Banyak upaya yang sudah dilakukan Gereja baik hirarkhi maupun umat untuk menghadapi Covid-19. Berikut beberapa rekaman aktivitas yang baik secara sistematis dilaksanakan, maupun sporadis bermunculan di tengah umat beriman.

  1. Pelayanan pastoral baik sakramental maupun non sakramental di tengah Covid-19 tetap yang utama. Dalam hal pelayanan ini, terutama pelayanan kematian dan minyak suci, amat sangat penting untuk menekankan protokol kesehatan Covid-19 yang benar-benar aman. Dari kasus-kasus yang sudah terjadi di seluruh dunia, para pelayan Gereja sangat rentan terkena Covid-19.
  2. Siaran misa online melalui berbagai media elektronik (televisi dan radio) dan platform digital yang ada, entah Youtube, Facebook, Instagram, hingga Zoom. Tidak hanya itu, pelayanan keluarga seperti misa arwah, juga umum dilakukan secara online.
  3. Pendidikan, penyadaran, dan pendisplinan umat menghadapi Covid-19 perlu terus-menerus dilakukan. Kita tidak bisa hanya mengandalkan informasi yang disampaikan melalui media massa atau pemerintah mengingat keterbatasan daya jangkau di tengah umat. Upaya pendidikan, penyadaran, dan pendisiplinan umat akan protokol Covid-19 harus terus dilakukan. Umat harus diupdate informasi serta diingatkan kembali, terlebih mengingat semakin mengendornya disiplin warga saat ini, Hingga tulisan ini dibuat masih ada lingkungan di KAS yang melakukan doa atau kegiatan komunitas, yang berlawanan dengan Edaran Bapa Uskup Agung Semarang tentang Perencanaan Strategis Menghadapi Pandemi COVID-19,Nomor: 0412/A/10/20-21 tertanggal 26 April 2020 bisa menjadi acuan yang jelas tentang langkah-langkah Gereja KAS di masa Covid-19 ini. Dalam hal ini Dewan Paroki bisa terus mengingatkan umat hingga ke tingkat lingkungan agar menaati protokol kesehatan yang ada, serta mendorong kesiapsiagaan umat apabila situasi ini berkepanjangan.
  4. Pembentukan tim siaga Covid-19. Tim siaga Covid-19 adala kelompok kerja khusus yang dibentuk untuk mengurangi dampak buruk dari Covid-19 di tengah Gereja danmasyarakat di sekitar Gereja. Belum ada standar tim Siaga Covid-19 di tingkat paroki. Namun umumnya tim ini berfokus pada dua aktivitas kunci : pengumpulan dan penyebaran sembako (kadang juga ditambah makanan siap saji) kepada umat dan masyarakat sekitar Gereja yang membutuhkan, serta penyediaan alat dan bahan untuk menjaga kebersihan di lingkungan Gereja, umat, dan warga sekitar.
  5. Sarana kebersihan di Gereja : Penyediaan tempat cuci tangan, sarana kebersihan lain (plus poster informasi tentang Covid-19) secara memadai dan terawat di Gereja Induk, Gereja/Kapel Stasi/Wilayah. di tempat peziarahan, serta serta bangunan-bangunan Gereja/Biara/kantor lembaga Katolik yang lain. Gereja harus menjadi teladan umat dan masyarakat sekitar dalam menghadapi Covid-19.
  6. Penyemprotan dan pembersihan berkala di lingkungan Gereja tidak boleh ditinggalkan. Ini akan lengkap bila paroki atau stasi dilengkapi tim desinfektasi yang mengikuti standar protokol Covid-19.
  7. dukungan sembako kepada umat dan warga sekitar yang membutuhkan adalah menu wajib yang dijalankan hampir semua Gereja. Prioritas tentu saja ada di umat, namun sejauh mampu warga di sekitar Gereja juga seringkali mendapat alokasi bantuan, yang umumnya dilakukan dengan berkoordinasi dengan pengurus RT/RW setempat. Pola yang juga dipakai adalah subsidi pembelian sembako yang dilakukan lingkungan dengan memanfaatkan kas yang ada, untuk membantu meringankan belanja umat.
  8. membuat dapur umum, membagi nasi bungkus, dan makanan siap saji lainnya juga dilakukan di berbagai paroki dan komunitas-komunitas Katolik yang lebih kecil. Langsung pada korban, murah dan mudah dilakukan menjadikan kegiatan ini aktiviats favorit dari berbagai komunitas. Hanya ke depan mengingat perkiraan Covid-19 tidak akan selesai dalam satu dua minggu, perlu secara sirus dipikirkan tentang ketahanan  dan ketersediaan sumber daya umat untuk melakukan aksi-aksi karitatif semacam ini.
  9. Distribusi masker, handsanitizer, serta cairan desinfektan ke umat dan warga sekitar juga relatif banyak dilakukan di berbagai paroki atau komunitas di dalamnya. Sebagai upaya langsung memastikan terpenuhinya protokol Covid-19 akan sangat baik bila distribusi benda-benda ini disertai dengan leaflet informasi terkait Covid-19 dan pencegahannya.
  10. pendampingan ekonomi umat khususnya UMKM juga muncul menjadi gerakan di berbagai paroki. Pendekatan dasarnya sederhana, memperkuat dan memperluas ubungan pedagang dan pembeli di tengah umat. Ada beberapa aktivitas yang dilakukan : pembuatan katalog umkm, pembuatan grup media sosial sebagai pasar online, pembuatan website umkm, dan pemanfaatan media sosial paroki untuk mengiklankan produk umat.
  11. Information center. Pusat informasi umat adalah kunci penting mengatasi Covid-19. Ia pusat pengetahuan yang bisa diakses umat dan pejabat Gereja dan membantu mereka menjalankan aktivitas hdiup menggereja sehari-hari di tengah covid-19 maupun mengatasinya. Kantor sekretariat paroki dalam hal ini diharapkan dapat menjalankan peran pusat informasi darurat penanganan Covid-19 di paroki. Untuk itu perlu dikumpulkan informasi mendetail terkait penanganan kasus Covid-19, pihak-pihak setempat yang harus dihubungi bila terjadi kedaruratan medis, hingga kontak kepada perawatan jenazah yang positif atau PDP Covid-19.
  12. Pengadaan dan pembuatan alat-alat kesehatan untuk diperbantukan ke RS, klinik, atau puskemas setempat juga dilakukan di beberapa paroki, Teman-teman Katolik muda di Paroki Wedi, Klaten, misalnya, memproduksi ribuan faceshield dan mendistribusikannya ke berbagai pihak yang membutuhkan. OMK di paroki Purbowardayan, Surakarta juga membuat masker dan menggunakan hasil penjualannya untuk membantu pengadaan APD di RS dan puskesmas di seputar Surakarta.
  13. Penguatan pertanian sederhana untuk mengantisipasi krisis pangan juga dilakukan di beberapa paroki, Paroki Ganjuran, Bantul, dan Paroki Gamping, Sleman melakukan distribusi bibit sayuran ke tengah-tengah umat agar dapat ditanam di lahan-lahan kosong maupun dikembangkan secara vertikal. Tentu saja, dengan latar geografis yang berbeda, ada dua  pendekatan yang dikembangan. Di perkotaan melalui konsep urban farming, entah dengan polybag, secara hidroponik, maupun pertanian vertikal. Di beberapa bagian kota yang masih memiliki lahan yang bisa ditanami juga ada upaya-upaya warga untuk memanfaatkannya  Di pedesaan maksimalisasi pemanfaatan lahan kosong menjadi pilihan yang utama.
  14. lumbung umat adalah upaya menggalang dukungan di lingkungan, terutama di kalangan umat yang mampu untuk dimanfaatkan membantu umat yang lain yang membutuhkan. Bantuan dapat berupa bahan natura (yang ditampung di rumahs alah satu umat) maupun dana darurat bersama yang siap dibelanjakan bila dibutuhkan.
  15. bantuan ke mereka yang menjalani isolasi mandiri juga dilakukan beberapa komunitas Katolik kepada umat atau warga yang menjalani isolasi mandiri di pusat-pusat isolasi yang terutama diinisasi oleh pemerintah desa. Jenis bantuan dapat bermacam-macam mulai dari bantuan sembako hingga bantuan yang sifatnya non fisik.
  16. jaga tangga adalah upaya yang dilakukan pengurus lingkungan atau aktivis umat untuk memantau secara kontinyu situasi umat di lingkungan khususnya mereka yang rentan secara medis maupun sosial ekonomi. Umat sepuh yang tinggal sendiri, keluarga sangat miskin, umat yang sakit kronis, serta pendatang/mahasiswa kos menjadi prioritas utama. Pemantauan ini untuk memastikan bahwa umat atau warga yang bersangkutan mampu melewati krisis Covid-19 ini dengan sehat dan selamat.
  17. Asistensi kepada umat/warga yang mengalami stigmatisasi karena Covid-19.  Banyak warga masyarakat yang mengalami diskriminasi karena Covid-19, entah karena menjadi ODP, PDP, pasien yang sudah sembuh, pendatang, hingga karena berprofesi sebagai tenaga kesehatan. Dalam hal ini Gereja baik sebagai individu maupun institusi membantu mereka sesuai dengan kebutuhan mereka, tentu saja tetap dengan menjalankan protokol kesehatan di masa Covid-19.

Itulah 17 hal yang bisa kita lakukan sebagai Gereja di tengah Covid-19. Adakah upaya kreatif lain yang lain yang Anda jalankan di Gereja Anda yang belum tercatat di situ ? tulis di kolom komentar ya !

Yogyakarta, 5 Mei 2020
Cyprianus Lilik K. P.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *