Lebih dari tujuh puluh penggerak umat, khususnya pegiat sosial kemasyarakatan, dari berbagai paroki di Yogyakarta berkumpul di Wisma Bela Rasa, Pringwulung  pada hari Minggu 31 Maret 2019 lalu. Kegiatan yang yang diselengarakan oleh Komisi Keadilan, Perdamaian, dan keutuhan Ciptaan Kevikepan Daerah Istimewa Yogyakarta dengan dukungan KKPKC KAS ini melibatkan Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayan, serta Penghubung Karya Kerasulan Kemasyarakatan Kevikepan DIY. Kegiatan ini sengaja dilakukan untuk mempersiapkan umat menghadapi Pemilu 2019. Berbeda dengan PK3 yang memfokuskan diri pada penguatan partisipasi dan pendampingan para calon legislatif, KKPKC lebih memusatkan pada penguatan umat menghadapi kerentanan sosial Pemilu 2019.

Koordinasi menjelang Pemilu 17 April 2019 sangat penting untuk dilakukan mengingat tegangan yang tinggi dari pelaksanaan pemilihan umum kali ini. Hangatnya iklim politik yang mulai tercipta sejak pemilu 2014, disusul dengan Pilkada DKI Jakarta 2017 menjadikan Pemilu 2019 ini cukup kritis dan perlu diwaspadai.  Terlebih lagi, pelaksanaan Pemilu tepat berada di tengah-tengah Pekan Suci 2019.

Dalam pertemuan ini para pegiat sosial kemasyarakatan dari berbagai paroki berkumpul, melakukan brainstroming, pemetaan kerentanan, dan merumuskan langkah antisipatif terhadap persoalan sosial yang mungkin muncul di DIY dan sekitarnya seputar Pemilu 2019.  Dengan pembelajaran bersama ini diharapkan berbagai gereja cukup siap menghadapi situasi yang mungkin terjadi.

Setelah dibuka oleh Ketua Panitia, Ibu Ririn Tri Setyaningrum yang sekaligus anggota dari KKPKC Paroki Kotabaru, Bapak Sumartoyo, Ketua KKPKC Kevikepan DIY memberikan sambutannya. Sementara itu, gerak langkah kerja keadilan dan perdamaian di KAS dipaparkan Romo Endra Wijayanta, Pr, dalam sambutannya.

FGD diawali dengan paparan pengantar dari dua relawan KKPKC KAS, mas Bambang Wahyu dan mas Stephanus Tri Hartanto. Keduanya menguraikan kompleksitas dari sisi politis maupun sisi teknis Pemilu mendatang. Keduanya mengajak peserta melihat tantangan yang akan kemungkinan akan muncul dan adanya kebutuhan kolaborasi yang lebih mendalam dari semua pekerja sosial kemasyarakatan di DIY untuk mengantisipasinya.  Untuk mengolah secara lebih mendalam, peserta kemudian dibagi ke dalam 6 rayon yang ada : Gunungkidul, Bantul, Kulon Progo, Sleman Timur, Sleman Barat, dan Kota Yogyakarta. Mereka mendiskusikan situasi daerah, kerentanan, dan antisipasinya.

Selepas makan siang, tiap tiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya. Beberapa temuan di lapangan menjadi input berharga bagi KKPKC DIY maupun KAS. Perbedaan karakter daerah, isu yang menonjol, dan situasi gereja setempat menjadikan FGD ini sangat kaya dan menyegarkan. Antusiasme peserta sangat terasa hingga acara berakhir. Acara ditutup dengan penyimpulan dan kesepakatan akan langkah bersama yang akan dilakukan. Salahs atu komitmen terpenting adalah pembentukan jaringan kerja lengkap dengan koordinasinya di tiap rayon. Pukul 15.00 WIB acara berakhir dan diikuti dengan foto bersama.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *