Temu KKP-PMP Regio Jawa di Stasi Gabus dan Desa Wukirsari, Pati, Jawa Tengah

Sore itu, Kapel St. Maria Anunciata Gabus, sekitar12 km dari Pati nampak begitu ramai. Suara kentongan ditabuh bertalu-talu terdengar dari pelataran Gereja sederhana itu. Paduan suara umat nampak menyanyi dengan penuh semangat menyambut kami yang dibantu petugas polsek menyeberangi jalan Tlogo Ayu-Gabus. Sekitar 50 umat stasi secara khusus berkumpul dan menyambut  para Romo, Bruder, Suster, dan awam pegiat komisi keadilan perdamaian-pastoral migran dan perantau dari berbagai keuskupan dan kongregasi se-Regio Jawa. Kami, yang terbiasa berkumpul dengan santai dan sederhana ini, tiba-tiba merasa menjadi “raja”.

Setelah perjalanan panjang dari berbagai kota di Jawa (karena hampir semua rombongan membawa mobil dari kota mereka masing-masing), rehat dan sarapan di Susteran OSF di Gedang Anak pada Senin pagi, 21 Oktober 2019, serta setelah transit di rumah Bapak Wid, ketua stasi Gabus, kami pun memulai proses Live In dan Rekoleksi KKP PMP Regio Jawa pada hari 21-25 Oktober 2019.

Setelah penyambutan yang meriah oleh segenap warga Stasi Gabus, kami memulai kegiatan Regio dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Romo Agis, O.Carm, Romo Eko Aldi, O. Carm, dan Romo Abi. Setelah ucapan selamat datang dari perwakilan Dewan Paroki Pati dan pak Wid selaku  ketua stasi dan ketua panitia lokal, acara dilanjutkan makan malam dan pembagian peserta ke rumah umat dan warga. Peserta dibagi ke dalam dua kelompok besar, mereka yang tinggal bersama umat di sekitar stasi Gabus, dan mereka yang tinggal bersama warga di daerah sekitar Wukirsari, sebuah perbukitan sekitar 15 km dari Gabus.  Secara tidak resmi, kami membagi diri ke dalam live in ‘pastoral’ untuk menyapa keluarga-keluarga Katolik di stasi Gabus, serta kami yang tinggal bersama masyarakat umum untuk mengenali tantangan keadilan dan perdamaian yang mereka hadapi.

Dua hari bersama masyarakat mengantar para peserta ke berbagai pengalaman yang secara informal disharingkan bersama dengan seluruh warga stasi Gabus dan masyarakat pada malam penarikan, 23 Oktober 2019 di ruang pertemuan Stasi Gabus.

Secara umum para peserta yang tinggal bersama umat di sekitar stasi Gabus berjumpa dengan realitas keseharian umat Katolik di stasi di sebelah selatan kota Pati ini. Umat dihadapkan pada tantangan Gereja di kota kecil dan pedesaan pada umumnya : umat yang menua karena migrasi pendidikan dan pekerjaan, kondisi ekonomi yang relatif lebih ‘mapan’, serta kehausan religius yang mendalam. kehadiran para Romo, Bruder, Suster, dan aktivis awam dari berbagai kota menjadi penghiburan sejenak bagi umat Stasi Gabus.

Di sisi lain, mereka yang tinggal di Desa Wukirsari dan sekitarnya, menemukan realitas yang sama sekali berbeda. Terletak 15 kilometer di selatan Gabus, atau kira-kira 26 km di selatan Pati, Wukirsari adalah kawasan perbukitan jati dengan kawasan pemukiman warga yang seakan menyisip di tengah-tengahnya. Terdiri dari tiga padukuhan , sebagian dari warga desa ini mengalami kekurangan air yang cukup parah. Program pamsimas warga tidak berjalan dengan baik dan diduga mengalami salah pengelolaan dan penyalahgunaan. Akibatnya ratusan warga mengalami kekeringan. Antrian di salah satu mata air bahkan berlangsung nyaris tanpa henti mulai dari dini hari hingga tengah malam.

Dengan membawa bekal kegelisahan inilah, pada 23 Oktober malam, kami para peserta berpamitan dengan segenap umat Stasi Gabus dan perwakilan warga Wukirsari. Sebelas mobil pun meuncur beriringan membelah malam menuju Rumah Retret Panjer Enjing milik suster-suster AK di Ungaran.

Bersama Dr. Kris Purwono Cahyadi, SJ kami selanjutnya mengolah buah-buah pengalaman lewat refleksi bersama pada tanggal 24 Oktober 2019. Romo Kris Purwono menguraikan tantangan ekologis dan panggilan Bapa Suci secara khusus lewat ensiklik Laudato Si.

Diskusi kami lanjutkan dengan laporan pengurus regio serta sharing dari Romo Endra Wijayanta, Pr  Ketua KKPKC KAS, selaku tuan rumah rekoleksi Regio Jawa kali ini. Romo Endra Wijayanta membagikan pergulatan melawan intoleransi yang mengeras di KAS dan sekitarnya.  Acara dilanjutkan dengan perayaan ekaristi bersama Bapa Uskup Mgr. Robertus Rubiyatmoko, Pr di Kapel Keuskupan Agung Semarang, dilanjutkan dengan makan malam bersama.

Pagi hari, 25 Oktober 2019 ditutup dengan misa pagi, satu demi satu kami meninggalkan rumah retret menuju kota kami masing-masing.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *