Humanity was moving further into unsustainable territory. (Donella Meadows, et al.)[1]

Sejak tahun 1970-an, kemampuan bumi untuk menopang kehidupan yang lestari sudah terlewati. Artinya, manusia menggunakan lebih dari kemampuan bumi untuk meregenerasi dirinya sendiri setiap tahunnya. Di Indonesia, batas ini juga sudah terlampaui pada 2003. Artinya, manusia saat ini selalu berutang kepada bumi untuk menopang pertumbuhan ekonomi, kebudayaan, dan cara hidupnya sehari-hari.

Kemampuan alam dalam menopang kerakusan dan ambisi manusia sangatlah terbatas. Dan karena bahasa bumi tak lagi kita mengerti, maka manusia hanya bisa meraba-raba dari dampaknya. Penderitaan alam akhirnya menjadi penderitaan manusia juga.

Dari sudut pandang pemerintah dan gerakan masyarakat sipil global, desakan untuk mengoreksi arah ekonomi dunia terdengar sangat jelas. Sepanjang sejarah ekonomi politik modern, pertumbuhan ekonomi tradisional dibangun di atas asumsi bahwa sumber daya alam dan daya dukung alam pada cara hidup manusia tidak terbatas.

Meghabiskan dua hari di Accademia de Licei, Roma, 7-8 April 1968, atas undangan industrialis dan intelektual Italia, Aurelio Peccei, sekelompok intelektual berdiskusi tentang tantangan kemanusiaan global dan kenicayaan untuk mengambil tindakan di tingkat global. Diskusi ini tidak cukup sukses, namun dalam perjumpaan informal yang digelar di rumah Peccei sesudah pertemuan tersebut, mereka menyepakati menyebut diri mereka sebagai Club of Rome. Perspektif global jangka panjang dan beberapa pokok masalah kunci dunia lainnya menjadi fokus sekaligus perspektif mereka. [2]

Lingkaran yang kemudian dikenal dengan nama Club of Rome ini menghasilkan buku Limits of Growth, sebuah karya klasik Donella Meadows, Jorgen Randers, dan Dennis Meadows, yang terbit pada 1972. Buku ini berdasar pada riset yang dikerjakan Club of Rome melalui System Dynamics Group, Sloan School of Management, Massachusetts Institute of Technology (MIT) dari 1970 hingga 1972. Setahun setelah buku ini terbit, dunia dilanda krisis akibat embargo minyak Organization of Arab Petroleum Exporting Countries (OAPEC) terhadap pendukung Israel sebagai dampak dari perang Yom Kippur. Gerakan sosial global juga sedang mencapai puncaknya. Tekanan untuk merombak tata dunia meninggi. Sementara di banyak negara Dunia Ketiga, revolusi berkobar. Tahun 1970 juga dianggap sebagai akhir dari ledakan ekonomi Barat pasca Perang Dunia Kedua.

Club of Rome menjadi inspirasi bagi para aktivis lingkungan di seluruh dunia. Merekalah yang pertama kalinya melakukan riset komprehensif tentang daya dukung bumi dalam menopang kehidupan, dengan memanfaatkan simulasi komputer kala itu.

Tiga bulan setelah hasil riset Limits to Growth diluncurkan di Washington pada 2 Maret 1972[3], tepatnya pada 5-16 Juni 1972 berlangsung United Nations Conference on the Human Environment atas inisiatif pemerintah Swedia. Konferensi ini kemudian lebih dikenal sebagai Konferensi Stokholm. Sejak 1983, World Commission on Environment and Development mulai bekerja di bawah koordinasi Perdana Menteri Norwegia Gro. H.Brundtland. Pada 1985, lubang ozone di atas Antartika ditemukan, yang segera disambut dengan Vienna Convention for the Protection of the Ozone Layer. Setahun kemudian terjadi tragedi ledakan pembangkit listrik tenaga nuklir di Chernobil.

Komisi Brundtland, yang menyelesaikan tugasnya pada 1987, memunculkan konsep pembangunan berkelanjutan dengan definisinya yang sangat terkenal itu: sustainable development is the ability of mankind to satisfy the people’s today needs without compromising the chance for future generations to meet their own needs.

Melanjutkan upaya ini, Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi PBB (Earth Summit) diselenggarakan di Rio de Janeiro pada 1992 dengan nama resmi Conference on Environment and Development. Konferensi ini melahirkan beberapa konvensi tentang perubahan iklim dan kesepakatan pengurangan emisi. Menyusul kemudian pada 1997 ditandatangani Protokol Kyoto untuk pengurangan emisi karbon.[4] Tiga tahun sesudahnya berlangsung Millenium Summit di Kantor Pusat PBB di New York dengan Millenium Declaration sebagai hasilnya. Perlindungan lingkungan hidup secara bersama-sama menjadi salah satu seruan utamanya. Di forum ini jugalah lahir Millenium Development Goals yang menegaskan kelestarian lingkungan. World Summit on Sustainable Development di Johannesburg pada 2002 mengesahkan traktat perlindungan sumber daya alam dan keanekaragaman hayati (biodiversity)

Sepuluh tahun kemudian, pada Desember 2012, berlangsung United Nations Convention on Climate Change di Doha yang menyepakati perpanjangan protokol Kyoto hingga 2020 dari semula 2012. Pembangunan berkelanjutan menjadi tema KTT PBB, United Nations Sustainable Development Summit 2015 di New York pada 25-27 September 2015. Konferensi ini menghasilkan pokok-pokok tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals.

Pada 14 April 2018, air mulai dijatah dan diawasi ketat penyalurannya oleh tentara di Capetown di Afrika Selatan. Daerah tersebut menderita kekeringan selama tiga tahun akibat pemanasan global. Tidak bisa dimungkiri, di beberapa tempat dampak kerusakan lingkungan sudah mencapai tingkat katastropik (bencana besar).

Tragedi di Afrika Selatan menunjukkan bagaimana perjalanan panjang sejak inisiatif Club of Rome hingga Sustainable Development Summit ternyata belum mampu menjadikan isu lingkungan sebagai pusat diskusi dan praktik ekonomi politik di berbagai lini. Isu lingkungan masih menjadi wilayah samping yang tak cukup berbobot untuk dapat mengurangi secara radikal tingkat produksi gas-gas rumah kaca.

Dalam struktur neraca bisnis berbagai perusahaan, isu lingkungan masih ada di dalam kategori tanggung jawab sosial korporasi (Corporate Social Responsibility atau CSR), bukan totalitas neraca itu sendiri yang menjalankan prinsip-prinsip akunting yang lestari (green accounting). Ia masih ada di wilayah tambahan dalam diskusi dan pertemuan tingkat tinggi global, meskipun seharusnya konseptualisasi seluruh produk kebijakan di berbagai level itu sendiri seharusnya benar-benar lestari. Konsep tanggung jawab sosial (social responsibility) masih menjadi sekadar bagian dari kesantunan sosial belaka, dan sama sekali bukan upaya strategis untuk mengubah struktur bisnis dan struktur pertumbuhan ekonomi dalam skala yang lebih luas.

Sekalipun tindakan-tindakan perusakan alam terus terjadi dalam upaya meraih pertumbuhan ekonomi, dan dampaknya sangat merugikan bagi seluruh kemanusiaan, namun upaya penanganannya masih dilakukan sambil lalu saja.

Pengarusutamaan (mainstreaming) isu-isu lingkungan bisa muncul melalui tiga cara, yakni pola kebijakan dan regulasi mulai dari tingkat global hingga lokal, pendidikan dan penyadaran publik, serta umpan balik dalam hubungan manusia dan keterbatasan daya dukung alam. Yang terakhir ini akan berlangsung keras, dan kalaupun itu terjadi, ia sudah terlambat untuk mengatasi krisis ekologi yang ada.

Tantangan lingkungan hidup itu sendiri mencakup isu yang sangat luas, di antaranya pemanasan global, perubahan iklim, ketersediaan air dan udara, ketersediaan pangan, penurunan keanekaragaman hayati, penggundulan hutan (deforestasi), degradasi tanah, degradasi laut, sampah, overpopulasi, pengkotaaan, kesehatan masyarakat, penggurunan (desertifikasi), nuklir, penggunaan sumber-sumber alam tak terbarukan, rekayasa genetika, serta bencana alam akibat penurunan kualitas lingkungan.

Selain kompleksitas masalah, tantangan lain muncul dari negara-negara miskin dan berkembang yang masih memprioritaskan pertumbuhan ekonomi demi meraih kesejahteraan atau bahkan sekadar mewujudkan fasilitas dasar publik di tengah-tengah masyarakatnya. Jelaslah bahwa isu lingkungan yang lestari tidak dapat mengabaikan isu pembangunan, pemerataan, dan keadilan di negara-negara miskin dan berkembang.

Kenyataannya, pencapaian kesejahteraan di negara-negara maju juga disertai dengan pemindahan beban ekologisnya ke negara-negara lain melalui relokasi industri. Upaya mendorong pengurangan emisi karbon di sebuah daerah atau negara ternyata diikuti dengan pemindahan industri ke daerah atau negara lain yang aturan lebih longgar.

Isu lingkungan akhir-akhir ini mengalami pelemahan di tingkat negara, khususnya negara-negara maju. Fokus negara-negara maju pada pemulihan dan pembangunan kembali ekonomi domestik mendorong mereka cenderung mengabaikan dan menomorduakan urgensi penanggulangan masalah lingkungan. Menguatnya politisi kanan populis di berbagai negara maju menunda banyak agenda ekologis global.[5]

Erik Gomez-Baggethun dan Jose Manuel Naredo memetakan tiga perubahan mendasar dalam dinamika isu lingkungan hidup sejak Club of Rome hingga Earth Summit 2012: (1) dari pertumbuhan versus kelestarian menjadi pertumbuhan untuk kelestarian, (2) dari berpusat pada negara dan regulasi publik ke instrumen berbasis pasar dan liberalisasi pasar, dan (3) dari kelestarian secara politis menjadi kelestarian teknokratis.[6]

Pergeseran dari negara-sentris ke pasar dan masyarakat ini dapat ditandai dengan dua perkembangan positif yang perlahan muncul, yakni lahirnya generasi ekologis dan berkembangnya ekonomi hijau atau lestari (green economy).

Generasi ekologis. Generasi milenial sebagai generasi yang tumbuh besar dalam era terbentuknya kesadaran ekologis, mulai mengambil peran sentral dalam perumusan kebijakan baik sektor privat maupun sektor publik. Kehadiran mereka memberi warna ramah lingkungan pada dinamika yang ada. Ini ditopang pula oleh perkembangan teknologi dan konsep bisnis yang membuat generasi ini mampu berinovasi dalam menjejalkan isu lingkungan di tengah masyarakat.

Ekonomi hijau. Upaya mendorong sektor bisnis supaya mengadopsi isu lingkungan secara menyeluruh juga mulai memperoleh bentuknya. Era ini menjadi era uji coba dan akumulasi riset produksi yang lebih ekologis, perubahan institusional dan manajerial korporat, serta perintisan perusahaan-perusahaan hijau. Istilah-istilah baru (neologi) terbentuk untuk menampung konsep ekonomi yang lebih hijau: green accounting,

Gagasan ekonomi dan model-model bisnis yang lebih ekologis pun berkembang. Konsep circular economy, misalnya, mencoba menempatkan sistem produksi dan pertumbuhan ekonomi ke dalam rantai siklus ekologis, sehingga tidak melahirkan eksploitasi atas daya dukung alam pada kebudayaan manusia. Beberapa model bisnis hijau muncul seperti ekonomi berbagi (sharing economy) dan perubahan dari bisnis penjualan menjadi jasa (sales-based to service-based models). Pergeseran penjualan menjadi jasa yang mengubah pembeli menjadi pengguna memungkinkan perusahaan memperoleh keuntungan (value) dengan mengefektifkan tingkat pemakaian barang per jam (daripada dibeli konsumen tetapi akhirnya tak terpakai), dan memperpanjang usia pakai sebuah barang. Ini jelas akan mengurangi beban ekologis bumi.[7] Perusahaan seperti Airbnb, Uber, dan perusahaan-perusahaan sharing economy lainnya mengefektifkan waktu guna dari sebuah benda sehingga lebih ramah lingkungan.

Di tingkat riil, saat ini, kita menemukan sosok inovator-enterpreneur hijau seperti Elon Musk yang berhasil menggelorakan gelombang energi hijau di AS melalui perusahaan panel suryanya, SolarCity. Perusahaan mobil elektriknya Tesla telah berhasil mendefinisikan citra mobil elektrik, mematangkan pasar, dan mencapai tingkat keuntungan yang belum pernah ada dalam sejarah transportasi dunia.[8]

Gerakan kewirausahaan hijau (green enterpreneurship) juga mulai bermunculan sebagai jawaban akar rumput dari tantangan kelestarian bumi.

Kesimpulan

Isu lingkungan hidup baru menjadi isu yang menonjol setelah diangkat oleh masyarakat akademik (secara khusus Club of Rome) hingga memasuki opini publik masyarakat dan dunia. Argumentasi rasional berbasis data dan legitimasi pengetahuan menempatkan gerakan di kalangan akademisi ini terasa lebih mengigit daripada gerakan-gerakan lingkungan di era sebelumnya yang lebih berbasis gerakan sosial atau spiritual.

Pusaran isu lingkungan ini memasuki perdebatan rejim internasional yang mengkerangkai pembentukan kebijakan global untuk mengatasi krisis lingkungan yang terjadi. Pendekatan ini dominan hingga perubahan milenium. Konsep pembangunan berkelanjutan menjadi kata kunci yang utama. Gelombang inovasi teknologi dan bisnis, serta inovasi sosial mendorong gerakan ini memasuki era terbaru gerakan lingkungan yang ditandai dengan pengintegrasian tantangan kelestarian dengan bisnis melalui pencarian model bisnis yang ramah lingkungan. fase ini menjadi fase yang sangat krusial, karena saat inilah isu  lingkungan secara kuat masuk dan mendorong momentum penulisan ulang konsep-konsep klasik dan praktik-praktik sehari-hari dari ekonomi, pembangunan, kebijakan publik, hingga teknologi dan seluruh kebudayaan itu sendiri hingga lebih ramah lingkungan dan lestari.

Memasukkan kembali ekosistem ke dalam alam pikir dan alam tindakan manusia, berarti pula memasukkan kembali manusia ke dalam jejaring rantai organik tempat ia secara kodrati berumah tinggal. Dalam bahasa Santo Fransiskus Aslsi, untuk memulihkan kembali persaudaraan dengan saudari bumi, saudara matahari, saudari air, saudara tetumbuhan, dan segenap margasatwa.

Kita semua diundang untuk melangkah bersama, menyelamatkan sumber daya bersama, ruang hidup bersama, dan yang terpenting, keluarga bersama semua makhluk di muka bumi. Memulihkan wajah kasih Allah di seluruh muka bumi.

Cyprianus Lilik K. P.


[1] Http://www.peakoilindia.org/wp-content/uploads/2013/10/Limits-to-Growth-updated.pdf diakses pada 12 Juli 2018

[2] History, https://www.clubofrome.org/about-us/history/, diakses 10 September 2018

[3] Https://www.youtube.com/watch?v=kz9wjJjmkmc diakses pada 14 Juli 2018

[4] Scutaru, Liliana Scutaru. Economic Development versus Sustainable Development. ECOFORUM, [Volume 2, Issue 1(2), 2013]

[5] Https://www.theguardian.com/us-news/2017/dec/28/the-top-us-environment-stories-of-2017-trump-makes-the-political-weather/ diakses pada 14 Juli 2018

[6] Gomez-Baggethun, Erik & Naredo, Jose Manuel. 2015. In Search Of Lost Time: The Rise and Fall of Limits to Growth in International Sustainability Policy. Sustainability Science 10, p. 385-395

[7] Http://www.sustainablebrands.com/news_and_views/next_economy/jennifer_elks/why_circular_economy_key_sustainable_development_why_busin, diakses pada 14 Juli 2018

[8] Https://www.scu.edu/environmental-ethics/environmental-activists-heroes-and-martyrs/elon-musk.html diakses pada 23 Juli 2018

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *