Menurut riset data dari Dirjen Pengelolaan Sampah Limbah dan B3 Kementerian Lingkungan Hidup, jumlah sampah di Indonesia pada tahun 2019 mencapai 68 juta ton dan diantaranya 9,52 juta ton sampah plastik. Menjadi bentuk keprihatinan bagi kita sendiri ketika plastik mempunyai banyak manfaat, tetapi sampah dari plastik itu sendiri sudah tidak dapat ditolerir lagi.

Mgr. Robertus Rubiyatmoko selaku Uskup Agung Keuskupan Agung Semarang dalam Surat Gembala Pra Paskah 2019 mengajak umat untuk melindungi tanah dari sampah plastik. Dalam Surat Gembala tersebut, Uskup Agung Keuskupan Agung Semarang ini yang akrab dipanggil Mgr. Rubi menyatakan “Gerakan berbagi berkat senantiasa dapat kita lakukan tidak hanya kepada sesama manusia, namun juga kepada alam lingkungan. Hal ini dapat kita wujudkan, misalnya dengan ngopèni (merawat) dan melindungi tanah dari pencemaran sampah plastik. Sudah saatnya kita membersihkan tanah dari sampah plastik ini dengan mengurangi penggunaan plastik dan tidak membuang sampah plastik secara sembarangan”, berkaitan dengan hal tersebut KKPKC-KAS sebagai komisi yang juga mempunyai fokus terhadap lingkungan hidup ikut menggaungkan apa yang telah disampaikan oleh Mgr. Rubi.

Pada hari Rabu, 21 Agustus 2019, pukul 18.00 WIB bertempat di Dinamika Edukasi Dasar, KKPKC-KAS mengadakan diskusi tentang penanggulangan dan pemanfaatan sampah plastik. Diskusi ini mendatangkan pemantik dari Rakyat Peduli Lingkungan (Rapel) yaitu Yudho Endrajo dan Taufik, serta Sylvia Christyanti dari Komunitas Zero Waste Nusantara. Diskusi ini dihadiri oleh 21 orang yang mana tiap orang ini juga mempunyai keprihatinan yang sama mengenai sampah plastik.

“Kita harus hidup minim sampah demi kemuliaan ciptaan Tuhan dengan meminimalisir sistem linear. Gerakan kami lebih mengelola plastik, penggunaannya bagaimana, ketika sudah tidak dapat digunakan lagi bagaimana agar tidak merugikan makhluk hidup?”, terang Sylvia.

Sylvia juga menambahkan pada dasarnya gereja juga bisa ikut serta dalam hal pengurangan pemakaian plastik.

“Gereja bisa turut serta dari beralihlah menggunakan benda-benda yang bisa dipakai ulang, dan berhenti menggunakan benda-benda plastik sekali pakai. Benda yang bisa dipakai ulang contohnya tas kain, wadah/box makanan, botol minum/tumbler. Perayaan-perayaan diusahakan tidak menghasilkan sampah, menghentikan kegiatan lepas balon/lampion di acara-acara gereja. Pemakaian kembali dekorasi perayaan natal/paskah atau pemakaian bahan-bahan alami yang ramah lingkungan. Stop air kemasan! Pertemuan lingkungan juga diusahakan makanan tidak dalam bentuk kemasan. Pohon natal juga bisa dibuat dari botol-botol bekas.”

Diskusi berjalan dengan sangat alot, banyak pemikiran-pemikiran yang disampaikan, bahkan ada salah satu peserta diskusi yang membawa hasil karya yang ia buat dari sampah plastik. Pria itu bernama Kris berasal dari Salatiga, Ia ikut serta dalam diskusi karena tertarik dengan pembahasan yang dibawa.

“Sampah di Indonesia ini hanya dipindah, dari rumah ke TPS, dari TPS ke TPA, di TPA tumpukan gunung sampah, macam-macam sampah. Saya tertarik dengan barang subtitusi, kita kerahkan teman-teman untuk membuat sedotan dari bamboo, bungkus kopi diolah menjadi tas untuk tumbler, peci yang dibuat dari bibirnya aqua gelas, pengelolaan sampah berbasis masyarakat, tas karung, gerakan ekologi lebih bagus diarahkan ke kreatifitas”, terang Kris sambil mengkritisi pengelolaan sampah di TPS dan TPA.

Diskusi ini merupakan langkah awal dari KKPKC-KAS dalam penanggulangan dan pemanfaatan sampah plastik. Tentu saja masih banyak yang harus dipersiapkan serta dilakukan oleh KKPKC-KAS untuk mengurangi sampah plastik. KKPKC-KAS juga turut mengajak para pembaca untuk mulai mengurangi penggunaan sampah plastik. (NC)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *