Pembangunan (pengembangan-terj Rm. Martin Harun, OFM)) dapat disebut otentik kalau ada jaminan untuk mewujudkan perbaikan secara keseluruhan dalam kualitas hidup manusia, LS 147

Sebagaimana cinta menjadi ikatan, hakikat sekaligus obat sosial yang kuat dalam relasi antarmanusia, demikian pula cinta menjadi pepulih dalam persaudaraan manusia atas alam.

Melengkapi Laudato Si, Dicastery for Promoting Integral Human Development juga mencanangkan Laudato Si Goals, yakni serangkaian tujuan strategis yang ingin diwujudkan sebagai hasil kongkrit ensiklik tersebut. Tujuan tersebut dikembangkan dari konsep ekologi integral yang menjadi inti tanggapan Paus Fransiskus atas krisis lingkungan yang dihadapi. Kita akan menyelami gagasan dasar ekologi integral ini sebelum kemudian mendiskusikan tujuan-tujuan dasar Laudato Si.

Ekologi Integral

Dari 6 bab Laudato Si , ekologi integral terkandung dalam Bab Keempat ensiklik tersebut sebagai jawaban sekaligus visi hidup bersama bagi manusia sebagai bagian dari keluarga besar ciptaan, lengkap dengan tata sosial, ekonomi, budaya, dan politik yang menyertainya.  Dalam bagian ini Bapa Suci menggarisbawahi pentingnya membangun cara pandang yang menyatukan lingkungan, sosial, dan ekonomi sebagai kesatuan ekologi kehidupan manusia. Dan tidak dapat dilepaskan dari hal tersebut adalah penghormatan pada kebudayaan, perjuangan mewujudkan kesejahteraan umum, serta keadilan lintas generasi. Inilah inti ekologi integral sebagai pondasi dari tatanan hidup baru manusia dan alam.

Manusia dan alam pada hakikatnya satu kesatuan, dan pandangan dualistik yang memisahkan alam dan sosial adalah semata-mata konstruksi/ciptaan sejarah. Ciptaan alam pikir manusia yang berakibat fatal berupa hancurnya lingkungan hidup dan daya dukung bumi atas kehidupan, serta tumbuhnya kebudayaan yang individualistik, eksploitatif, kehilangan akar komunitas dan solidaritasnya. Lebih jauh lagi, pemisahan ilmu-ilmu modern ke dalam bidang-bidang keilmuan, seperti ekonomi, sosial, politik, teknik, dan lingkungan berkontribusi besar memunculkan ilusi bahwa bidang-bidang semua bekerja terpisah dalam subsistem masing-masing, dan tak terhubung secara sistemik (ekologis, moral, serta teologis) satu sama lain. fragmentasi fungsional ini menjadi manuver intelektual yang berbahaya yang berakibat buruk pada lenyapnya perspektif (dan tanggung jawab) menyeluruh atas kehidupan.

Kritik atas cara pandang kompartemen ini dan pengalaman kompleksitas di lapangan membawa kita pada kesadaran betapa problem lingkungan terkait erat dengan tantangan sosial. Bahwa krisis ekologi dan sosial seringkali mengorbankan kelompok masyarakat ataupun ciptaan yang sama. Meminjam ungkapan Laudato Si : “tidak ada dua krisis terpisah, yang satu menyangkut lingkungan dan yang lain sosial, tetapi satu kriris sosial-lingkungan yang kompleks (LS 139). Perjuangan keadilan sosial tak lagi dapat dipisahkan dari keadilan ekologis.  Dalam ensikliknya Caritas in Veritate (29 Juni 2009), Paus Benediktus XVI menulis : “Setiap pelanggaran terhadap solidaritas dan kesetiakanaan sipil membahayakan lingkungan hidup. (CV 51).

Dengan demikian perjuangan keadilan sosial-lingkungan membutuhkan upaya serius dan besar-besaran untuk menuliskan kembali kebudayaan dan peradaban manusia berdasarkan pada prinsip persaudaraan dengan segenap ciptaan dan bumi sebagai rumah kita bersama. Keadilan sosial menuntut pembelaan dan pemulihan ekologis, sebaliknya, keadilan ekologis, menuntut terwujudnya kondisi-kondisi struktural yang manusiawi.

Lebih jauh upaya ini tidak dapat dilepaskan dari kondisi budaya dan historis setempat, mengingat, “gagasan kualitas hidup tidak dapat dipaksakan tetapi harus dipahami dari dalam dunia simbol dan adait yang menjadi milik asing-masing kelompok manusia” (LS 144).

Hanya dalam keberakaran ini tersimpan ekologi manusia : hubungan antara kehidupan manusia dan hukum moral, yang tertulis dalam kodrat kita sendiri, dan diperlukan untuk dapat menciptakan lingkungan yang lebih bermartabat (LS 155).

Ekologi kehidupan yang berdasarkan keadilan ekologis dan sosial, dengan penghormatan pada akar budaya dan sejarah ini menjadi titik pijak kita meraih kesejahteraan umum. Gaudium et Spes merumuskan kesejahteraan umum sebagai “keseluruhan kondisi-kondisi kemasyarakatan yang memungkinkan kelompok-kelompok maupun anggota perorangan, mencapai kesempurnaan mereka secara lebih penuh dan lebih mudah. “ (GS 26). Dalam semangat Laudato Si, kalimat ini harus dicerna kembali  dengan mentransformasikan gagasan “kesempurnaan” bukan hanya dalam arti pencapaian sosial ekonomi dan budaya, serta pemenuhan dan penghormatan martabat manusia semata, tetapi juga diterimanya kembali manusia di tengah keluarga ciptaan Allah. Inilah kesejahteraan ekologis. Menemukan kembali kepenuhan ciptaan sebagai manifestasi kasih Allah yang sejati.

Dan tidak cukup sampai di situ, karena cintakasih Allah selalu diperbaharui, manusia-manusia baru, dan ciptaan-ciptaan baru terus berkembang menyemarakkan bumi, konsep keadilan antargenerasi yang diintegrasikan ke dalam kebijakan, tata kelola pemerintahan, peradaban, kebudayaan, hingga laku hidup kita sehari-hari.

Tujuh Tujuan Laudato Si

Secara teologis, ekologi integral berarti kembalinya manusia si anak hilang ciptaan ke dalam keluarga besar  ciptaan Allah yang sejati. Keluarga besar ciptaan dipulihkan sebagai wajah Allah di muka bumi, dan bumi itu sendiri kembali dihormati sebagai rumah bersama mereka. Manusia dipulihkan kembali ke dalam jejaring organik ekosistem dan bersama-sama dengan bumi dan segenap ciptaan yang lain mengambil tanggung jawab atas kelestarian kehidupan dan kesejahteraan bersama semua makhluk.

Untuk itu perlu pendekatan menyeluruh agar mampu menyisipkan pesan indah pemulihan kehidupan ke semua sendi dan celah kesadaran. Seusatu yang coba ditangkap oleh Dicastery for Promoting Integral Human Development melalui Laudato Si Goals. Tujuh tujuan ini merangkum kebutuhan untuk mendamaikan, meresapkan, menghibur dan memulihkan, serta mengubah paradigma inti manusia hidup saat ini.

Tujuan-tujuan Laudato Si mencoba menjawab pesan-pesan itu dengan keadilan ekologis, keadilan sosial ekonomi, perubahan struktural ekonomi, perubahan gaya hidup, transformasi pendidikan, serta transformasi spiritualitas, dengan mendasarkan diri pada semangat partisipatif dan roh komunitas. Ttujuh tujuan pokok Laudato Si itu terdiri dari :

  1. Jawaban atas tangisan bumi, yang berfokus pada upaya-upaya mengatasi krisis lingkungan yang ada serta upaya sistematis untuk mengembangkan hidup bersama yang berkelanjutan. Dicastery mendorong penggunaan lebih banyak energi bersih terbarukan dan pengurangan bahan bakar fosil untuk mencapai karbon netral dan usaha-usaha untuk melindungi dan mendukung keanekaragaman hayati, menjamin keterjangkauan air bersih bagi semua, dan lain-lain.
  2. Jawaban atas tangisan mereka yang miskin, mencakup langkah-langkah serius untuk pembelaan kehidupan manusia mulai dari konsepsi hingga akhir hayatnya dan segenap bentuk kehidupan di Bumi, dengan perhatian khusus pada kelompok-kelompok rentan seperti masyarakat adat, migran, anak-anak yang menghadapi resiko perbudakan, dan lain-lain.
  3. Ekonomi ekologis, DIcastery melihat bahwa problem utama dari peradaban manusia kontemporer yang tidak ramah lingkungan adalah dianutnya model ekonomi yang menjadikan eksploitasi dan dominasi manusia atas alam sebagai prinsipnya. Model ekonomi ini harus diubah melalui penulisan kembali model-model bisnis yang ada agar lebih lestari dan menghormati kehidupan.  Termasuk di antara upaya-upaya ekonomi ekologis adalah pengembangan sistem produksi yang berkelanjutan, perdagangan yang adil, konsumsi yang etis, investasi yang etis, divestasi dari bahan bakar fosil dan setiap kegiatan ekonomi yang berbahaya bagi planet dan umat manusia, investasi pada energi terbarukan, dan lain-lain.
  4. Penerapan gaya hidup sederhana.  Seluruh Gereja dan masyarakat didorong untuk mampu membangun gaya hidup yang sederhana, di antaranya mencakup pengurangan dalam penggunaan sumber daya dan energi, menghindari plastik sekali pakai, lebih banyak menerapkan pola makan nabati, dan mengurangi konsumsi daging, lebih banyak menggunakan transportasi umum, dan menghindari moda transportasi yang mencemari, dan lain-lain.
  5. Pendidikan ekologis harus menjadi dasar pendidikan semua umat manusia. Manusia harus dididik sejak awal untuk tidak hanya berkarakter, unggul, dan maju dalam teknologi, tetapi menjadi satu dengan alam sekitarnya, dan mampu mengembangkan hidup berkualitas bersama-sama dengan alam lingkungannya. Kehidupan manusia harus dikembalikan pad eksatuan organiknya dengan alam lingkungan dan semangat dasar ini menjadi prinsip dasar dalam sistem pendidikan kita. Untuk itu perlu dipikirkan dan direncanakan kurikulum pendidikan dan reformasi lembaga pendidikan dalam semangat ekologi integral untuk menciptakan kesadaran dan tindakan ekologis; mendukung panggilan ekologis kaum muda, guru, dan pemimpin pendidikan, dan lain-lain)
  6. Spiritualitas ekologis, alam harus dipulihkan sebagai sesama ciptaan yang membawa wajah Allah di segenap aspek kehidupan, dan tendensi hegemoni manusia sebagai puncak piramida ciptaan harus diubah menjadi ekosistem cintakasih dari segenap ciptaan. Untuk itu kita harus memulihkan visi religius dari ciptaan Allah; mendorong hubungan yang lebih besar dengan alam dalam semangat keajaiban, pujian, kegembiraan dan syukur; memajukan perayaan liturgis yang berpusat pada ciptaan; mengembangkan pengajaran iman (katekese), doa, retret, formasi yang ekologis; dan lain-lain.
  7. Penekanan pada keterlibatan komunitas dan aksi partisipatoris untuk merawat ciptaan di tingkat lokal, regional, nasional, dan internasional. Proses memulihkan persaudaraan kembali dengan alam semesta sekaligus menciptakan tatanan hidup baru yang lestari tidak dapat dilepaskan dari proses penciptaan dan peziarahan bersama umat manusia sebagai komunitas. Untuk itu partisipasi dan inisiatif warga harus menjadi landasan dasar dari bangunan ekonomi integral ini. Untuk itu dibutuhkan upaya-upaya untuk memajukan advokasi dan kampanye masyarakat, mendorong keberakaran pada di ekosistem wilayah dan lingkungan setempat.

Cyprianus Lilik K. P.

Sumber :

Ensiklik Paus Fransiskus, Laudato Si, 24 Mei 2015
Laudato Si Goals dapat dilihat di Booklet Tahun Perayaan Khusus Laudato Si (24 Mei 2020-24 Mei 2021)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *