The COVID-19 pandemic is far more than a health crisis: it is affecting societies and economies at their core. While the impact of the pandemic will vary from country to country, it will most likely increase poverty and inequalities at a global scale, making achievement of SDGs even more urgent.

UN’s Framework for the Immediate Socio-Economic Response to the COVID 19 Crisis

Vonis para pakar WHO bahwa kita semua harus hidup bersama dengan virus Corona dalam jangka panjang, memberi kita pilihan tunggal untuk menulis kembali kebiasaan sehari-hari selaras protokol keamanan kesehatan Covid-19. Ini jelas berdampak bagi hidup keseharian kita, dengan keniscayaan untuk selalu menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak, hingga menyucihamakan benda-benda di sekitar kita sekala berkala.

Lebih jauh dari itu, kebiasaan baru juga melahirkan konsekuensi kultural dan struktural yang lebih mendalam, yang membutuhkan pencermatan lebih jauh. Proses pergantian lembaga penanganan Covid-19 dari semula Gugus Tugas Covid-19 menjadi Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional dapat dilihat sebagai upaya penyesuaian diri terhadap kebutuhan jangka panjang dari upaya pengendalian dampak Covid-19 ini, serta penanganan sektor terpenting yang juga paling terdampak : ekonomi. Selain ancaman kesehatan itu sendiri, era kebiasaan baru sebagai babak berikutnya dari pandemi Covid-19 telah memunculkan tantangan keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan yang baru  yang membutuhkan respon kreatif kita sebagai pekerja keadilan, perdamaian, dan keutuhan Ciptaan :

Krisis ekonomi dan dampak ikutannya

Krisis ekonomi akibat Covid-19 adalah keniscayaan bagi kita semua saat ini. Ada setidaknya 4 lapis persoalan yang harus diselesaikan untuk menciptakan keamanan dan kesejahteraan ekonomi yang lestari : 

Terancamnya eksistensi dan martabat manusia dalam bentuknya yang paling dasar : Krisis ekonomi yang mengakibatkan menurunnya kualitas hidup manusia, selalu menciptakan dampak yang lebih berat bagi mereka yang miskin dan termarginalkan. Krisis ini berarti peningkatan kerentanan di tengah warga miskin, karena berimbas bukan hanya pada kesehatan dan kebutuhan dasar sehari-hari, melainkan juga pada kohesi sosial, keamanan pribadi, akses layanan publik, pendidikan anak-anak miskin, dan seluruh sektor kehidupan lainnya. Dibutuhkan langkah bersama untuk mengatasi, atau setidak-tidaknya mengurangi dampak tekanan ekonomi bagi si miskin di tengah pandemi Covid-19 yang berkepanjangan ini.

Mengatasi kerusakan ekosistem ekonomi Covid-19. Pemulihan ekonomi juga tidak akan berjalan cepat, mengingat kerusakan ekosistem ekonomi akibat Covid-19 dan masih berlakunya batasan-batasan Covid-19 yang menyebabkan ekonomi belum dapat berfungsi secara maksimal.

Membangun ekonomi adaptatif dan tahan krisis multidimensional. Lebih mendalam lagi, kita ditantang bukan hanya untuk pemulihan ekonomi, melainkan menemukan bentuk adaptasi baru format ekonomi di bawah ancaman pandemi atau ancaman-ancaman besar yang lain. Sebuah ekosistem ekonomi yang mampu bertahan dan bertumbuh di dalam ancaman krisis biologis atau bentuk krisis multidimensional lainnya.

Menumbuhkan ekonomi lestari. Tantangan keempat sangat terkait dengan tantangan sebelumnya, yakni bagaimana menciptakan sistem ekonomi ekologis. Sistem ekonomi yang memastikan terjaminnya hak-hak generasi di masa depan akan kesejahteraan, pertumbuhan ekonomi, bumi yang tetap berkualitas dan berdaya melindungi keragaman ciptaan di dalamnya.

ketidakadilan teknologi

Solusi serba dari rumah hanya bisa dijangkau mereka yang memiliki pengetahuan dan kemampuan adaptasi dengan teknologi, khususnya teknologi digital. Mereka yang belum melek teknologi digital, , tidak ditopang infrastuktur  digital yang memadai, serta tak memiliki sumber daya mengakses hal tersebut dengan sendirinya tak bisa beradaptasi dengan perubahan yang ada. Jika Covid-19 masih memungkinkan pertumbuhan atau setidak-tidaknya arus ekonomi yang terus hidup, mereka yang berada di bawah piramida teknologi baik dari pengetahuan, infrastruktur maupun sumber daya, adalah mereka yang nyaris tak bisa mengakses hal tersebut.

Di satu sisi, pandemi Covid-19 telah memberikan percepatan luar biasa pada adaptasi dan penyebaran teknologi digital di tengah masyarakat. Covid-129 memaksa masyarakat, pemerintah, dan swasta melakukan pembangunan kapasitas teknologi secara massif demi mempertahankan kehidupan ekonomi, pendidikan, pemerintahan, kesehatan, dan kegiatan publik yang lain. Namun demikian fenomena ini juga melahirkan pelebaran kesenjangan teknologi di tengah masyarakat. Mereka yang memiliki akses teknologi tetap mampu mempertahankan kualitas hidup mereka, menjalankan roda ekonomi serta pendidikan, dan memperoleh informasi kesehatan yang memadai. Sebaliknya mereka yang tak memiliki akses teknologi beratri kehilangan kesempatan bekerja, rentan karena relatif terisolir dari informasi kesehatan yang memadai, sementara anak-anak mereka kehilangan kesempatan belajar yang mereka butuhkan untuk menembus batas kelas sosial.

Mereka yang lemah secara teknologi akan semakin tak berdaya di tengah era pandemi ketika partisipasi dan adaptasi sangat ditentukan oleh kapasitas teknologi. Teknologi telah memunculkan struktur kekuasaan baru, sekaligus membuka medan gerakan sosial baru. Advokasi keadilan teknologi adalah bagian penting dari kemanusiaan baru di tengah pandemi Covid-19.

munculnya konflik-konflik sosial ke permukaan

Era kebiasaan baru juga ditandai dengan kembali mengemukanya konflik-konflik sosial yang untuk sesaat teredam oleh Covid-19. Pelonggaran-pelonggaran yang berlangsung telah memungkinkan munculnya konflik ke permukaan dan mengemuka di ruang publik. Kasus penolakan makam sesepuh Sunda Wiwitan di Kuningan menjadi contohnya.

Artinya upaya advokasi dan perlindungan hak-hak dasar warga negara harus semakin dikuatkan terlebih mengingat Pemilihan Kepala Daerah dimungkinkan untuk dilaksanakan di tahun 2020 ini. Sudah menjadi rahasia umum, ajang pemilu selalu memunculkan peristiwa kekerasan dan pelanggaran HAM. Perhatian kembali pada kasus-kasus dan tegangan konflik lama harus mendapat perhatian khusus di era kebiasaan baru saat ini.

bumi yang kembali menghilang

Nostalgia dengan bumi yang untuk sesaat kembali di tengah-tengah Covid-19 lewat hadirnya landskap dan kehidupan alami di tengah pengalaman urban dunia hanya sensasi romantis yang bersifat temporer, akan hadirnya Ibu Bumi yang ada di sana namun terasing dan terbuang akibat praksis hidup dan kebudayaan manusia.

Sejauh ini skala massif bencana Covid-19 belum berjejak pada kesadaran publik perlunya perubahan paradigma hubungan manusia dan bumi. Tekanan ekonomi dan tantangan kesehatan tidak memberi kita kesempatan untuk secara mendalam merenungkan kembali perlunya mengubah tata hubungan antara manusia dan alam demi kehidupan yang lebih lestari.

Di sisi lain, persebaran Covid-19 secara global tidak lepas dari berubahnya ekosistem bumi akibat hegemoni manusia atasnya, yang mengubah bukan hanya iklim namun seluruh elemen kehidupan mulai dari gen hingga rantai makanan. Diperlukan inisiatif-inisiatif yang lebih kuat untuk mengangkat kesadaran ini menjadi perubahan yang lebih sistemik sifatnya.

panggilan menjadi problem solver yang kreatif

S\elamatkan hidup, lindungi masyarakat, dan bangun kembali dengan lebih baik, demikian seruan utama PBB menanggapi Covid-19. Covid-19 telah membawa kita kepada ancaman-ancaman baru. Sebaliknya Covid-19 juga membawa kepada kita peluang-peluang untuk menyemai perubahan.Di celah-celah antara ancaman dan peluang, kita diundang mengembangkan daya-daya kreatif untuk membela nilai, membela kehidupan.

Yogyakarta, 25 Juli 2020
Cyprianus Lilik krismantoro Putro

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *