Pada Jumat, 22 November 2019, pukul: 17.00 WIB di GKS Widya Mandala Kotabaru diadakan ibadah oikumene mahasiswa Papua yang kuliah di Jogja. Kurang lebih diiukti 60 peserta dari berbagai kampus. Acara ini merupakan kerjasama KKPKC-KAS (Komisi Keadilan Perdamaian & Keutuhan Ciptaan Keuskupan Agung Semarang) dengan Komapa UAJY serta Formapa UKDW.

Acara ini dalam bentuk gereja menyapa teman-teman dari Papua yang study di Jogja. Petrus Taka sebagai ketua panitia yang merupakan volunteer dari KKPKC menjelaskan mengenai proses sampai terbentuknya acara tersebut, dibantu Mas Paijo (Volunter KKPKC juga) dan support penuh Rm. FX. Endra Wijayanta, Pr yang merupakan Ketua KKPKC-KAS. Diawali dari rapat-rapat baik di DED Kuwera maupun di Wisma Margasiswa. Konsep dari acara ini adalah keakraban dimana diadakan masak bersama dari pagi hari yang berlangsung di Wisma Margasiswa. Baik dari teman Komapa maupun Formapa bekerja sama memasak masakan khas dari Papua. Setelah masak memasak dilanjut ibadah oikumene yang dipimpin oleh Pendeta Beni (yang merupakan pendeta berasal dari Papua) yang ditemani juga oleh Rm.Endra, kemudian dilanjut makan dan menari bernyanyi bersama di GKS Widya Mandala

Menu masakan yang panitia buat adalah kue lontar, petatas, sayur & ayam goreng. Rupanya kue lontar adalah semacam kue pie susu dalam ukuran jumbo dan petatas adalah ketela rebus. Proses diawali dengan pembagian tugas kemudian dilanjut belanja di pasar.

Tiap Panitia juga dibagi mengenai siapa saja yang membawa alat masaknya. Mulai dari pisau, baskom, dandang, kompor, wajan, sotil, dan sebagianya. Di Wisma Margasiswa kami juga didukung oleh Rm. Efendi yang merupakan romo wisma, meskipun pada acara romo tidak bisa hadir karena berbarengan dengan acara beliau.

Kami memasak di dapur Wisma Margasiswa. Semalam sebelumnya kami sudah mengupas ketela baik ketela cilembu maupun ketela pohon sebanyak 30 kilo dan juga mencicil mengupas bumbu-bumbu. Setelah dikupas ketela direndam. Setelah semuanya dikerjakan, panitia melakukan briefing, mengecak kesipakan untuk acara keesokan harinya, dimana mulai dari humas melaporkan progress tentang peserta, dari dekorasi melaporkan perkembangan pembuatan sepanduk selamat datang dan juga backdrop acara, dari seksi acara melaporkan teknis acara mulai dari rundown dan pembagian petugas acara, dari perlengkapan dan juga konsumsi melaporkan mengenai kesiapan untuk konsumsi yaitu dengan masak-memasak, dari seksi liturgi menyampaikan mengenai progress mengontak Pendeta. Sementara teman-teman yang lain di kos membuat kue lontar. Komapa membuat 10 kue lontar dan Formapa membuat 10 kue lontar juga. Kue lontar harus dimasukkan kulkas agar tetap enak & membawanya pun harus ekstra hati-hati.

Hari itu sedikit gerimis, setelah merebus ketela, kami memetik sayur memisahkan daun sayur dengan batangnya dan sebagian ada yang mulai menggoreng ayam. Untuk ayam dibelikan 10 ekor kemudian dipotong kecil-kecil. Sebelum digoreng ayam diungkep agar bumbu merasuk. Untuk nasi dan teh dibuatkan orang lain. Rencana untuk makan karena mengurangi sampah plastic, yaitu dengan memakai daun pisang untuk alasnya, untuk gelasnya memakai gelas kertas. Untuk tempat kue lontarnya juga menggunakan piring kertas/ piring ulang tahun.

Setelah waktu menunjukkan pukul 16.30, maka seksi konsumsi dibantu perlengkapan (transportasi), mengangkut makanan yang sudah masak dari Wisma Margasiswa menuju GKS.  Peserta mulai berdatangan, disambut oleh panitia dan diiringi lantunan music akustik dengan gitar & kajon oleh kawan Leon dan temannya. Setelah pendeta datang, begitu juga romo datang, maka ibadat dimulai, dipandu kawan Justin dan teman-temanya koor. Dalam khotbahnya pendeta Beni mengajak mahasiswa-mahasiswa Papua untuk tetap ingat akan bahasa daerahnya, jangan sampe budaya itu luntur. Ia juga menyampaikan bahwa Indonesia tercipta karena keberagamannya. Tanpa Papua Indonesia akan jadi Indone saja. Pelangi itu indah karena terdiri beragam warna. Jika Indonesia hanya diisi oleh orang kulit putih maka ia tidak akan menarik. Pendeta juga mengucapkan terima kasih kepada panitia yang telah berkenan mengundangnya untuk mengisi, terumata kepada KKPKC.

Dalam ibadat juga ada persembahan. Puji Tuhan persembahan mendapat kurang lebih 200 ribu. Selesai ibadat, diisi dengan MC oleh kawan Victoria dan temannya. Diawali games untuk mengakrabkan, diselingi lagu. Sambil menunggu seksi konsumsi/ panitia menyiapkan makanan untuk santap bersama, diisi dengan sambutan ketua panitia. Taka menyampaikan ucapan terima kasih atas partisipasi teman-teman yang sudah berkenan datang. Dilanjut dengan kesan pesan perwakilan dari peseta. Tak lupa juga MC memperkenalkan juga pengurus dari Komapa dan Formapa.

Sampailah pada makan bersama dengan alas daun pisang, sebelumnya kami cuci tangan terlebih dahulu. Karena ada juga peserta yang bukan berasal dari Papua, mereka sangat tertarik, karena ini merupakan pertama kalinya mereka makan bersama dengan alas daun pisang memanjang. Sambil makan semua bercerita dengan teman samping kiri, kanan, depannya. Suasana menjadi meriah.

Selesai makan setelah dirasa makanan sudah turun, kami semua menari bernyanyi, tak lupa juga foto bersama. Selesai acara kami berbenah. Rupanya sisa makanan masih ada karena target persiapan untuk 100 orang, maka panitia membungkus ketela rebus cilembu untuk dibagikan kepada masyarakat disekitar gedung GKS Widya Mandala Kotabaru terutama tukang becak.

Terakhir, pesan dari acara ini adalah bahwa gereja menyapa teman-teman mahasiswa papua sehingga mereka merasa punya saudara di tanah perantauan. Mereka punya tempat untuk bercerita, bekerja sama dan saling belajar. Demikian

Oleh: Stepanus Tri Hartanto

Volunter KKPKC-KAS

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *