Di hari-hari ini, pembelaan kepada martabat kehidupan semakin terasa dibutuhkan. Di negeri tempat sebagian elit politik kehilangan akal sehatnya, menggunakan segala cara untuk meraih kekuasaan, rela membeli kekerasan demi kepentingan pribadi, bahkan dengan mudah mengorbankan nyawa dan memainkan ayat-ayat Tuhan, berjuang demi mempertahankan dan memulihkan martabat manusia adalah sebuah keniscayaan.
Benar, kita telah melalui sejarah panjang sejak berakhirnya kediktatoran Suharto di tahun 1998, benar bahwa kita semua bisa memilih secara demokratis, kebebasan informasi kita rayakan, politik sudah bergeser dari dominasi partai tunggal penguasa menjadi sistem multipartai, keragaman daerah saat ini jauh lebih dihargai lewat otonomi, korupsi perlahan dikikis di beragam institusi, sementara lembaga publik mulai ditata ulang melalui reformasi birokrasi. Sebuah pencapaian yang jauh bagi kita semua. Toh meski demikian, kita masih tetap dihadapkan dua kenyataan pahit: politik tanpa etika serta pembangunan yang belum berpusat pada manusia.
Intan Olivia Marbun, gadis kecil berusia dua tahun yang gugur dalam bom molotov di Gereja Samarinda bulan lalu, adalah korban praktik politik elit yang tak beretika, yang mengangkangi ayat-ayat Tuhan demi kekuasaan. Perempuan-perempuan Kendeng perkasa yang menyemen kakinya adalah saksi dari bentuk-bentuk pembangunanisme purba Orde Baru yang sebagai ideologi belum pernah secara tuntas dibongkar di dalam tubuh lembaga-lembaga publik dan bisnis kita.

Kekuasaan yang Haus Darah

Setara dengan Alan Kurdi, seorang bocah pengungsi yang gugur tenggelam dalam upaya keluarganya mencari jalan keselamatan dari peperangan di Suriah, Intan Olivia Marbun adalah pahlawan bagi kita semua, kematiannya adalah kesaksian terbesar dari praktik politik hitam yang subur menjamur setiap kali pemilihan umum digelar. Praktik politik totaliter masih membayangi negeri yang tertatih menempuh jalan demokrasi ini.
Totalitarianisme dalam berpolitik itu masih dianut sebagian politisi negeri ini, hingga mereka menjalankan segala cara untuk merengkuh kekuasaan. Meminjam ungkapan band heavy metal Jerman yang legendaris, Rammstein, dalam lagu mereka Ich Will, kekuasaan politik itu menginginkan fantasi publik (ich will eure Phantasie), menghisap energi publik (ich will eure Energie), meminta publik bertepuk tangan, meminta publik merasakan dan mendengar mereka, untuk: Ich verstehen euch nicht ! Aku tidak (perlu) mengerti kalian!
Ada yang hilang dari bentara politik kita, politik yang dilahirkan Rm Tirto Adhisoerjo lewat jurnalisme yang membela kaum miskin; dokter Wahidin yang menggalang studentfond dan merajut solidaritas bangsa Jawa, Tan Malaka lewat gerak bawah tanah, tulisan-tulisan, dan inspirasinya kepada gerakan pemuda; Soekarno lewat pidato-pidatonya yang mendidik bangsa; hingga Gus Dur yang mencerdaskan publik lewat manuvernya yang kontroversial, serta kotbah dan lelucon cerdasnya. Politik yang membela kaum tertindas, politik yang mencerdaskan publik. Itu mengapa mereka disebut Guru Bangsa, karena lewat praksis politiknya mereka mendidik dan memberdayakan bangsanya.
Sebaliknya, budaya politik totaliter yang di era Suharto masih dibalut dengan kesantunan “bapak pembangunan” kini nampak vulgar dihidupi para politisi karbitan, yang ingin membeli murah kekuasaan dengan segala cara yang dimungkinkan.
Bagaimana membangun politik yang mendidik dan memanusiakan? Memulihkan praktik politik sebagai aksi pemerdekaan? Membangun budaya politik sebagai budaya kemanusiaan?

Kritik (ulang) Pembangunanisme

Sementara itu, bentang pegunungan kapur Kendeng membuka mata kita, betapa sekalipun kita sudah melangkah cukup jauh sejak Reformasi 1998, kita belum pernah secara tuntas melakukan kritik atas ideologi Pembangunanisme yang diam-diam masih bersemayam di dalam tubuh lembaga publik (dan bisnis) kita. Pembangunanisme adalah pendekatan yang bertumpu pada gagasan: serahkan riset pada para teknokrat, bangun stabilitas nasional, dan serahkan kemajuan kepada mesin birokrasi (dan bisnis).
Mengikut model Tiongkok, prioritas pembangunan nasional di era Jokowi bertumpu pada pengembangan infrastruktur. Benar ia menopang upaya pemerataan pada tingkat paling dasar. Namun, di sisi lain ia juga mengekspos masyarakat lokal pada situasi rentan vis avis kekuatan-kekuatan yang lebih besar. Prioritas pada isu infrastruktur juga berarti tertutupnya isu nilai dan hak-hak asasi manusia dalam panggung politik nasional. Hal ini sangat terasa dalam lemahnya komitmen pemerintah saat ini pada penyelesaian kasus HAM dan bermunculannya kasus-kasus baru perendahan martabat kehidupan. Artinya, ke depan korban-korban kekerasan baik fisik maupun non fisik masih akan terus berjatuhan.

Mencari Harapan di Hari Hak Asasi Manusia

Dua isu besar ini menjadi tantangan kita, publik kewargaan untuk bertindak dan berjuang: mengendalikan cara-cara kekuasaan politik dicapai (kampanye hitam, rekayasa kasus, dan lain-lain) dan mengubah metode-metode kekuasaan digunakan (pembangunan yang tak manusiawi dan tak ramah lingkungan).
Era para pemimpin besar sudah terlewat, kita tidak lagi membutuhkan pahlawan-pahlawan kesiangan, di era serba terkoneksi oleh kemajuan teknologi, bukankah aksi koin untuk Pritta Mulyasari, gerakan Cicak lawan Buaya, hingga kampanye presiden Jokowi 2014, telah menunjukkan kepada kita semua kekuatan dari kesadaran kritis warga yang saling berjejaring dan bergerak bersama ? Hati nurani itu masih ada, solidaritas berbasis teknologi adalah alat baru yang dipersembahkan jaman kepada kemanusiaan.
Dengan ditopang hati nurani yang semakin peka dan teknologi, waktunya bagi kita untuk menggemakan kembali pesan-pesan perlunya penghormatan dan penegakan hak-hak asasi manusia di tengah hidup berbangsa. Teknologi harus menjelma menjadi instrumen pemerdekaan. Sebuah teknologi yang memerdekakan.
Di sisi lain, bagaimana peran agama dan praktik keberagamaan dalam menopang perjuangan penegakan martabat kehidupan ?

Gereja dan Panggilan Kenabiannya

Bagi kita, panggilan pembelaan kepada kaum miskin dan tertindas adalah keniscayaan. Sesudah kata ite missa est diucapkan seorang imam, di situlah karya kongkrit Gereja dan pribadi Katolik di dalamnya sungguh dimulai. Bagi kita umat beriman, seruan tersebut bukan sebuah penutup dari sebuah liturgi doa semata, ia adalah sebuah awal bagi sebuah ekaristi kehidupan: sebuah peziarahan pribadi dan komunal manusia mengikuti teladan kurban dan salib Kristus.
Pesan perutusan Kristus yang sederhana itu berubah menjadi sangat rumit ketika ia memasuki ruang sejarah. Bagaimana Gereja Indonesia mampu membangun laku profetik dalam kehadirannya di tengah masyarakat Indonesia ? Benarkah Gereja Indonesia terlalu tambun hingga tak mampu bergerak cepat ? Lantas bagaimana mungkin, sahabat-sahabat kita NU dan Muhammadiyah dengan jumlah yang jauh lebih besar mampu membangun gerakan kenabian yang kuat dan terorganisir?
Atau jangan-jangan kita semua menjebakkan diri dalam kerumitan metode sehingga menunda-nunda aksi demi perencanaan yang sempurna ? Sementara itu perjuangan kenabian tidak harus selalu dikelola dengan pendekatan LSM, apalagi pendekatan perencanaan pembangunan nasional yang sangat rumit itu. Gereja pertama-tama adalah komunitas, dan komunitas bergerak karena teladan, narasi, dan tradisi. Memusatkan energi umat dan energi pastoral pada tiga hal ini akan bermakna sama besarnya dengan pendekatan-pendekatan perencanaan pembangunan yang digagas para teknokrat.
Perubahan cara berpikir dan cara hidup bisa dilakukan melalui model sederhana tetapi sangat kongkrit sebagaimana dilakukan Romo Kirjito, Pr melalui laboratorium sederhana dan gerakan riset air partisipatifnya, atau sebagaimana disemai Romo Hartono, Pr dengan sanggar-sanggar anaknya.
Keutamaan tidak dirancang hanya untuk pahlawan-pahlawan besar kemanusiaan, tidak pula menuntut sistem rekayasa dan birokrasi yang rapi. Perjuangan keadilan, kebaikan, dan kasih adalah hak setiap orang dan bisa dilakukan dengan cara yang sederhana. Bukankah Allah hadir melalui ketulusan hati kanak-kanak ? Bukankah Allah hadir dengan cara yang sederhana ?
Dan mungkin, Gereja perlu belajar dari sosok mbah Djiantini.
Malam itu, mbah Tini mengenakan pakaian terbaik yang ia punya. Ia berdandan sebaik mungkin sebelum berdoa di hadapan sosok Bunda Kristus yang patungnya bersemayam di Gua Maria kecil di belakang rumahnya. “Sowan Kanjeng Ibu, kudu dandan.” Tutur mbah Tini dengan senyum renyahnya.
Suatu pagi di tahun 2011, nenek berusia 70an tahun dari Dusun Glondong Purwobinangun, Pakem, Sleman itu sendirian berdemonstrasi ke kantor kepala desa dan kantor polisi. Ia tidak mau pulang sebelum aparat menghentikan praktik penambangan pasir liar dan perusakan bantaran sungai Boyong dengan alat-alat berat yang sudah berlangsung tiga minggu di dusunnya. Aksi tunggal mbah Tini ini kemudian bergulir menjadi gerakan massa. Keberaniannya menginspirasi ribuan warga di tepi Sungai Boyong untuk melawan para penambang pasir liar, preman-preman, dan para backing-nya. Sebuah perjuangan panjang yang berujung dengan penghentian penambangan pasir di kawasan tersebut oleh pejabat Bupati Sleman.
Perjuangan keadilan dan perdamaian itu begitu dekat. Semangat kenabian itu bersemayam dalam diri setiap orang. Untuk kehidupan yang bermartabat, yang kita perlukan hanyalah menyalakan harapan di hati orang-orang kecil dan sederhana, melalui merekalah daya kreatif Tuhan mencipta dan mengalirkan berkat bagi kehidupan.

Komisi Karya Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan KAS

Dalam upaya merespon tantangan-tantangan riil yang dihadapi masyarakat umum dan Gereja pada khususnya, serta dalam rangka membentuk tradisi pemerdekaan di tengah umat beriman inilah, Gereja Keuskupan Agung Semarang (KAS) menyepakati hadirnya komisi baru di lingkup KAS, Komisi Karya Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan (KKPKC) Keuskupan Agung Semarang. Bersama-sama komisi-komisi lain di KAS, khususnya kluster komisi-komisi “martabat” (PK4AS, PSE, dan HAK), KKPKC ingin turut menyumbang lahirnya umat beriman yang berani memperjuangkan lahirnya peradaban kasih di tengah Gereja dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Dalam sebuah peradaban kasih, laku doa mencapai puncaknya: Allah yang menyatakan karya keselamatanNya di tengah-tengah manusia, dan mengangkat kehidupan dari realitas dosa kepada hakikat keilahiannya yang sejati.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *