Perlahan, satu demi satu para peserta memasuki arena bergaya sesuai dengan peran dan mengambil posisi yang mereka mainkan : mereka yang berperan sebagai pelacur melangkah genit namun segera mengambil tempat jauh di belakang, seakan menyembunyikan diri dari publik; mereka yang berperan sebagai presiden melangkah gagah dan berdiri di depan; seorang petani pura-pura membawa cangkul, memasuki ruangan dari pinggiran untuk kemudian duduk lesehan di sudut panggung. Sore itu, tigapuluhan peserta bermain peran sesuai dengan profesi yang secara acak mereka dapatkan.

Tentu saja, semua bergerak sesuai stereotype yang jauh tertanam di bawah sadar mereka. Tentu saja, sebagian dari mereka canggung dan kaku menjalankan perannya, namun perlahan begitu mereka berhasil menemukan dan ‘menghuni’ stereotype mereka atas profesi yang mereka dapatkan, mereka mulai merasa nyaman dan dengan cepat menjalankan identitas yang mereka dapatkan. Stereotype itu menjadi semacam peta batin yang membentuk orientasi perilaku, ruang, dan relasi sosial di tengah mereka, dan dinamika yang sederhana mengantar para peserta memahami bentuk-bentuk relasi kekuasaan, ketidakadilan, kepatuhan yang diam-diam berkembang di tengah masyarakat mereka.

Tiga puluh peserta dari berbagai paroki dan latar belakang tersebut sedang mengikuti Pelatihan Paralegal yang sedang diselenggarakan oleh Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan Kevikepan Surakarta yang mengambil tempat di Wisma el Bethel, Karanganyar, 11-13 Oktober 2019.

Acara yang berlangsung dua hari tiga malam ini bertujuan menyiapkan dan memperkenalkan para aktivis Katolik muda dengan pemahaman dasar paralegal serta upaya-upaya perjuangan keadilan dan perdamaian secara kongkrit di tengah masyarakat.

Acara tiga hari tersebut dibuka oleh Mas selaku ketua KKPKC Kevikepan Surakarta. Romo Endra wijayanta, Pr, Ketua Komisi KPKC Keuskupan Agung Semarang mensharingkan spiritualitas yang ditemukan dalam gerak langkah para pekerja keadilan dan perdamaian KAS, bahwa penyertaan dan pertolongan Allah selalu hadir di saat-saat tersulit dalam karya pendampingan yang dilakukan komisi ini.

Di dinginnya udara pagi Karanganyar pegunungan, sebuah misa pagi yang indah dipersembahkan Romo Endra Wijayanta, Pr di rumah doa Wisma el Bethel, sebuah bangunan unik yang mengingatkan kita pada gereja kecil di pedesaan Eropa.

Selepas sarapan pagi, mas Agung Budyawan mengajak peserta berlatih melakukan pengamatan kritis terhadap fenomena sosial melalui materi analisis sosial. Berdasar pada kesadaran kritis inilah peserta diperkenalkan pada materi dasar-dasar paralegal yang lebih menitikberatkan pada pendampingan dan pengorganisasian masyarakat sebagai kunci perubahan sosial. Materi ini dibawakan oleh C. Lilik K. P.. Mas Bambang Wahyu Sumirat selanjutnya memperkaya peserta dengan Dasar-dasar Advokasi yang dilanjutkan oleh mas Kusuma Aji, masih dengan pendalaman materi yang sama. Mas Aji juga memberikan masukan-masukan kongkrit pada problem-problem hukum yang umum dihadapi oleh paroki-paroki dan bagaimana memperjuangkannya.

Bagaimana membawa pesan perubahan itu ke tengah basis komunita dan gereja lokal masing-masing ? itulah gagasan yang dibawa oleh Lilik krismantoro, dengan Metode Menggerakkan masyarakat (CO) dan Membangun komunitas KKPKC Paroki. Seiring dengan semakin antusiasnya peserta, acara malam itu dilanjutkan dengan dipandu mas Daniel mendiskusikan apa langkah ke depan yang bisa dilakukan KKPKC Kevikepan Surakarta agar persoalan-persoalan keadilan dan perdamaian dapat teratasi.

Minggu pagi, mas kembali menggarisbawahi apa itu Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan Kevikepan Surakarta. Peserta selanjutnya diajak oleh mas Rio Mayrolla untuk secara singkat belajar apa itu hoax dan literasi digital. Isu ini cukup penting bagi kerja-kerja KKPKC mengingat berulangkali penyebarluasan hoaks di seputar sebuah kasus-lah yang seringkali memperbesar dan memperumit persoalan yang sesungguhnya.

Sesi-sesi di hari ketiga pun diakhiri dengan sharing dan umpan balik oleh seluruh peserta dengan dipandu oleh Lilik. Sharing ini berusaha memperdalam sekaligus menemukan persoalan-persoalan riil yang ada di lapangan. Lewat sharing ini terungkap betapa kayanya pengalaman karya  yang dilakukan para peserta mulai dari pendampingan anak-anak pengidap HIV, pendamping difabel, hingga pagiat gerakan sampah.Seluruh rangkaian pelatihan yang berlangsung selama tiga hari itu pun ditutup dengan Perayaan ekaristi yang dipersembahkan oleh Romo Budi Haryono selaku Romo Vikaris Episcopalis Kevikepan Surakarta.  

Pukul 14.00 WIB seluruh rangkaian acara pun berakhir. Segenap peserta dan panitia satu demi satu pulang ke rumah masing-masing. Bagi kami para pegiat komisi keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan di lingkup Keuskupan Agung Semarang pelatihan ini menjadi semacam model pelatihan-pelatihan paralegal yang akan menjadi fokus karya di tahun 2020 mendatang. Senja mulai turun ketika mobil yang kami tumpangi bergerak perlahan menuju kota Yogyakarta. Membangun gerakan paralegal di tingkat basis demi membangun ketahanan dan daya umat di tingkat paroki dan stasi, menjadi tugas besar yang menanti.

(CL)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *