Kamis, 18 Juni 2020, di hadapan jurnalis yang terbatas dan mengikuti standar penjarakan fisik, panel yang terdiri dari para pemimpin lembaga di vatikan dan organisasi Katolik dunia meluncurkan dokumen berjudul “Journeying for the care of the common home”.  Dokumen setebal 225 ini dipersiapkan oleh Holy See Interdicastery Table on integral Ecology sejak 2015 dengan berusaha mengevaluasi kembali berbagai macam gerakan dan langkah yang muncul untuk memperjuangkan ekologi integral. Dokumen ini diharapkan bisa menjadi panduan yang membantu umat Katolik dan masyarakat luas untuk membangun hubungan sejati dengan segenap ciptaan.

Sekretaris Hubungan Negara-negara, Uskup Agung Paul Gallagher, menyatakan bahwa dokumen tersebut memuat kontribusi dari berbagai konferensi uskup tingkat benua, organisasi internasional, Gerakan Katolik, para superior jenderal, serta jaringan berbagai lembaga masyarakat sipil.

Peluncuran dokumen ini bersamaan peringatan lima tahun penerbitan resmi Laudato Si pada 18 Juni 2015, setelah ditandatangani oleh Bapa Suci pada 24 Mei 2015. Naskah dokumen ini diselesaikan sebelum dunia dilanda Covid-19 dan menggemakan pesan utama Laudato Si bahwa semua ciptaan terhubung satu sama lain, bahwa setiap krisis ekologi terkait erat dengan krisis lingkungan dan sosial yang lebih rumit, dan solusinya membutuhkan pertobatan ekologis yang sejati.

Co-founder dan direktur eksekutif dari Global Catholic Climate Movement, Tomás Insua, yang juga menjadi salah satu partisipan panel ini menyebut buku ini sebagai “peta jalan untuk dunia pasca Covid-19. Sementara itu, Aloysius John, sekretaris jenderal Caritas Internationalis menyebut banyak karya jaringan Karitas di seluruh dunia yang menjadi bagian dari dokumen tersebut sebagai “contoh praktik baik”. Ia juga menyatakan bahwa saat ini banyak ramalam Laudato Si terbukti benar, dan betapa kacamata ekologi integral sangat dibutuhkan  untuk memahami dan mengatasi tantangan dunia saat ini.

Uskup Agung Fernando Vérgez Alzaga, L.C., sekretaris jenderal Gubernur Vatican City, membagikan praktik hijau yang dikembangkan di Vatikan di antaranya penggunaan panel surya, penggunaan lampu hemat energi, sistem transportasi yang lebih hijau, hingga tata Kelola air dan pengembangan keragaman biodiversitas di Vatikan.

Sekretaris Kongregasi Pendidikan Katolik,  Uskup Agung Angelo Zani menekankan keterlibatan kaum muda serta rencana pertemuan Global Compact tentang Pendidikan yang harus ditunda karena pandemic.  Sekretaris Dicastery for Promoting Integral Human Development , Uskup Agung Bruno Marie Duffé, menekankan banyaknya prakti baik dalam dokumen tersebut yang dapat menjadi pintu masuk penerapan ensiklik Laudato Si, dengan harapan hal tersebut akan membangkitkan inisiatif komunitas dan pendidikan ekologis yang lain.

Bagian pertama: pendidikan dan pertobatan ekologi

Bagian pertama dari dokumen ini mengingatkan kembali kita akan pentingnya pertobatan ekologis. Dibutuhkan transformasi mentalitas agar kita mampu merawat kehidupan dan segenap ciptaan, membangun dialog dengan sesama, serta memiliki kesadaran mendalam tentang situasi global saat ini.

Gerakan-gerakan lingkungan hidup harus ditingkatkan di tengah umat, demikian pula dengan tradisi biara yang mengajar kontemplasi, doa, kerta tangan, serta pelayanan. Dengan demikian diharapkan masyarakat semakin memahami relasi mendalam dalam diri, dalam hubungan sosial, serta hubungan dengan alam.

Perlindungan kehidupan dan promosi keluarga

Alam tak mungkin dapat dibela tanpa membela hidup manusia. Demikian tema kehidupan dan manusia menjadi sentral dokumen ini. Pembelaan manusia sepatutnya diperluas dengan gagasan “dosa terhadap kehidupan manusia”, yang menjangkau bukan hanya manusia itu sendiri tetapi juga kehidupan yang melindunginya. Lewat gagasan ini masyarakat akan terbantu untuk mempertajam pembedaan antara “budaya membuang” dan “budaya peduli”.

Keluarga juga berada di pihak ekologi integral. Gagasan ini mendapat penekanan kuat di dalam dokumen, dengan memunculkan prinsip dasar “persekutuan yang berbuah”. Keluarga menjadi tempat istimewa dalam mendidik seseorang agar ia menghormati manusia dan segenap ciptaan. Mempromosikan kebijakan untuk mengembangkan keluarga dalam tugas ini sangat baik untuk dilakukan.

Arti penting sekolah dan universitas

Sekolah sebagai pusat pembentukan kemampuan kritis, penegasan, dan kapasitas bertindak secara bertanggung jawab, dipanggil menjadi pusat baru dalam upaya besar ini. Ada dua tawaran yang diajukan dokumen ini : memfasilitasi hubungan antara keluarga (rumah), sekolah, dan paroki, dan mengembangkan program pelatihan “kewargaan ekologis” di kalangan kaum muda. Program ini mempromosikan di kalangan kaum muda bentuk hubungan baru yang melampaui individualisme dan mendukung solidaritas, tanggung jawab, dan perawatan rumah bersama.

Kurikulum di universitas didorong untuk menjadikan ekologi integral sebagai tulang punggung utamanya. Lewat tridharmanya, untuk mengajar, meneliti, dan melayani masyarakat, kampus perlu untuk mendorong mahasiswa mereka berpartisipasi aktif dalam profesi yang mendorong perubahan lingkungan yang positif. Mahasiswa harus mempelajari teologi penciptaan yang memuat relasi manusia dan dunia, dengan menyadari kenyataan bahwa merawat ciptaan memerlukan pendidikan yang berkelanjutan dan “perjanjian Pendidikan” yang benar di antara semua lembaga terkait Pendidikan.

Dialog ekumenis dan antaragama

Komitmen merawat rumah kita bersama adalah bagian integral dari kehidupan Kristen, demikian ditegaskan dokumen ini. Ia bukan pilihan kedua. Perawatan rumah kita bersama adalah wilayah yang sangat baik untuk membangun dialog dan kolaborasi ekumenis dan antaragama. Kearifan-kearifan yang terkandung dalam agama-agama diharapkan mampu mendorong gaya hidup yang lebih kontempatif dan tenang, untuk membantu mengatasi kerusakan bumi kita. 

Ekologi media

Bab terakhir dari bagian pertama dokumen ini didedikasikan untuk komunikasi dan analogi yang mendalam (profound analogy) tentang perawatan rumah bersama kita. Dua hal ini didasarkan pada gagasan “persekutuan, hubungan, dan koneksi”. Dalam hal “ekologi media”, media didorong memperhatikan relasi antara “nasib manusia dan alam”, sembari memberdayakan warga negara dan melawan berita palsu. .

Link : Vatican News

Bagian kedua: ekologi integral dan pembangunan manusia integral

“setiap makanan yang dibuang itu seolah-olah itu dicuri dari meja orang miskin” (LS, 50) seru Paus Fransiskus. Demikian bagian kedua dari dokumen ini dimulai dari tema pangan. Sisa makanan adalah Tindakan ketidakadilan.

Promosi diversifikasi pertanian dan pertanian berkelanjutan, pembelaan pada produsen kecil dan sumber daya alam, serta kebutuhan mendesak akan pendidikan makanan yang sehat, baik dalam kuantitas dan kualitas menjadi seruan dokumen ini.  Dokumen juga dengan kuat menyerukan  panggilan untuk memerangi fenomena seperti perampasan tanah dan proyek agro-industri besar yang mencemari lingkungan. Dokumen juga mendesakkan perlunya perlindungan keanekaragaman hayati.

Bab khusus tentang air dan akses atasnya sebagai “hak asasi manusia yang penting” menjadi bagian selanjutnya. Seruan minimalisasi limbah dan meninggalkan cara berpikir utilitarian yang melahirkan praktik privatisasi atas alam juga muncul di sini.

Berinvestasi dalam energi terbarukan

Berinvestasi dalam energi terbarukan dibahas dalam bagian selanjutnya. Perlunya pengurangan polusi, mengurangi kadar karbon dalam energi dan ekonomi, penguatan energi yang bersih dan lestari, serta akses untuk semua.

Di jantung ekologi integral juga dibicarakan tema laut dan samudera sebagai paru-paru biru dari planet ini. Perhatian pemerintah perlu dipusatkan pada harta bersama seluruh kehidupan ini, secara khusus dengan menerapkan prinsip subsidiaritas atasnya.

Ekonomi sirkular yang secara sadar menolak mengeksploitasi lebih lanjut sumber daya produktif bumi dan menekankan pada pemeliharaan jangka panjang atasnya harus dipromosikan. Sumber daya produktif itu harus dapat dimanfaatkan Kembali secara berkelanjutan. Sampah bukanlah sesuatu untuk ditolak, konsep ini harus ditinggalkan, karena segala sesuatunya memiliki nilai bagi kehidupan.

Ekonomi sirkular hanya dapat terwujud berkat kolaborasi positif antara inovasi teknologi, investasi dalam infrastruktur yang berkelanjutan, serta pertumbuhan produktivitas penggunaan sumber daya. Di sinilah peran sektor memegang peran penting.

Juga melalui dokumen ini  sektor privat diundang untuk lebih transparan beroperasi dalam rantai pasokan. Reformasi subsidi bahan bkar fosil dan pengenaan pajak emisi CO2 juga menjadi seruan dokumen ini.

Pembangunan sosial-ekonomi

Pembangunan sosial-ekonomi yang berkelanjutan bagi pekerja harus dipromosikan, hingga kemiskinan dapat diberantas serta mereka yang terpinggirkan menemukan jalan menuju kemajuan sosial dan kemajuan profesional. Pekerjaan yang layak, upah yang adil, upaya untuk memerangi pekerja anak, dan ekonomi inklusif yang mempromosikan nilai keluarga dan keibuan, serta pencegahan dan pemberantasan bentuk baru perbudakan, seperti perdagangan manusia menjadi seruan dokumen ini.

Dunia keuangan perlu untuk menjalankan bagiannya demi kebaikan bersama serta mengakhiri kemiskinan yang ada. Perlu upaya lebih serius untuk mengakhiri praktik surga pajak serta operasi finansial illegal oleh lembaga-lembaga keuangan, Perlu juga upaya untuk menjembatani antara mereka yang mampu mengakses kredit dan mereka yang tak mampu.

Masyarakat sipil, Gerakan anti Korupsi, Hak untuk kesehatan

Tugas pelayanan pemerintahan adalah melayani masyarakat sipil dan keutamaan-keutamaan yang ada di dalamnya. Ini meliputi juga desakan globalisasi yang substantif, demokrasi sosial yang partisipatif, serta visi jangka panjang menurut dasar keadilan, moralitas, dan antikorupsi.

Promosi akses ke keadilan bagi semua, termasuk orang miskin yang terpinggirkan dan dikecualikan adalah keniscayaan yang digaungkan dokumen ini. Perlu juga dipikirkan Kembali secara seksama oleh pemerintah dan pihak terkait pengelolaan penjara agar lebih menekankan rehabilitasi tahanan, terutama kaum muda. Sistem perawatan Kesehatan

Dokumen ini selanjutnya menyorot persoalan system Kesehatan, secara khusus pada persoalan ekuitas dan keadilan sosial. Teks ini menekankan Kembali soal hak atas perawatan eksehatan. Sementara jejaring ekologis meluruh, demikian pula jejaring sosial juga makin hancur. Akibatnya, dalam kedua kasus ini, mereka yang miskinlah yang menjadi korban. Buku ini menawarkan pemecahan kongkrit berupa pemeriksaan bahya terkait penyebaran cepat dari epidemi yang disebabkan oleh virus maupun bakteri. Dokumen ini menawarkan saran konkret, termasuk pemeriksaan bahaya yang terkait dengan “penyebaran yang cepat dari epidemi virus dan bakteri, serta mempromosikan perawatan paliatif untuk mengurangi penderitaan korban.

Arti penting pertanyaan iklim

Penelitian desk interdicasterial atas perubahan iklim  menyatakan bahwa hal tersebut terkait erat dengan dampak lingkungan, etis, ekonomi, politik, dan sosial yang terutama berdampak pada mereka yang termiskin. Dibutuhkan model pembangunan baru yang menghubungkan perjuangan mengatasi perubahan iklim dengan perjuangan mengatasi kemiskinan, selaras dengan ajaran sosial Gereja.

Sembar mengingatkan bahwa tidak ada seorang pun yang bertindak sendirian, kita diingatkan Kembali utnuk berkomitmen pada pembangunan berkelanjutan yang rendah karbon, agar bsia mengurangi emisi gas rumah kaca.  Proposal yang diajukan dalam bidang ini termasuk penghutanan kembali hutan hujan di Amazon serta upaya global untuk memunculkan kategori “pengungsi iklim” agar para korban bencana ekologis terlindung secara hukum dan secara kemanusiaan.

Upaya yang dilakukan oleh Vatikan City State

Bab terakhir dokumen ini memaparkan upaya-upaya yang sudah dilakukan di negara Kota Vatikan. Upaya ini mencakup 4 wilayah penerapan Laudato SI : (1) perlindungan lingkungan (contoh : pengumpulan limbah yang sudah dipilah di semua Kantor di Vatikan; (2) perlindungan sumber daya air (sebgai contoh dengan sirkuit  tertutup untuk air mancur); (3) merawat Kawasan hijau di vatikan; (4) mengurangi konsumsi energi si di Vatikan, misal dengan pemasangan fotofoltaik di tahun 2008 di atap Balai Nervi, penggunaan sistem pencahayaan hemat energi di Kapel Sistine, Lapangan Santo Petrus, dan Basilika Vatikan.

Seluruh panelis dalam jumpa pers tersebut meyakini bahwa kehadiran ensiklik Laudato Si telah mendorong dinamika internasional yang semakin kuat, baik di dalam, maupun terlebih di luar Gereja Katolik, baik umat Kristen lain maupun agama-agama lain. Kehadiran dokumen ini diharapkan menjadi pendorong-penyemangat Gerakan-gerakan, refleksi, diskusi, dan inisiatif kongkrit lebih lanjut di seluruh bumi.

Yogyakarta, 19 Juni 2020
Diolah lagi dari sumber :

Gerard O’Connell, In a new book, the Vatican presses practical implications of ‘Laudato Si, June 18, 2020, https://www.americamagazine.org/politics-society/2020/06/18/new-book-vatican-presses-practical-implications-laudato-si

Isabella Piro, Vatican document on integral ecology: Safeguarding Creation is everyone’s responsibility, June, 18, 2020, https://www.vaticannews.va/en/vatican-city/news/2020-06/vatican-interdicastery-document-laudato-si-safeguarding-creation.html

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *