalinya dan memahami isinya, dan apa arti pentingnya bagi Gereja Universal kita. Masih cukup banyak di antara peserta yang belum mengenal bacaan-bacaan tersebut. Sungguh memprihatinkan dan menjadi tantangan bagi kita semua. Kami kemudian melanjutkan dengan diskusi panjang lebar tentang Tradisi dan Magisterum.

Sejarah Keselamatan

Sejarah Keselamatan adalah alur logis yang otomatis muncul di tengah kami, ketika kami mendiskusikan Kitab Suci. Di situ pula arti iman Katolik bagi keselamatan universal, hakikat manusia sebagai ciptaan sekaligus pribadi di hadapan Allah, serta kisah karya penyelamatan Allah kami diskusikan. Manusia adalah ciptaan yang sangat dicintai Allah hingga diciptakan secitra dengan Allah sendiri, serta sebagai pribadi di hadapan Allah. Dan bukan hanya itu, Allah bersedia menebus manusia dan seluruh ciptaan, ketika manusia jatuh ke dalam dosa.

Upaya Allah menyapa manusia sepanjang sejarah lewat para nabi, hakim-hakim, dan raja-raja selalu berakhir pada ketidakmampuan manusia menanggapi kemurahan kasih Allah. Keterbatasan indrawi manusia untuk memahami karya kasih Allah dan belenggu duniawi yang membentuk hasrat dan pilihan manusia hanya dapat ditebus lewat kehadiran Allah sendiri di tengah dunia. Allah menjadi manusia, lewat Kristus, Sang Putera. Allah menjangkau manusia. Allah menebus manusia. Allah mengilahikan dunia, sejarah, dan kemanusiaan di dalamnya.

Allah menjangkau manusia. Allah yang hadir dan menjangkau manusia secara daging. Lewat manusia Yesus, manusia mampu menjangkau Allah karena Yang Ilahi kini bermurah hati hadir dalam realitas yang indrawi. Allah menjangkau dan mengangkat manusia.

Allah yang menebus. Lewat kelahiran, wafat, dan kebangkitan Kristus, manusia ditebus dari dosa. Dalam Kristus, Allah menebus kematian manusia dalam dosa.

Allah yang mengilahikan kehidupan. Di saat yang sama, yang duniawi menjadi diilahikan, karena kini Allah sendiri hadir di dalamnya. Dan kita ciptaan yang hina, diangkat di dalam Kristus, menjadi putra dan PutriNya.

Di situlah kami berusaha meraba-raba Trinitas : Allah Bapa yang mahaagung, Allah Putera yang hadir sungguh dekat dengan kemanusiaan kita, dan Allah Roh Kudus yang menyertai kita sepanjang sejarah. Sayangnya, diskusi kami belum sampai masuk ke dalam sejarah Gereja dan Gereja Kontemporer. Kami sampai pada refleksi atas kodrat tertinggi manusia sebagai ciptaan, untuk menjadi Kokreator bersama Allah, untuk menguasai, turut bertanggung jawab, dan menciptakan bumi menjadi lebih baik (Kej 1:28). Merenungkan panggilan kokreator ini, kami pun sampai pada refleksi Santo Paulus dalam Filipi 1:29 : kamu diundang bukan hanya untuk percaya dan berbahagia bersama-sama dengan Kristus tetapi untuk berjuang dan menderita bersama-sama dengan Dia.

Solidaritas

Mas Benny Pudyastanto melanjutkan diskusi dengan pemaparan tentang solidaritas. Dalam terang kokreasi dan pertanggungjawaban manusia atas kehidupan inilah seruan solidaritas di dalam iman Katolik muncul. Pertanyaan Kristus ‘siapakah sesamamu manusia’ dalam kisah Orang Samaria yanG baik menjadi pertanyaan dasar yang menggugat jati diri kemanusiaan kita : siapakah engkau sebagai manusia ? Manusiakah engkau ketika engkau tidak bisa memanusiakan sesamamu, menjadi manusia bagi sesamamu ?

Mas Benny kemudian mengajak peserta untuk mempertajam dan mengkritisi rasa kepekaan, dari sekedar sensasi emosional dan visual, menjadi pemahaman mendalam atas situasi riil dari sesamanya. Solidaritas membutuhkan bukan hanya sisi afektif manusia tetapi juga daya kritis terhadap realitas.  bersolidaritas tidak hanya dengan hati tetapi juga dengan akal budi, karena realitas ketidakadilan seringkali membutuhkan kekritisan dan kerja-kerja struktural yang lebih mendalam.

Malam itu, kami pulang dengan menimang-nimang hati kami masing-masing. Ia barangkali adalah organ kita yang paling berharga, karena lewat hati kita tahu kalau kita dicintai Tuhan, lewat hati pula kita berkesempatan mengenal dan meluhurkan kehidupan.

Kuwera, 10 April 2019

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *