Dari pelatihan Penggerak Pancasila KKPKC KAS, 22-26 Juli 2019

“Kami belum pernah mendengar kIsah di balik lahirnya Pancasila yang sehidup itu. Kami hanya diajarkan oleh para guru sekolah kami bahwa ada beberapa versi Pancasila seperti Yamin, Sukarno, Supomo, dan lain-lain,” Kata salah satu peserta mengomentari paparan tentang Sejarah Pancasila yang disampaikan oleh Dr. Heri Santoso, tenaga ahli di Pusat Studi Pancasila.  Usia peserta yang semuanya milenial, nampaknya belum cukup menjarakkan mereka dari konseptualisasi Pancasila era Orde Baru.

Orde Baru memang memiliki mesin ideologisasi yang sangat terstruktur, massif, dan sistematis jauh lebih kuat dari UKP PIP dan BPIP di saat ini. Tak heran warisan konsepsi sepihak mereka tentang Pancasila, masih sangat tertanam di negeri ini. Dan persis pendekatan hegemonik-totalitarianistik dari negara dalam penyebarluasan ideologi itulah yang melahirkan ‘bencana’ pasca berakhirnya rezim tersebut, berupa kelelahan publik dan antipati masyarakat terhadap gagasan Pancasila pasca 1998. Sebuah ruang kosong yang kemudian diisi oleh berbagai kekuatan ideologi yang saat ini terbukti bukan hanya bertentangan dengan Pancasila namun juga mengancam eksistensi Republik ini.

Saat ini di tengah ancaman atas ideologi dan eksistensi NKRI, serta rusaknya nilai-nilai toleransi dan solidaritas, serta kualitas hidup bersama, menghadirkan Pancasila menjadi sebuah tantangan tersendiri : (1)agar relatif bebas dari jejak Ideologisasi Pancasila ala Orde Baru, (2) di tengah kuatnya sentimen primordial dan stigmatisasi di masyarakat yang memuncak pasca Pemilu, (3) di tengah penetrasi yang tinggi dari ideologi anti Pancasila dalam lembaga-lembaga publik, privat, dan organisasi kemasyarakatan, dan (4) di tengah-tengah generasi milenial yang memiliki tapak generasional yang khas dan sangat berbeda dengan generasi-generasi di atasnya.

Upaya inilah yang dihadapi Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan KAS saat mempersiapkan Pelatihan Penggerak Pancasila 2019 yang diselenggarakan 22-26 Juli 2019 lalu di Wisma Santidharma, Godean, Yogyakarta.  Kegiatan ini diikuti oleh partisipan dari seluruh penjuru Indonesia dengan berbagai latar belakang suku, agama, dan golongan.

Seni, 22 Juli 2019 pagi, para peserta mulai berdatangan. Kegiatan diawali dengan pembukaan bersama mbak Sinta dan mbak Sesa. Selanjutnya para peserta diajak untuk memaparkan motivasi dan harapan mereka mengikuti pelatihan yang cukup panjang ini bersama mas Valeri. Komitmen dan cairnya interaksi antar peserta dibangun oleh mas Goro, yang memang tak tergantikan keahliannya dalam menganimasi peserta. Selepas makan malam mas Henry Thomas Simarmata membongkar cara berpikir peserta tentang Pancasila dengan pertanyaan-pertanyaan mengglitiknya : apakah Pancasila obat mujarab untuk semua persoalan di Indonesia ? Apakah Pancasila menjadi alat kekuasaan presiden Jokowi ? Apakah Pancasila mengusik rasa keberagamaan kita ? Melalui pertanyaan-pertanyaan di ranah abu-abu ini, peserta diajak menempatkan Pancasila secara sehat dan rasional. Pancasila sudah terlalu lama disakralkan, sehingga kehilangan kesempatan berdialog dengan realitas hidup sehari-hari, serta menutup diri dari partisipasi dan kontribusi warga negaranya terhadap wawasan Pancasila. Romo Endra selanjutnya membangun refleksi diri peserta lewat renungan dan uraiannya. Acara berakhir jam 10 malam.

Pada hari Selasa, 23 Juli peserta diajak oleh panitia dan Mas Francis Vicky Djalong untuk memahami tantangan hidup bersama di 3 lapis : personal, masyarakat/komunal, dan struktural, dan merenungkan kembali bagaimana Pancasila hadir dan (sekalipun bukan satu-satunya dan mujarab) menjadi prinsip pemandu di ketiga lini tersebut. Pada malam hari, Dr. Heri Susanto , mantan Ketua Pusat Studi Pancasila UGM  menguraikan apa itu Pancasila dan bagaimana dinamika sejarah yang terjadi di seputar Pancasila. Dengan gayanya yang lucu, meledak-ledak, khas, dan retorikal, Pak Heri bukan hanya berhasil membuat seluruh peserta tertawa, tetapi mau tidak mau memaksa mereka merenungkan dan membongkar kembali pengertian dan hakikat Pancasila di ruang batin mereka sendiri.

Di hari ketiga, sesi pertama di pagi hari mas Indro Suprobo mengajak para peserta merenungkan sisi kemanusiaan dari komunitas agama-agama. Selanjutnya Mas Cuk, seorang antropolog lulusan UGM mengantarkan kita semua pada pemahaman tentang hakikat antropologis masyarakat nusantara. Setelah tiga hari berdiskusi secara serius, mas Rio, mas Lukas, mas Goro, mas Rangga, serta rekan-rekan panitia yang lain mengundang peserta berdinamika luar ruang, dengan mengajak peserta mengolah nilai-nilai Pancasila dalam dinamika kelompok. Sesi  hari ketiga ditutup dengan refleksi mendalam dari Dr. Hardono Hadi, aktivis LSM sekaligus filsuf, dengan paparan mendalamnya tentang menjadi subyek/pribadi sebagai penggerak Pancasila.

Mas Greg dan mbak Vani dengan didampingi dua jurnalis NHK menyapa rekan-rekan peserta dengan ciri khas mereka yang sangat muda, kongkrit, dan kreatif, membagikan pengalaman bagaimana mereka membangun gerakan swakelola untuk menyemai nilai-nilai Pancasila di tengah masyarakat. Sharing mas Greg dan mbak Vani ini kemudian diperdalam di dalam sesi berikutnya, dasar-dasar pengorganisasian, hingga mengantarkan peserta pada pemahaman tentang bagaimana membangun basis gerakan yang hidup dan inovatif. Mas Goro dan mas Rangga selanjutnya mengajak peserta berworkshop menciptakan karya pementasan dengan nilai-nilai Pancasila sebagai sentralnya.   

Di malam hari, taman di tengah di kompleks Shantidarma itu pun dipenuhi oleh warga dari sekelilingnya, yang sengaja diundang untuk menyaksikan karya ekspresi seni. mas Rio dan mbak Shinta sebagai MC sangat berhasil menghidupkan suasana dan menjadikan malam ekspresi seni tersebut begitu semarak dan gembira tanpa kehilangan substansi keindonesiannya.

Pagi hari kelima di Shanti darma peserta bersama-sama merefleksikan proses yang sudah dilalui. Peserta juga bersepakat untuk terus memeilihara gerakan yang ada dengan memilih 4 presidium : Dicky dari Yogyakarta, Yoannes dari Malang, Pram dari Sragen, serta Busri dari Pamekasan. Sebagai nama angkatan dipilihlah nama Tretan Pancasila. Tretan sendiri berarti saudara dalam bahasa Madura. Tretan Pancasila berarti Saudara Pancasila, bagaimana kita semua disatukan sebagai satu saudara dalam kobar nyala keindonesiaan dan nilai-nilai Pancasila. Acara ditutup dengan berefleksi bersama peserta dan panitia, penyerahan piagam kepesertaan oleh Romo Endra Wijayanta selaku ketua Komisi KKPKC KAS. Di ujung perjumpaan, kita semua berdiri dan sebuah menyanyikan lagu lama Iwan Fals dan Sawung Jabo yang bertutur tentang sharing kehidupan, berbagi keindonesiaan :

Kini kami berkumpul

Esok kami berpencar

Berbicara tentang kehidupan

Berbicara tentang kebudayaan

Berbicara tentang ombak lautan

Berbicara tentang bintang di langit

Kami berbicara tentang Tuhan

Berbicara tentang kesejatian

Tentang apa saja…

(Lingkaran-Iwan Fals & Sawung Jabo)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *