Cyprianus Lilik K. P.

Menjadi Orang Katolik yang Transformatif, itulah seruan yang diangkat Gereja Keuskupan Agung Semarang di tahun 2020 mendatang. Seruan ini menjadi tema program KAS, diangkat dari Rencana Induk Keuskupan Agung Semarang. Tahun 2020 secara khusus juga bersamaan dengan Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia, 80 tahun Gereja Keuskupan Agung Semarang (di ytahun 1940 vikariat apostolik Semarang didirikan), dan pada tingkat kontinen, tepat 50 tahun Konferensi Uskup-uskup Asia (Federation Asian Bishops Conference).

Tema transformatif menjadi sangat penting. Pertama, mengingat tantangan keindonesiaan kontemporer berupa melemahnya semangat kebangsaan, toleransi, dan nilai-nilai pancasila jelas-jelas membutuhkan hadirnya pribadi dan komunitas Katolik yang mampu berkontribusi kongkrit dan sungguh memecahkan masalah. Kedua, pergeseran lingkungan sosial akibat gelombang inovasi teknologi telah membawa peradaban memasuki era Industri 4.0 yang mau tidak mau menuntut adaptasi dan transformasi umat beriman agar mampu meresponnya, secara misioner (mengemban nilai pemanusiaan) maupun visioner (menjangkau realitas masa depan).

Tentu saja, gagasan orang Katolik yang transformatif bermakna kedua-duanya, baik pada tingkat komunitas maupun pribadi umat beriman. Artinya, ketangguhan dan kemandirian baik sebagai subyek maupun dalam karya, kolaborasi, dan pemahaman akan hak dan martabat dasar kehidupan harus menjadi bagian baik komunitas maupun pribadi Katolik.

Transformatif pada tingkat pribadi dan pada tingkat komunitas tentu saja membutuhkan strategi berbeda dalam pengembangan pola-pola pastoral. Pengembangan umat katolik menjadi pribadi yang transformatif menuntut pola pastoral yang mendorong umat beriman ke dua sisi : menyadari akar hakikat dasarnya sebagai umat Allah, serta menyadari tugas perutusan dari Allah baginya di muka bumi. Pastoral harus mampu juga mengembangkan dalam diri umat beriman, kesadaran dan disposisi diri yang jelas, serta kemampuan orang tersebut dalam mengembangkan diri dan melengkapi dirinya dengan instrumen teknis untuk mengembangkan diri demi mewujudkan panggilan hakiki hidupnya.

Sementara itu, komunitas yang transformatif tidak hanya membutuhkan pengetahuan dan kemampuan mengalang perubahan pada tingkat pribadi, melainkan juga tata organisasi dan praktek melakukan perubahan yang matang Gereja sebagai komunitas juga harus melengkapi dirinya dengan wawasan dan sarana sosial serta teknis yang mumpuni untuk menjelmakan transformasi sosial yang ideal di tengah masyarakat.

empat aspek  transformatif

Menjadi transformatif, berarti umat beriman bukan hanya memiliki kesadaran diri sebagai iman Katolik, tetapi juga keberdayaan dan kemandirian. Tidak terhenti sampai di situ dibutuhkan kepekaan dan hati nurani yang menghubungkan dan menggerakkan keberdayaan pribadi umat Katolik dengan panggilan untuk mengubah dan menjadikan dunia sekitarnya menjadi lebih baik. Menjadi subyek sejarah, keterhubungan dan kolaborasi, fleksibilitas dalam adaptasi, serta mampu menggalang perubahan yang digerakkan oleh nilai/keutamaan tertentu adalah inti dari pribadi dan komunitas transformatif.

Menjadi subyek sejarah,  berarti pribadi dan komunitas Katolik harus menyadari hakikat dirinya sebagai orang katolik, apa yang ia imani, siapa dirinya di hadapan kemanusiaan dan Allah serta apa tugas panggilan dan perutusannya di tengah dunia. Disposisi diri yang jelas memberi pa

Keterhubungan dan kolaborasi. Kemampuan membuka diri adalah kunci. Kunci dalam beradaptasi pada perubahan dan kunci menjadi penggalang-perintis perubahan. Keterhubungan menandai keberakaran dan ketidaktercerabutan pribadi dan komunitas Katolik dari dunia sekitarnya, kemampuan mereka memahami nalar, pengetahuan, dan gerak hati publik. Kolaborasi berkisah tentang kemampuan bergerak bersama sebagai satu kesatuan dan satu jaringan untuk menyelesaikan satu persoalan sosial. Keterhubungan membutuhkan pengenalan dan dialog kehidupan terus-menerus, sementara kolaborasi membutuhkan ‘learning” lewat praktek bertindak bersama-sama.

Fleksibilitas dalam adaptasi. Ada empat semangat dasar yang harus dimiliki agar pribadi dan komunitas umat beriman memiliki fleksibilitas beradaptasi : kerendahan hati, keterbukaan, semangat belajar hal-hal baru, serta daya eksplorasi dan eksperimentasi. Hal-hal ini akan menyiapkan seseorang atau komunitas untuk menghadapi perubahan, atau bahkan membuat perubahan. Pengalaman di lapangan akan melengkapi pribadi dan komunitas Katolik dengan kapasitas untuk merespon ketidakterdugaan, menanggapi situasi-situasi baru yang bahkan belum pernah dialami sebelumnya. belajar dari pengalaman Santo Fransiscus Xaverius yang mampu mengembangkan kapasitas memasuki ketidakterdugaan karya misinya di India dan seluruh Asia, membangun kemampuan dan keluwesan beradaptasi akan memberi kita pijakan yang kokoh dalam mengembangkan karya, memperkuat dan memperkaya kemampuan organisasi, melihat peluang-peluang baru, hingga mengembangkan misi ke arah yang sama sekali baru namun benar-benar menjawab kebutuhan di lapangan.

Menggalang perubahan yang digerakkan nilai/keutamaan. Berdaya untuk membuat perubahan menjadi lebih baik, lebih manusiawi, itulah inti dari pribadi atau komunitas transformatif. Di tingkat inilah kesadaran diri berkembang ke luar, menjadi kontribusi (dan bukan pentas atau promosi !). Di dataran inilah keterhubungan bergerak lebih jauh dari sekedar komunikasi antar manusia menjadi pemberdayaan atau perjuangan mengangkat martabat kehidupan. Di tahap inilah daya adaptasi menjadi daya belajar dan mengembangkan diri terus-menerus, untuk sebuah tujuan moral.

Pendekatan 3 R RIKAS

Kunci menjadi umat beriman yang transformatif barangkali terletak di dalam pendekatan dasar yang dipergunakan menyusun RIKAS itu sendiri : Pengembangan Masyarakat Integratif yang terdiri dari 3 kata bkunci : Resiliency (ketangguhan, kemandirian), Respects (pengembangan jaringan), dan Rights based (pendekatan berbasis hak) (lihat RIKAS halaman 19). sebagai pendekatan ketiganya membentuk semangat kemandirian, kolaborasi dan keterhubungan, serta pemahaman dasar tentang hak dan martabat kehidupan yang hakiki.

Menjadi Orang Katolik yang Transformatif dalam perspektif KPKC

Tentu saja, gagasan “menjadi orang Katolik yang transformatif” sangat dekat dengan KPKC, karena ia secara lugas menyatakan panggilan orang Katolik untuk menjadi pribadi dan komunitas profetik (bertindak kenabian) bagi dunia sekitarnya. Inti dari Gereja yang berdaya transformatif adalah Gereja yang mampu mengemban tugas profetik bagi dunia sekitarnya.

Menjadi orang Katolik yang transformatif menjadikan umat beriman tiak hanya sekedar reaksioner dan menjadi korban perubahan dari lingkungannya, namun secara proaktif dan terorganisir memproduksi karya-karya dan realitas-realitas positif yang mampu meluhurkan martabat kehidupan sesamanya ciptaan. Hanya dalam kesediaan menjadi proaktif inilah keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan mampu berkembang lebih cepat dan mengatasi tantangan degenerasi hidup bersama, ketidakadilan, serta kerusakan lingkungan. Sederhananya, demi masa depan dunia yang lebih baik, umat beriman wajib menjadi proaktif, bergerak lebih cepat dari mesin-mesin dehumanisasi yang terus bekerja tanpa henti ditopang sistem politik, sosial,  ekonomi, dan teknologi yang tidak berkeadilan. Hanya dengan cara ini kita semua mampu memasuki zona transformatif. Zona perubahan menjadi lebih baik.

Yogyakarta, 30 November 2019

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *