Kisah-kisah gempa Sendai

Pada 11 Maret 2011 pukul 14.46 Waktu Standar Jepang (05.46 UTC), masyarakat dunia dibuat terpesona pada respon masyarakat Jepang di tengah bencana gempa bumi Sendai/Tohoku berskala 9,0-9,1 SR.[1]

Lima puluh pekerja reaktor nuklir yang bocor di Fukushima[2] menolak meninggalkan reaktor. mereka berjuang untuk mengatasi kebocoran dan dalam arti yang sesungguhnya mempertaruhkan nyawanya. Seribuan relawan lain dari berbagai penjuru Jepang kemudian bergabung bersama-sama mereka mengatasi tragedi nuklir itu. Mereka kemudian dikenal sebagai Fukushima 50[3]  dan menjadi pahlawan global atas kesediaan mereka mempertaruhkan nyawa hingga kebocoran nuklir di Fukushima dapat diatasi dan tidak berubah menjadi bencana lingkungan yang lebih besar.

Tetapi keajaiban masyarakat di tengah bencana Sendai yang sesungguhnya bukanlah Fukushima 50. Dengan segenap hormat kepada para relawan ini, heroisme adalah fenomena wajar di tengah-tengah bencana kemanusiaan. Yang menjadi unik dan tak kalah menonjol di tengah-tengah bencana ini adalah keajaiban berupa bertahannya tertib dan nilai-nilai sosial dari masyarakat negeri matahari terbit ini. Gempa Sendai memicu termanifestasikannya nilai-nilai bawah sadar rakyat  Jepang ke permukaan, sebagai kesaksian-kesaksian yang indah dan mempesona dari kekuatan sebuah masyarakat. Antrian sabar dan tenang ribuan penduduk Jepang selama belasan jam demi memebli makanan dan kebutuhan pokok lain menjadi fenomena viral di seluruh dunia. Tidak ada penjarahan dan kerusuhan yang lazim terjadi di tengah bencana.[4]

Meskipun antrian begitu panjang, semua orang tetap tenang dan ramah. Di saat warga Jepang yang selamat menghadapi kekurangan makanan dan bahan bakar di tengah-tengah gempa susulan dan korban yang terus bertambah, mereka menunjukkan rasa tertib sosial. Berbeda dengan pemandangan di tengah bencana alam di Haiti dan New Orleans, ada sedikit kemarahan, tidak ada penjarahan. Tetangga bersedia berbagi dengan orang lain dan mengurangi penggunaan energi untuk mencegah perlunya pemadaman bergilir.” Tulis jurnalis ABC, Susan Donaldson James dan Russell Goldman.[5]

Sebuah tweet warga asing mencatat : Seseorang tanpa berbicara memungut makanan yang terserak di sebuah supermarket, lalu mengantri dan membayar belanjaanya.  Seorang perempuan sepuh yang lain memberikan tempat duduknya untuk seorang wanita yang hamil. Seorang asing yang menyaksikan hal ini kehilangan kata-kata. Wow, Jepang.[6]

Ron Provost, presiden Showa Boston Institute for Language and Culture, di lingkungan the University of Tokyo memberi kesaksian :

“Saya pikir mereka berupaya sebaik yang diharapkan atau bahkan lebih baik, jika Anda bayangkan kita berada dalam situasi itu. Kekuatan dan (resilience) itu berakar pada sebuah budaya yang secara historis bertumpu pada organisasi sosial.[7]

Kualitas kultural adalah ketahanan

Kisah bagaimana masyarakat Jepang merespon bencana Sendai adalah kisah klasik tentang kekuatan kultural sebuah masyarakat yang tidak retak (dan justru semakin dikuatkan) di tengah-tengah situasi krisis yang ekstrem. masyarakat tidak kehilangan prinsip, orientasi, dan harapan, di tengah hancurnya struktur sosial, struktur ekonomi, dan keterbatasan daya dukung pemerintah. Masyarakat yang bertahan dan mampu secara secara otonom mengelola dirinya sendiri, melindungi semua individu di dalamnya, dan memelihara kebaikan umum.

Dibutuhkan kesadaran diri/mawas diri yang besar sekaligus kepekaan kritis dan solidaritas sosial yang kuat di masing-masing individu untuk mencapai tingkatan ini. Masyarakat yang mampu membatasi tingkat konsumsi, mengatasi kecenderungan menimbun cadangan sumber daya secara besar-besaran, memperhatikan kualitas hidup orang-orang di sekitarnya (juga orang-orang yang sama sekali tidak dikenal sekalipun), serta berkontribusi dnegan bersungguh-sungguh untuk membangun kembali hidup bersama.

Di balik fenomena yang mengagumkan itu, tersembunyilah budaya dan pengorganisasian sosial yang mengakar hingga ke ranah perilaku dan habitus pribadi warganya. Kekuatan karakter yang terbentuk karena parenting dan sistem pendidikan,  serta kekuatan komunitas sebagai jaringan sistem nilai sekaligus jejaring hidup bersama. Di sisi lain, ini semua ditopang oleh adanya kepercayaan penuh kepada sistem pelayanan publik dan kesiapsiagaan bencana yang bekerja dengan baik.

Pemerintah dengan kebijakan yang tepat dan kemampuan eksekusi dengan baik hanya separo dari kekuatan untuk menghadapi bencana.  Sebuah masyarakat yang terdidik dalam karakter sejak dari kecil, terlatih dalam kebencanaan dan solidaritas, terorganisasi, dan terinformasi dengan baik adalah kunci ketahanan sosial.

Masyarakat berdaya tahan terhadap Covid-19

Daya tahan (dan daya pulih) masyarakat terhadap bencana di atas secara sederhana dapat digambarkan dalam diagram berikut :

Masyarakat yang kuat memuat keterhubungan antara tiga lapisan sosial di dalamnya : individu yang cerdas, berkarakter dan terinformasi; komunitas yang kuat; serta lembaga pelayanan publik yang berfungsi dengan baik dan dipercaya. masyarakat yang ditopang elemen-elemen ini relatif mampu menghadapi perubahan-perubahan lingkungan eksternal dan internal.  Setidak-tidaknya rajutan social trust, nilai, interaksi, dan kebijakan mampu menopang masyarakat itu dan memampukannya menghadapi resiko yang timbul.

Demikian halnya dengan ancaman pandemi Covid-19, Kematangan pada tingkat individu memastikan respon rasional pada tingkat individu. Tanggapan-tanggapan emosional dapat diredam, sementara adopsi dan adaptasi protokol Covid-19 dapat berjalan dengan lebih baik, langsung ke akar individu dari masyarakat.  Pada tingkat komunitas, ia berfungsi sekaligus sebagai jejaring pengaman sosial yang terpercaya sekaligus pengendali emosi dan kesadaran massa. Komunitas menjadi sumber daya yang luar biasa ketika struktur pemerintahan mengalami kegagalan atau kegagapan dalam menjalankan fungsinya. Di tingkat pemerintah, dengan keterbatasan yang ada, ia secara strategis bsia menjalankan peran governance terhadap ekosistem negara guna membangun kesiapsiagaan Covid-19 di dalamnya.

Hanya masyarakat yang kuat yang dengan cepat mampu beradaptasi dan merespon ancaman-ancaman kebencanaan dengan komprehensif. tersedia cukup cadangan nilai, social trust,

Menuju normalitas baru

Skema di atas membuka mata kita betapa pentingnya upaya rekayasa sosial demi ketahanan kesehatan publik. Tentu saja, mengharapkan kesiapan masyarakat Indonesia menghadapi Covid-19 secara instant adalah omong kosong belaka. Kerja transformasi sosial adalah perjuangan marathon dan menguras tenaga. Bagaimana menyiapkan tiga lapisan praktik sosial tersebut aagar matang untuk menjalankan peran-peran resiliensinya ?

Di sisi lain, dengan semakin bergeraknya pandemi Covid-19 ke arah yang lebih jangka panjang di negeri ini dibutuhkan stamina dan fokus untuk mampu menerjemahkan ketahanan masyarakat menghadapi Covid-19 ini menjadi praktek sosial kongkrit. Dibutuhkan pendekatan baru yang mampu membangun masyarakat yang memiliki ketahanan terhadap Covid-19 dan berbagai pandemi lainnya dalam jangka panjang.  Dan perjalanan kita baru saja dimulai.

Yogyakarta, 6 Mei 2020

Cyprianus Lilik K P.


[1] https://en.wikipedia.org/wiki/2011_T%C5%8Dhoku_earthquake_and_tsunami

[2] https://en.wikipedia.org/wiki/Fukushima_Daiichi_Nuclear_Power_Plant

[3] https://en.wikipedia.org/wiki/Fukushima_50

[4] https://abcnews.go.com/Health/japan-victims-show-resilience-earthquake-tsunami-sign-sense/story?id=13135355

[5] https://abcnews.go.com/Health/japan-victims-show-resilience-earthquake-tsunami-sign-sense/story?id=13135355

[6] https://christnaa.wordpress.com/2011/03/22/6-teladan-bangsa-jepang-ketika-diterpa-musibah/

[7] https://abcnews.go.com/Health/japan-victims-show-resilience-earthquake-tsunami-sign-sense/story?id=13135355

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *