Sebagaimana kata-kata lain yang mampu menggerakkan jiwa kita, bagi saya, “kebhinnekaan” adalah kata kerja. Kita dengan mudah menemukan beraneka kata-kata semacam ini : merdeka, Indonesia, prestasi, cinta, keluarga, dan lain-lain. Kata-kata ini menggerakkan jiwa, dengannya sesosok pribadi terbangkitkan menjadi subyek yang berani menulis sejarah.

Tentu saja, jangan tanyakan ini kepada guru bahasa Indonesia. Mereka akan memberi jawaban yang berbeda.

Kata-kata itu pernah, sudah, sedang, dan akan terus menarik ribuan pribadi untuk turun ke jalan, berkorban, dan berjuang. mengapa ? Karena kata-kata itu dapat menyentuh jiwa mereka.

Dan kebhinnekaan kita adalah kata yang menggelisahkan kita akhir-akhir ini, ia menyentuh kiya, tetapi secara pedih, karena sebagai mantra yang seharusnya meneguhkan hidup bersama, ia hampir-hampir tiada. Bukan ketiadaan dalam arti lenyapnya perbedaan di dunia nyata tetapi karena sebagai rumusan tata hidup bersama, perlahan tapi pasti ia terkikis oleh kekuatan-kekuatan yang berusaha mengubah wajah jaman. Dan sejak awal mula kita sepakat, kita akan memperjuangkanhya. Kita terus akan memperjuangkannya.

Menjadi bhinneka

Dan untuk isu semua, mantra itu harus hidup dalam jiwa kita. kekuatan mantra bukan di kata-kata, kekuatan mantra ada dalam daya hidup manusia yang meragakannya.  Dan manusia-manusa yang kuat meragakannya adalah manusia-manusia yang berani jujur ke dalam dirinya sendiri : apakah ia punya mata yang hinneka, yang melihat kesemarakan hidup dan msneyukurinya ? Apakah ia punya ytelinga yang hinneka, yang siap mendengar riuhnya hidup dan menghormati tiu semua ? Apakah ia punya hidung yang bhinneka, yang mencium keragaman aroma dan menemukan kehadruman kasih Allah di dalamnya ? apakah ia punya mulut yang bhinneka, hingga ia bisa mengidungkan damai dalam kekayaan seluruh ciptaan ? Apakah ia punya budi yang bhinneka, sehingga ia mampu mencerna ragam pikir dan melihat betapa demikianlah daya kreatif Allah bekerja ?

Demikianlah menjadi jujur di hadapan diri sendiri itu teramat berat, karena pertama-tama ua harus bisa mengosongkan dirinya, untuk melampaui ego –rumah nyaman tempat setiap orang menyembunyikan diri dan merasakan ‘sensasi’ terlindungi.

Menghormati akar

Mewujdukan kebhinnekaan berarti menghormati habitat akar. Akar berarti jalan persentuhan dengan Sang Sumber. Dan setiap hal yang berbeda-beda itu pasti memiliki akarnya masing-masing. Persentuhan ereka dengan isnpirasi yang menggerakkan hadirnya masing-masing identitas untuk tumbuh dan bersemi di dalam sejarah. Menghormati akar berarti menempatkan seseorang atau sebuah komunitas pada hakikat agung yang dihormatinya secara intim dan mendalam. Menghormati akar adalah sebuah sikap batin, sekaligus sikap berkomunikasi pada ‘liyan’, mereka yang berbeda.

Dimulai dari bawah

maka setiap upaya memperjuangkan keberagaman harus dimulai dari bawah. Akar rumput itulah pemilik keberagaman yang tertinggi, secara empiris, dan hakiki.

Mengerjakan ‘kebhinnekaan’ hanya dapat dimulai dari realitas kongkrit, bersama orang-orang  dari realitas keseharian. Hanya dengan demikian ia terbebas dari ancaman reduksi, abstraksi, generalisasi, dan prasangka-prasangka. Setiap kesediaan berkomunikasi langsung, kritis, dan terus-menerus dengan realitas, membebaskannya dari penjara sentimen dan prasangka.

Ia berawal dari pengalaman nyata, tempat persoalan riil yang sesungguhnya terjadi, sebelum penuturan kembali atas pengalaman nyata itu terjebak dalam belantara tafsir, dan manusia-manusia penafsir terjebak dalam asumsi-asumsi mereka sendiri.Dalam situasi semacam ini hanya keberanian masuk ke dalam realitas kongkrit yang mampu memerdekakan. “dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” (Yoh 8:32).

Pemberdayaan (kembali) lokal

Dalam terang ini, yang harus dipulihkan adalah kesadayaan. Untuk menjangkau dan menghadirkan kembali lokalitas, realitas masyarakat kecil, sebagai sarana bina damai dan penghargaan pad akebhinnekaan, maka pertama-tama yang lokal itu harus kembali berdaya. 

betapa tafsir kenyataan sehari-hari masyarakay lokal itu direbut oleh penafsir religus dan profan nun jauh di sana. betapa kekuasaan untuk mengambil keputusan secara lokal itu diambil alih oleh lembaga politik dan pemerintahan yang berjarak ribuan kilometer jauhnya. Bahkan, betapa pengetahuan itu dihegemoni rejim akademik dan birokrasi pengetahuan.

Memulihkan keswadayaan lokal berarti menjadikan masyarakat itu sendiri sebagai pemilik, penafsir, penganalisi, dan penyelesai masalah di lingkungannya masing-masing. Tak perlu menanti seorang hakim, polisi, atau tokoh agama untuk memintamu berjabat tangan, engkau sendiri bisa melakukannya. Juga, tak ada yang bisa melarang kita menjadi saudara atau berbagi dengan tetangga sebelah rumah kita, kita sendirilah yang menyimpulkan dan menjalaninya.

Masyarakat  kecil tak perlu diajari berdamai dan berbhinneka. Jangan pernah pula meragukan modal moral yang dimiliki sebuah dusun dan kampung untuk merawat kemanusiaan di tengah-tengah mereka. Mereka sudah memilikinya, mereka hanya sedang ‘dipaksa’ melupakannya. tentu saja, modalitas sosial yang ada harus terus disuburkan dan dilaraskan dengan kesadaran kemanusiaan yang lebih universal.

Didiklah lokalitas agar kembali berdaya, percaya diri, berinisiatif penuh inovasi, dan kreasi bagi upaya pemecahan masalah dan penghargaan pada realitas hidupnya yang bhinneka.

Memaknai sinergi kebudayaan

Dan akhirnya percayalah pada dipulihkannya  kembali keutamaan akar, pada kekuatan gerakan dari bawah, dan pada penemuan kembali martabat lokalitas. ketiganya akan memberi bentuk dan roh pada upaya mewujudkan dan menghormati kebhinnekaan.

Pada ketiganya kita menemukan kekuatan untuk menciptakan damai dan penghargaan pada kebhinnekaan. di situlah praktik-praktik terbaik (best practices) dialami-direkam-dibagikan. Di situ pula nilai (value) dan keutamaan (virtue) dimaknai dan diteguhkan kembali sebagai penopang hidup bersama (rs publica).

Inilah sinergi kebudayaan itu, ketika kebhinnekaan berarti saling menyumbang kisah, pengetahuan, dan terutama nilai, yang perlahan tapi pasti terus terakumulasi dari waktu ke waktu, mengangkat martabat kehidupan, meluhurkan segenap ciptaan.

Yogya 1 Des 2016

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *