WEBINAR LAUDATO SI KKPKC-KAS

Komisi Keadilan Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan KAS bekerjasama dengan Sisters of The Earth Community (Green Mountain Monastery), Kota Tanpa Sampah, dan Yayasan Benih Cetta Nusantara mengundang rekan-rekan semua untuk hadir pada webinar LAUDATO SI :: RECONNECTING : Manusia dan Bumi dalam kehidupan sehari-hariSabtu, 30 Mei 202, jam 19.00-21.00 WIB/20.00-22.00 WITA/21.00-23.00 WITmenggunakan aplikasi Zoom Narasumber : Spiritualitas Laudato SiSr. Amelia Hendani, SGMGreen Mountain Monastery, Grensboro, Vermont, USA Hidup minim sampah, untuk merawat bumiWilma ChrisantyKota Tanpa Sampah/Lab Tanya, Tangerang Konservasi alam melalui gerakan pangan lokalSerafina AdhitaYayasan Benih Cetta Nusantara, Yogyakarta Link pendaftaran : https://bit.ly/WebinarLaudatoSiatau WA 082135632002 (Cyprianus Lilik K....

Ekologi Integral dan Tujuh Tujuan Laudato Si

Pembangunan (pengembangan-terj Rm. Martin Harun, OFM)) dapat disebut otentik kalau ada jaminan untuk mewujudkan perbaikan secara keseluruhan dalam kualitas hidup manusia, LS 147 Sebagaimana cinta menjadi ikatan, hakikat sekaligus obat sosial yang kuat dalam relasi antarmanusia, demikian pula cinta menjadi pepulih dalam persaudaraan manusia atas alam. Melengkapi Laudato Si, Dicastery for Promoting Integral Human Development juga mencanangkan Laudato Si Goals, yakni serangkaian tujuan strategis yang ingin diwujudkan sebagai hasil kongkrit ensiklik tersebut. Tujuan tersebut dikembangkan dari konsep ekologi integral yang menjadi inti tanggapan Paus Fransiskus atas krisis lingkungan yang dihadapi. Kita akan menyelami gagasan dasar ekologi integral ini sebelum kemudian mendiskusikan tujuan-tujuan dasar Laudato Si. Ekologi Integral Dari 6...

Tahun Peringatan Khusus Laudato Si 2020-2021 Dan Platform Aksi Multiyear Laudato Si

Lima tahun yang lalu, Paus Fransiskus mengeluarkan ensiklik beliau yang kedua, yang mengingatkan dan menyerukan kepada kita semua panggilan untuk kembali merawat dan memulihkan bumi sebagai rumah kita bersama. Laudato Si adalah ensiklik besar yang menempatkan lingkungan hidup sebagai tantangan utamanya. Laudato Si adalah jawaban yang akan mewujud bila seluruh Gereja dan semua orang yang berkehendak baik bersedia terlibat dalam gerakan bersama memperjuangkan semangat ensiklik ini. Usia lima tahun Ensiklik Laudato Si bisa bermakna ganda, ia terlalu singkat untuk usia sebuah kebijakan mengakar dan membumi  di tengah tengah 1,3 milyar umat Katolik apalagi 7,6 milyar di dunia, sementara di sisi lain waktu lima tahun terlalu panjang untuk kerusakan alam yang berlangsung dengan cepatnya. Menyadari perlunya pembumian dan percepatan penerapan...

Beyond Laudato Si : Sketsa Historis Gerakan Lingkungan 1970-2020

Humanity was moving further into unsustainable territory. (Donella Meadows, et al.)[1] Sejak tahun 1970-an, kemampuan bumi untuk menopang kehidupan yang lestari sudah terlewati. Artinya, manusia menggunakan lebih dari kemampuan bumi untuk meregenerasi dirinya sendiri setiap tahunnya. Di Indonesia, batas ini juga sudah terlampaui pada 2003. Artinya, manusia saat ini selalu berutang kepada bumi untuk menopang pertumbuhan ekonomi, kebudayaan, dan cara hidupnya sehari-hari. Kemampuan alam dalam menopang kerakusan dan ambisi manusia sangatlah terbatas. Dan karena bahasa bumi tak lagi kita mengerti, maka manusia hanya bisa meraba-raba dari dampaknya. Penderitaan alam akhirnya menjadi penderitaan manusia juga. Dari sudut pandang pemerintah dan gerakan masyarakat sipil global, desakan untuk mengoreksi arah ekonomi dunia terdengar sangat...

Faith institutions call for a just recovery by divesting from fossil fuels

Pada 18 Mei 2020, Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan Keuskupan Agung Semarang mengambil bagian dalam seruan global lembaga-lembaga agama untuk divestasi dari bahan bakar fosil. Seruan ini diinisasi oleh Global Catholic Climate Movement (GCCM) dan dilakukan bersama 42 lembaga dari 14 negara di dunia, berikut pernyataan pers yang disampaikan secara kolektif : Faith institutions call for a just recovery by divesting from fossil fuels Bailouts and recovery packages must not empower polluters As major challenges for the global economy are predicted in the wake of the coronavirus pandemic, a diverse group of faith institutions is putting the call for a just economic recovery into practice. Today, 42 faith institutions from 14 countries announce their divestment from fossil fuels. This is the largest-ever joint announcement of...

Fase Penyebaran dan Penguatan Daerah Menghadapi Covid-19

Pada tulisan sebelumnya, kita sudah melihat betapa daerah dihadapkan pada tiga tantangan simultan menghadapi Covid-19 : ketersediaan fasilitas kesehatan di daerah, dilema tarik ulur antara faktor kesehatan dan ekonomi (serta kepentingan-kepentingan lain), serta pergeseran wacana publik ke pelonggaran protokol kesehatan, yang sejatinya belum waktunya untuk dilakukan di tingkat daerah. Kondisi ini memaksa kita untuk mau tidak mau kita harus mendorong percepatan kesiapsiagaan daerah, pengembangan desain skenario kebijakan penanganan Covid-19 yang menopang perimbangan faktor ekonomi dan kesehatan, serta keharusan terus-menerus mewartakan kedisiplinan publik untuk melawan arus wacana yang terjadi. Dalam praktek, di satu sisi kita berhadapan dengan kondisi riil keterbatasan sumber daya, kedisiplinan perilaku bahkan di antara aparatur dan para relawan...

Distribusi Sebaran Covid-19 dan Tegangan Kebijakan Pusat-Daerah

Disadari atau tidak, pandemi Covid-19 di Indonesia telah memasuki fase baru. Saat ini kita dihadapkan pada kurva penyebaran yang terus menanjak, momentum kedaruratan di tengah masyarakat seakan telah berlalu. Jalanan kembali ramai dan beragam aktivitas publik mulai muncul. Di tengah ancaman Covid-19 yang diyakini belum mencapai puncaknya,[1] mau tidak mau, masyararakat sesaat harus berusaha keras memulihkan diri dari krisis yang telah dialami, dan mau tidak mau pula, mengambil nafas panjang untuk sebuah perjalanan ke depan yang belum tentu mudah. Pernyataan pemerintah[2] dan WHO[3] dengan jelas memperingatkan hal itu. Di sisi lain, fase itu ditandai juga dengan terus menurunnya DKI Jakarta dan sekitarnya sebagai pusat pandemi, diringi dengan semakin meratanya penderita Covid-19 ke berbagai daerah. Tulisan ini ingin menguraikan...

Tepatkah Pelonggaran Protokol Covid-19 ?

Enam Tantangan dari Lapangan Sulit dipungkiri betapa perkembangan aktual penanganan Covid-19 di beberapa hari terakhir ini cukup menggelisahkan kita. Kajian awal Kemenko Perekonomian “Road Map Ekonomi Kesehatan Keluar Covid-19” yang beredar viral[1], mulai dibukanya kembali angkutan umum (meskipun dengan protokol ketat) oleh Kementerian Perhubungan[2], hingga pernyataan Gugus tugas bahwa warga berusia di bawah 45 tahun diijinkan untuk kembali bekerja[3] sangat menggelisahkan kita. Meskipun sebagian dari pernyataan tersebut kemudian berusaha diluruskan, namun kesan upaya pelonggaran PSBB di berbagai daerah sudah terlanjut menyebar. Bukan hanya bahwa hal tersebut semakin mengurangi tingkat kedisiplinan diri masyarakat saat ini, tetapi juga mengingat dalam berbagai aspek kita sebenarnya belum mampu mengendalikan penyebaran Covid-19. Dalam...

Mengawal Kurva Pandemi

Memelihara Kesiapsiagaan di Tengah Lelahnya Publik Atas Covid-19 Sejak terdeteksinya pasien Covid-19 pertama di Indonesia pada 2 maret 2020 lalu, kurva penderita penyakit ini terus menaik dan relatif belum menunjukkan tanda-tanda penurunan hingga hari ke-67 (8 Mei 2020) ini.[1] Beberapa lembaga yang mengeluarkan perkiraan tentang akhir masa pandemi berdasarkan kalkulasi statistik meninjau kembali ramalan mereka. [2] Sementara itu, cukup banyak pihak yang mengkhawatirkan akan terjadinya  puncak penularan kedua. kekhawatiran ini cukup beralasan mengingat ketidakpedulian serta melemahnya kesiapsiagaan publik semakin terasa. Dalam tiga hari terakhir (5-7 Mei 2020) di kota Yogya misalnya, angka positif Covid-19 melonjak dari 10, 9, dan pada 7 Mei 2020 menjadi 15 pasien. Sementara itu, cukup banyak pihak yang mengkhawatirkan akan...

Kisah dari Sendai dan Masyarakat Berdaya Tahan terhadap Covid-19

Kisah-kisah gempa Sendai Pada 11 Maret 2011 pukul 14.46 Waktu Standar Jepang (05.46 UTC), masyarakat dunia dibuat terpesona pada respon masyarakat Jepang di tengah bencana gempa bumi Sendai/Tohoku berskala 9,0-9,1 SR.[1] Lima puluh pekerja reaktor nuklir yang bocor di Fukushima[2] menolak meninggalkan reaktor. mereka berjuang untuk mengatasi kebocoran dan dalam arti yang sesungguhnya mempertaruhkan nyawanya. Seribuan relawan lain dari berbagai penjuru Jepang kemudian bergabung bersama-sama mereka mengatasi tragedi nuklir itu. Mereka kemudian dikenal sebagai Fukushima 50[3]  dan menjadi pahlawan global atas kesediaan mereka mempertaruhkan nyawa hingga kebocoran nuklir di Fukushima dapat diatasi dan tidak berubah menjadi bencana lingkungan yang lebih besar. Tetapi keajaiban masyarakat di tengah bencana Sendai yang sesungguhnya...