Ketika solusi pengobatan belum ditemukan, demikian pula daya topang fasilitas kesehatan publik sangat terbatas, membangun masyarakat yang berdisiplin menjalankan aturan-aturan kesehatan yang didesain secara epidemiologis mengamankan populasi adalah solusi yang terbaik.

Dalam postingan sebelumnya kita telah bersama-sama mencermati bagaimana membangun ketahanan terhadap Covid-19 pada tingkat pribadi dan keluarga. Dua lingkaran ini menjadi inti dari kemampuan masyarakat kita merespon penyebaran virus Corona di masyarakat. Lingkaran-lingkaran ketahanan ini saling menopang satu sama lain. Lingkaran yang lebih luar menjadi pendukung lingkaran ketahanan di dalamnya. Ketahanan pada tingkat pribadi tidak dapat terwujud tanpa dukungan ketahanan pada tingkat keluarga. Lebih luas lagi, upaya-upaya pada tingkat pribadi dan keluarga hanya dapat berjalan baik apabila tidak didukung langkah-langkah di lingkaran sosial yang lebih luas.

Sebaliknya, ketahanan dan kesadaran di tingkat individulah yang menopang ketahanan pada lingkaran sosial yang lebih luas : kedisiplinan individual, keluarga yang berdaya, adalah penopang yang sangat baik bagi terciptanya masyarakat yang tahan terhadap Covid-19.

Pada bagian ini kita akan mencermati hal-hal apa saja yang bisa kita lakukan untuk menciptakan publik yang aman dan berdaya tahan terhadap Covid-19 dan sekaligus pula menopang lingkaran-lingkaran ketahahan Covid-19.

Ketahanan Komunitas warga (RT/RW)

Ketahanan komunitas terhadap Covid-19 adalah totalitas paduan dari terpenuhinya kondisi-kondisi  berikut di tengah lingkungan pertetanggaan kita :

  1. Adanya kesadaran komunitas akan Covid-19, yang ditopang tentu saja oleh kesadaran dan kedisiplinan individual dan keluarga dalam menjalankan protokol-protokol kesehatan melawan Covid-19.
  2. point 1 di atas tentu membutuhkan pendidikan warga akan Covid-19 dan dukungan bagi kesiapsiagaan setiap keluarga/pribadi untuk menghadapinya, misalnya dalam pengadaan sarana kesehatan, dukungan informasi, dan lain-lain.
  3. Adanya aturan bersama/protokol komunitas untuk melawan Covid-19 yang disepakati, dipahami, dilaksanakan bersama, dan terkoordinasi dengan baik.
  4. Adanya satgas siaga Covid-19 di tingkat komunitas yang memahami betul apa itu Covid-19, memahami tugas serta tanggung jawabnya, dan terkoordinasi dengan baik
  5. Adanya rencana penanganan Covid-19 di tingkat komunitas yang didasarkan pada pengetahuan dan protokol-rotokol yang benar, dan dipahami oleh seluruh satgas siaga Covid-19, dan masyarakat pada umumnya.
  6. Adanya lumbung komunitas yang didasarkan atas analisis kebutuhan, dukungan partisipasi serta sistem pengumpulan-penyimpanan-penyaluran yang jelas.
  7. sistem komunikasi komunal antar warga yang terpelihara dengan baik dengan memanfaatkan sarana-sarana media komunikasi baik daring (online) maupun luring (offline).
  8. adanya sistem pendanaan yang jelas untuk menopang rencana penanganan Covid-19 dan mendukung kinerja satgas siaga Covid-19, secara khusus melalui dukungan alokasi dana desa yang memadai untuk itu.
  9. adanya kesiapan mengantisipasi kasus-kasus khusus yang mungkin terjadi di masa Covid-19 : dukungan pada OPD dan PDP serta keluarga mereka, dukungan terhadap tenaga kesehatan, antisipasi pendatang/pemudik dari luar komunitas, dan lain-lain.
  10. Adanya upaya (yang selaras dengan peraturan yang lebih tinggi dan menghormati pribadi-pribadi di masyarakat) yang disepakati bersama untuk membangun dan membiasakan pembatasan dan penjarakan sosial di tingkat lokal

Ketahanan Masyarakat

Ketahanan masyarakat menunjuk pada kemampuan populasi yang tinggal di sebuah daerah tertentu untuk mengurangi sebaik mungkin penyebaran Covid-19 di tengah-tengah mereka, serta bertahan terhadap dampak-dampak kesehatan dan sosial yang mengikutinya. Untuk mewujudkan hal tersebut dibutuhkan hal-hal berikut :

  1. Adanya sistem kesehatan yang memadai untuk menghadapi Covid-19. Sistem yang memadai ini mencakup ketersediaan tenaga kesehatan, sarana dan prasarana kesehatan, logistik, hingga kebijakan kesehatan yang mampu mengantisipasi dan mengatasi Covid-19.
  2. Adanya upaya penyadaran dan pendidikan masyarakat secara meluas lewat beragam sarana komunikasi publik yang ada. Dalam hal ini informasi terkait COvid-19 harus hadir sedekat mungkin dengan level masyarakat yang terkecil.
  3. Sistem informasi publik tentang Covid-19 juga sangat dibutuhkan guna mengkomunikasikan dengan seluruh warga tentang kemajuan dan kesulitan menghadapi Covid-19, situasi kedaruratan aktual, serta meminimalkan penyebaran hoaks di tengah masyarakat.
  4. Adanya ketersediaan, sistem distribusi dan monitoring logistik sehari-hari warga yang baik didasarkan pada analisis kebutuhan yang ada, dengan tetap memanfaatkan potensi masyarakat yang ada. Adanya jaminan ini memastikan individu, keluarga, dan komunitas mampu memelihara standar-standar kesehatan dan ketahanan mereka terhadap Covid-19.
  5. Hadirnya gugus tugas Covid-19 yang sigap yang melibatkan para pengambil keputusan, institusi-institusi publik, pihak swasta, serta relawan secara optimal, sehingga upaya penanganan Covid-19 menjadi upaya bersama dan dilakukan secara sinergis oleh para pihak yang terkait. Kesigapan juga harus ditunjukkan oleh elemen-elemen gugus tugas karena efektivitas kinerja mereka sangat tergantung pada kemampuan gugus tugas bekerja secara sistemik, berkolaborasi dan bersinergi secara kuat dan tepat.
  6. infrastruktur dasar layanan publik yang terjamin harus dipersiapkan dengan baik. Dalam situasi pembatasan sosial mandiri oleh masyarakat maupun yang ditetapkan oleh pemerintah, infrastruktur dasar yang bebas dari gangguan sangat dibutuhkan. Ketersediaan air bersih, listrik, koneksi internet, telepon, dan kebutuhan vital lainnya sangat dibutuhkan untuk memerangi Covid-19.
  7. kebijakan yang tepat, tegas, terkomunikasikan, dan terlaksana dengan baik sangat dibutuhkan. Dalam hal ini kecepatan, ketepatan, dan sinergisitas kebijakan sangat dibutuhkan.
  8. koordinasi antar lembaga/organisasi Covid-19 harus terus-menerus dilakukan sehingga setiap elemen lembaga publik, swasta, maupun masyarakat dapat berbagi peran secara tepat sasaran.
  9. Adanya sistem perlindungan sosial ekonomi yang memadai sangat dibutuhkan terutama untuk menopang kelompok-kelompok yang paling rentan menghadapi krisis Covid-19. Para warga miskin, penyandang cacat, mereka yang menggantungkan dirinya pada penghasilan harian, para gelandangan, manula dan anak-anak, mereka yang tinggal di daerah slum adalah elemen-elemen masyarakat sangat rentan dan harus mendapat perhatian khusus.
  10. sinergi dengan berbagai pihak di lingkup yang lebih luas sangat dibutuhkan agar dapat saling membantu dalam pengetahuan dan pembelajaran bersama, praktik terbaik (best practices), dalam dukungan logistik, dan kolaborasi sumber daya yang lain yang sangat dibutuhkan untuk mengatasi Covid-19 dalam skala regional maupun global

Ibarat catenaccio dalam pertandingan sepakbola Italia, empat ketahanan ini, ketahanan pribadi, ketahanan keluarga, ketahanan komunitas, dan ketahanan masyarakat, adalah gerendel demi gerendel kunci untuk mengurung virus Korona dalam kesunyian, dan membiarkannya mati.

Kemampuan kita mengkonsolidasi diri untuk mewujudkan 4 ketahanan ini adalah kunci menjawab kapan pandemi ini akan berakhir. Akhir pandemi adalah target bergerak yang ditentukan oleh sejauh mana kita mampu membangun budaya dan tatanan hidup baru, yang bukan hanya mampu mambuat masyarakat kita mampu bertahan terhadap Covid-19

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *