Ketahanan paroki adalah ketangguhan dan keuletan paroki untuk bertahan, memelihara, dan melindungi warganya terhadap ancaman yang ada, mengantisipasi resiko-resiko dan ketidakterdugaan situasi yang terjadi serta memulihkan diri dari kerusakan akibat sebuah bencana. Ada batas daya tahan sebuah masyarakat terhadap kebencanaa. Kesiapsiagaan yang baik secara pasti akan menaikkan tingkat daya tahan masyarakat itu terhadap ancaman-ancaman yang ada.

Ada beberapa aspek ketahanan paroki :

Pengetahuan akan ancaman kebencanaan : ciri, asal, bentuk ancaman kebencanaan yang muncul, hingga langkah dan strategi yang tepat untuk mengurangi resiko kerusakan yang mungkin terjadi. Penguasaan terhadap ancaman kebencanaan penting bukan hanya dalam kedalamannya, tetapi juga dalam keluasaan jangkauan pengetahuan terhadap seluruh anggota komunitas. Pengenalan dasari tentang ancaman bahaya kepada seluruh anggota komunitas adalah bagian terpenting dari upaya pengurangan resiko sekaligus peningkatan ketahanan (resiliensi) warga terhadapnya.

Untuk itu pemahaman umat akan Covid-19, bahaya, dan cara meminimalisasi resikonya harus dimiliki sebanyak mungkin umat di komunitas Paroki/Stasi/Wilayah/Lingkungan. pendidikan umat bisa dilakukan dengan penyebaran leaflet bersamaan dengan pendistribusian sembako serta melalui grup-grup media sosial umat. Menjadi tugas komsos paroki untuk memastikan pemahaman umat paroki setempat tentang bahaya Covid-19. Di tengah dunia serba online saat ini, jangkauan sosialisasi harus dipastikan mampu menjangkau umat yang belum melek internet. Untuk itu gotong-royong komunikasi umat di tingkat lingkungan sangat dibutuhkan. Kedalaman materi dan materi sosialisasi apa saja yang dibutuhkan bisa diperoleh dengan mengadakan sruvey kecil-kecilan menggunakan formulir online.

Pemahaman akan diri sendiri dari masyarakat (paroki) baik oleh para pemimpin komunitas maupun seluruh anggota komunitas. Pengenalan diri ini terwujud antara lain dalam bentuk data yang tepat, menyeluruh, dan selalu diperbaharui. Data yang dimaksud bukan hanya data yang terukur (kuantitatif) melainkan juga data kualitatif. Data kualitatif misalnya mencakup karakter, kebiasaan, nilai, pola hubungan, mitos dan lain-lain. Pemahaman terhadap kerentanan dalam komunitas juga harus dimiliki. Peta kerentanan dapat saja berubah seiring waktu serta dapat berbeda-beda sesuai jenis ancaman yang ada. Untuk itu antisipasi yang sesuai harus dibuat untuk mengurangi kerentanan ini. Di sisi lain, peta keunggulan dan peta potensi umat juga dibutuhkan.

Untuk mendukung hal ini, pemetaan umat online bisa dilakukan untuk memperoleh gambaran cepat tentang situasi di paroki di saat Covid-19. Berapa jumlah dan bagaimana gambaran umum situasi umat yang ada di lingkungan?

Ketahanan medis :

  1. Bagaimana pemahaman umat tentang Covid-19 ?
  2. Berapa umat yang rentan dari segi medis untuk menderita Covid-19 ?
  3. bagaimana kesiapan umat di tiap rumah terhadap ancaman Covid-19 ? Hal ini bisa dilakukan dengan membuat daftar cek kesiapsiagaan rumah tangga Katolik terhadap Covid.
  4. Adakah tenaga kesehatan di lingkungan/kampung terdekat ? Apakah ada daftar kontak tenaga kesehatan yang berwenang ?
  5. dan seterusnya.

Ketahanan ekonomi :

  1. Berapa umat yang mengalami gangguan penghasilan di masa Covid-19 ini ? (PHK, usaha terhenti, dirumahkan tanpa gaji, dan lain-lain).
  2. Berapa estimasi kebutuhan logistik mereka  setiap hari, minggu, dan bulan ?
  3. Berapa daya tahan umat menghadapi krisis 3-4 bulan mendatang ? Ini bisa diperoleh misalnya dengan mengecek tingkat saving masing-masing umat.
  4. Adakah UMKM umat yang membutuhkan dukungan ? Apa produknya, dukungan apa yang dibutuhkan ?
  5. dan seterusnya

Potensi umat juga bisa dipetakan dengan mengembangkan pertanyaan-pertanyaan ini lebih jauh. Selanjutnya, upaya pendataan dan pemetaan situasi umat harus diperbaharui secara berkala mengingat kondisi lapangan yang berubah cepat.

Sistem yang kuat dibutuhkan agar paroki/stasi/wilayah/lingkungan kuat menghadapi ancaman yang ada. Untuk itu dibutuhkan sistem yang baik yang memiliki kapasitas untuk merespon bencana yang terjadi. Ada dua sistem yang harus dimampukan : pertama, sistem organisasi yang menopang jalannya komunitas dalam hidup sehari-hari (dalam hal ini : dewan paroki, pengurus stasi/wilayah/lingkungan), serta sistem khusus yang sengaja dibuat untuk menanggapi situasi khusus kebencanaan. Harus ada upaya terencana dan sistematis untuk meningkatkan kapasitas dua sistem ini secara berkelanjutan guna menghadapi tantangan yang mungkin timbul.

kapasitas dan ketrampilan umat : Di dalam umat sendiri terdapat kapasitas dan ketrampilan umat yang menjadi pondasi penting masyarakat dalam menanggapi bahaya yang terjadi. Ini mencakup penguasaan umat terhadap pengetahuan kebencanaan, langkah mengatasi, serta pengalaman praktek kesiapsiagaan. Latihan berkala guna memelihara dan meningkatkan ketrampilan warga kesiapsiagaan mereka, mapun upgrading sistem dan penguatan budaya kesiagaan umat mutlak untuk dilakukan.

Partisipasi dan kerelawanan adalah bagian mutlak dari ketahanan kebencanaan yang tidak boleh terlewatkan. Dalam hal ini, mengingat hakikat Gereja sebagai komunitas umat beriman itu sendiri, maka partisipasi seharusnya secara otomatis terintegrasi ke dalam gerak paroki/komunitas Gereja untuk menanggapi Covid-19 atau bencana lainnya. Kekuatan dan kepaduan umat diuji lewat pengalaman bersama di bawah bayang-bayang pandemi ini. Persoalannya terletak pada bagaimana kita bisa mengelola partisipasi dan arus kerelawanan di tengah umat ini ? Sejauh ini secara umum dalam pengamatan penulis, pengelolaan kerelawanan umat belum secara serius diperhatikan. Padahal, kerelawanan dan partisipasi umat adalah sumber daya yangs angat berharga dan terlalu sia-sia untuk dibiarkan tak terkelola secara efektif dan efisien.

Pemetaan kerelawanan dan partisipasi umat sangat dibutuhkan agar secara optimal dapat dikelola dan ditempatkan sebagaimana dibutuhkan selaras dengan perencanaan tanggap bencana yang dibuat. Umat dengan keahlian spesifik atau barang modal tertentu dapat sangat bermanfaat untuk meningkatkan ketahanan paroki maupun memperkuat upaya paroki menghadapi Covid-19. Seorang tenaga kesehatan, videomaker, atau relawan kesiapsiagaan bencana misalnya, akan sangat dibutuhkan di era seperti ini. Energi, waktu, keahlian, hingga fasilitas dan logistik yang disumbangkan umat harus dikelola secara tepat guna dan tepat sasaran tanpa menjadi terjebak menjadi terlalu birokratik. Ingat, situasi yang kita hadapi adalah situasi kebencanaan yang serba darurat dan membutuhkan kerja cepat.

Sumber daya paroki/stasi/wilayah/lingkungan harus benar-benar diperhitungkan, direncanakan, dan dipersiapkan dengan baik, terlebih dampak utama dari Covid-19 terhadap hidup menggereja adalah hilangnya secara mendadak interaksi langsung antar umat dan umat dengan hirarkhi. Gereja seakan-akan lenyap dari pengalaman langsung. Dampak sampingan yang juga sangat penting untuk diperhitungkan adalah menurunnya dukungan finansial terhadap kehidupan paroki dengan tidak adanya kolekte. Artinya secara keuangan, Gereja juga menghadapi krisis. Dampak yang lain yang juga terasa adalah melemahnya umat dan pemimpin-pemimpin mereka karena tekanan ekonomi dan psikologis yang dialami. Maka jelas, perencanaan sumber daya paroki, baik finansial, logistik, maupun daya dukung umat harus diperhitungkan dengan baik.

Perencanaan yang baik Surat edaran Bapa Uskup Agung Semarang No. 0412/A/10/20-21, tanggal 26 April 2020 dengan sangat tegas menekanka perlunya perencanaan strategis bagi kehidupan menggereja di tengah Covid-19, setidak-tidaknya hingga pandemi ini berakhir yang diperkirakan terjadi pada bulan Agustus 2020 mendatang. Tiga aspek ditekankan dalam edaran tersebut : pendataan dan pemetaan, perencanaan strategis jangka pendek-menengah-panjang, serta koordinasi dan sinergitas internal dan eksternal. Pemetaan kebutuhan, sumber daya yang dimiliki, sistem yang ada, serta kemungkinan skenario yang terjadi sangat menentukan perencanaan macam apa yang akan dibangun.

Untuk menopang perencanaan yang baik dibutuhkan scenario building yang setidak-tidaknya terdiri dari tiga skenario : skenario lebih buruk, skenario lebih baik, dan skenario apabila situasi tetap seperti saat ini.

kemitraan dan jaringan internal dan eksternal. Kemitraan dan jaringan adalah kunci yang sangat penting di saat ini. terganggunya arus uang di masyarakat menjadikan jejaring sosial mau tidak mau mengambil peran pengganti. Jaringan di dalam dan keluar Gereja menjadi penopang ketahanan umat dan Gereja sebagai lembaga. Bagaimana ini bisa dikelola ? Gereja harus memahami dan mempelajari membangun jaringan, memperluas akses ke lembaga atau person-person kunci, melakukan pemetaan jaringan dan potensi sumber dayanya, memahami karakter beragam jaringan yang ada dan isu-isu yang ada di dalamnya. Harus ada orang yang secara khusus bertugas untuk mengelola dan mengembangkan jaringan ini, baik di dalam maupun di luar Gereja.

Yogyakarta, 1 Mei 2020

Cyprianus Liik K. P.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *