Memelihara Kesiapsiagaan di Tengah Lelahnya Publik Atas Covid-19

Sejak terdeteksinya pasien Covid-19 pertama di Indonesia pada 2 maret 2020 lalu, kurva penderita penyakit ini terus menaik dan relatif belum menunjukkan tanda-tanda penurunan hingga hari ke-67 (8 Mei 2020) ini.[1] Beberapa lembaga yang mengeluarkan perkiraan tentang akhir masa pandemi berdasarkan kalkulasi statistik meninjau kembali ramalan mereka. [2] Sementara itu, cukup banyak pihak yang mengkhawatirkan akan terjadinya  puncak penularan kedua. kekhawatiran ini cukup beralasan mengingat ketidakpedulian serta melemahnya kesiapsiagaan publik semakin terasa. Dalam tiga hari terakhir (5-7 Mei 2020) di kota Yogya misalnya, angka positif Covid-19 melonjak dari 10, 9, dan pada 7 Mei 2020 menjadi 15 pasien.

Sementara itu, cukup banyak pihak yang mengkhawatirkan akan terjadinya  puncak penularan kedua. kekhawatiran ini cukup beralasan mengingat ketidakpedulian serta melemahnya kesiapsiagaan publik semakin terasa. Dalam tiga hari terakhir (5-7 Mei 2020) di kota Yogya misalnya, angka positif Covid-19 melonjak dari 10, 9, dan pada 7 Mei 2020 menjadi 15 pasien.

Enam faktor penghambat

Setidaknya ada 6 hal yang sangat mempengaruhi hal tersebut : pertama, pemenuhan kebutuhan sehari-hari masyarakat terutama mereka yang menggantungkan hidupnya pada penghasilan harian. Kedua, terjadinya kelelahan psikologis publik, public psychological fatigue setelah sekian lama mengalami pembatasan aktivitas dan proses monitoring  dan mengontrol diri terus-menerus selaras dengan protokol kesehatan. Ketiga, arus pemudik baik akibat Covid-19 maupun menjelang Idul Fitri yang tetap terjadi meski dalam skala yang terbatas. Keempat, mulai dibukanya kembali lock down dan karantina wilayah di berbagai penjuru dunia (diperkirakan saat ini 2,6 milyar penduduk dunia mengalami lock down). Kelima, sikap pemerintah yang sejak awal cukup longgar dan kadang tidak konsisten satu sama lain. Keenam, adanya keraguan tentang tingkat virulensi Covid-19 yang dianggap tidak seberbahaya dugaan awal.

Transmisi komunitas dan Hari Raya

Sementara situasi belum tentu akan membaik dalam satu bulan ke depan. Pertama, transmisi lokal semakin sering terjadi. Ada pergeseran dari penyebaran yang semula terjadi di episentrum awal pandemi di Indonesia menjadi  bergeser ke daerah-daerah. Covid-19 semakin merata dan sulit dipetakan karena telah terjadi penularan komunitas (community transmission). Penularan di lingkungan kampung, di rumah sakit, di pusat perbelanjaan, hingga di angkutan umum yang relatif anonim menyebabkan pelacakan semakin sulit dilakukan, sementara penyebaran berlangsung lebih cepat. Kedua, fenomena mudik dan mobilitas lokal di Hari Raya Idul Fitri membuka peluang peningkatan penularan dan persebaran virus Corona yang lebih cepat dan meluas.

Faktor yang juga bisa mempersulit penanganan ke depan adalah mulai melemahnya gerakan kerelawanan baik di lingkungan masyarakat maupun lembaga swasta mengingat semakin menurunnya sumber daya yang dimiliki. Demikian pula dengan semakin abainya publik pada ancaman Covid-19 juga menjadi persoalan tersendiri.

Di hadapan persoalan ini, kita pada pertanyaan sekaligus tantangan besar, bagaimana menjaga kewaspadaan publik agar kemajuan yang sudah diraih dapat terus dijaga demi mencegah semakin meluasnya Covid-19 ?

Realitas baru yang sudah terbangun

Untuk menjawab pertanyaan itu, perlu dipahami kondisi eksisting terbaru yang tercipta seiring dengan proses penanganan Covid-19 yang dilakukan baik pemerintah, masyarakat maupun swasta.

Pertama, aparat publik relatif telah bersiap meski hingga saat ini belum semua DAU kabupaten/kota turun dan terdapat ketidaksiapan di tingkat desa mengingat dana desa yang terbatas untuk melakukan intervensi maksimal.

Kedua, secara umum publik lebih terdidik tentang Covid-19, cadangan pengetahuan publik tentang wabah ini telah meningkat. meski demikian tanpa dikelola lebih jauh, ditingkatkan, dan diberi arah kolektif, kesadaran publik tidak akan banyak berkontribusi pada upaya penanganan Covid-19. Sebaliknya, ia bisa berkembang menjadi prasangka sosial yang berujung stigmatisasi para korban dan tenaga kesehatan. Kepemimpinan massa di akar rumput ini perlu mendapat perhatian serius agar energi dan sumber daya massa dapat secara efektifkan disalurkan pada upaya-upaya lokal yang berkelanjutan guna penaganan Covid-19.

Ketiga, adanya jejaring kerelawanan masyarakat dan lembaga swasta yang –apabila terus dianimasi dan diaktivasi- adalah sumber daya yang luar  biasa yang bisa menopang upaya-upaya pemerintah menangani Covid-19. persoalannya, partisipasi pasar, non profit, dan warga ini relatif berbeda dari satu daerah ke daerah lain. Demikian pula respon pejabat publik terhadap pihak-pihak di luar dirinya ini sangat bervariasi satu sama lain. Dibutuhkan pelibatan lebih mendalam , strategis, dan intensif agar sinergi antara aktor-aktor yang ada dapat terwujud menjadi satu ekosistem  bersama pencegahan Covid-19.

keempat, terdapat infrastruktur fisik seperti sarana sanitasi, penampungan sementara, dan lain-lain, baik yang dibangun pemerintah, swasta, maupun masyarakat secara mandiri, yang dapat semakin diefektifkan untuk membantu mencegah penularan Covid-19. Dalam hal ini konsistensi merawat harus terus dijaga dan pemanfaatannya harus diefektifkan.

Langkah ke depan

Kecuali dalam situasi yang sangat darurat, misalnya terjadi lonjakan yang luar biasa banyak pada penderita Coivd-19, sangat sulit untuk memaksa kembali masyarakat ke rumah mereka masing-masing. Tidak semua faktor yang melemahkan kesiapsiagaan masyarakat dapat dengan mudah diatasi. Kebutuhan dasar untuk hidup jelas tak bisa dipungkiri. Sebagian dari faktor tersebut hanya bisa diamini. yang bisa dilakukan adalah bagaimana masyarakat menjalankan itu semua dengan tanpa mengurangi protokol kesehatan yang ada, serta sebisa mungkin mendorong masyarakat melakukan hal-hal seperlunya saja di ruang publik.

Hal yang lain yang juga perlu menjadi pertimbangan adalah kita perlu untuk mempersiapkan masyarakat memasuki fase keluar dengan baik dari pandemi Covid-19, dengan memastikan bahwa kurva penyebaran pandemi Covid-19 bisa mendatar, atau bahkan menurun. Sebuah langkah yang sulit dilakukan di saat kita bakan masih merangkak naik di kurva penyebaran dan kesiapsiagaan publik yang terus menurun.

Berangkat dari capaian-capaian minimal dan beberapa gagasan di atas, dibutuhkan langkah serius untuk bisa menguatkan kembali semangat dan kesadaran masyarakat, melakukan koordinasi dan standarisasi, menguatkan jejaring tanggap bencana, monitoring dinamika yang ada, serta bila diperlukan melakukan kontrol mobilitas dan aktivitas publik secara terbatas. Berikut beberapa saran langkah yang perlu segera diambil guna memastikan pembatasan penyebaran Covid-19 di tengah menurunnya kesiapsiagaan masyarakat :

  1. Penguatan perencanaan, koordinasi, penganggaran, dan eksekusi di internal lembaga pemerintah
  2. Penguatan konsolidasi vertikal penanganan Covid-19 dari provinsi hingga ke tingkat RT termasuk mengkoneksikannya dengan layanan kesehatan, logistik, keamanan, serta gerakan kerelawanan di masyarakat dan swasta. ekosistem kesiapsiagaan Covid-19 harus tercipta pada tiap lapisan sosial yang ada.
  3. Pengefektifan kembali mendorong gerakan swadaya masyarakat di kampung-kampung dengan misi/penugasan, inftrastruktur, dan panduan yang jelas, terutama dengan tetap menjaga protokol kesehatan. Misal, untuk memastikan setiap rumah warga dan usaha kecil di lingkungan kampung mengikuti protokol kesehatan yang ada, memantau pemudik, dan lain-lain. Patroli protokol kesehatan di kampung perlu dibuat dan dilakukan rutin.
  4. Peningkatan intensitas penjangkauan ke masyarakat melalui berbagai media yang mungkin, mulai dari spanduk, mobil keliling, hingga aplikasi yang praktis dan interaktif di telepon cerdas pribadi
  5. Penjangkauan seluas mungkin ke kantor-kantor swasta dan UMKM, memberi penguatan penerapan protokol kesehatan yang lebih ketat di lingkungan kerja. perlu juga disediakan instrumen/manual kesiapsiagaan Covid-19 serta aplikasi online yang membantu mereka menyesuakan lingkungan kerja mereka dengan protokol yang ada. Patroli protokol perlu dibuat dan dilakukan rutin.
  6. Perlunya protokol kesehatan di setiap ruang publik supaya benar-benar dijalankan dan berkelanjutan. Dapat pula dilibatkan masyarakat sekitar agar pemantauan dan pemeliharaan dapat lebih efektif dilakukan.
  7. Penguatan eksosistem kerelawanan masyarakat dan swasta. Komunitas relawan teritorial dan kategorial harus disapa dan dilibatkan, demikian pula dengan pihak swasta dan organisasi kemasyarakatan
  8. Perlu dikembangkan aplikasi patroli kesehatan berbasis spasial dan dikelola secara partisipatif melibatkan semua warga dan semua lembaga yang ada. Selain sebagai sarana pemetaan, peta bersama ini bisa memberi perspektif luas menyeluruh kepada masyarakat dan semua pihak yang lain. ia juga membantu membangun keserempakan gerak langkah di lapangan. Ini akan sangat membantu pengawalan kesehatan publik secara bersama-sama.
  9. Perlu perencanaan keluar dari pandemi Covid-19 yang dibuat berdasarkan skenario-skenario situasi yang dibuat dengan cermat dan detail. Peran setiap elemen sosial di setiap skenario harus dirumuskan secara jelas, dan dengan jelas pula dikomunikasikan kepada seluruh elemen masyarakat yang ada. Fase keluar dari pandemi harus menjadi orkestrasi elemen-elemen sosial yang sistematis, rapi, terstuktur, dan mudah diterapkan.

Yogyakarta, 8 Mei 2020

Cyprianus Lilik K. P.


[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Pandemi_koronavirus_di_Indonesia

[2] Pada 25 April 2020 Singapore University of Technology and Design (STUD) membuat prediksi bahwa Covid-19 di Indonesia akan berakhir pada 6 Juni 2020, namun prediksi tersebut berubah seiring dengan pergeseran data dasar yang dipakai yang juga berubah menjadi 7 Oktober 2020. (https://kumparan.com/kumparansains/prediksi-akhir-pandemi-corona-di-indonesia-mundur-lagi-jadi-oktober-1tMUrDaV0h8). Prediksi yang lain yang dibuat oleh pakar UGM dan tim menyatakan bahwa akhir pandemi akan terjadi pada 29 Mei 2020 (https://www.ugm.ac.id/id/berita/19211-pakar-ugm-prediksi-penyebaran-covid-19-di-indonesia-selesai-akhir-mei-2020), namun dalam artikel di Gatra edisi cetak, April 2020, trend pergerakan Data Pasien Covid-19 dan pageblug 1918, tim yang sama menggeser perkiraan akhir pandemi pada Juli 2020.

RALAT (9/5/2020) : penambahan footnote no.2

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *