Pada tulisan sebelumnya, kita sudah melihat betapa daerah dihadapkan pada tiga tantangan simultan menghadapi Covid-19 : ketersediaan fasilitas kesehatan di daerah, dilema tarik ulur antara faktor kesehatan dan ekonomi (serta kepentingan-kepentingan lain), serta pergeseran wacana publik ke pelonggaran protokol kesehatan, yang sejatinya belum waktunya untuk dilakukan di tingkat daerah.

Kondisi ini memaksa kita untuk mau tidak mau kita harus mendorong percepatan kesiapsiagaan daerah, pengembangan desain skenario kebijakan penanganan Covid-19 yang menopang perimbangan faktor ekonomi dan kesehatan, serta keharusan terus-menerus mewartakan kedisiplinan publik untuk melawan arus wacana yang terjadi. Dalam praktek, di satu sisi kita berhadapan dengan kondisi riil keterbatasan sumber daya, kedisiplinan perilaku bahkan di antara aparatur dan para relawan sendiri, serta keragaman situasi lokal politik, demografi dan sosial budaya yang ada, sementara di sisi lain, kita harus memahami betul tingkat dan fase penyebaran virus apa yang sedang melanda di sebuah daerah.

Empat tingkat penyebaran

Ada empat fase dalam penyebaran penyakit hingga mencapai pandemi.[i] Pertama, bila penderita sakit adalah mereka yang berasal atau berkunjung dari daerah episentrum wabah. Kedua transmisi lokal, yakni bila mereka yang berasal daerah pusat wabah menulari kerabat dan orang terdekat mereka. Pada tahap ini masih dimungkinkan melakukan pelacakan kontak mengingat dimungkinkannya penelusuran kontak. Jumlah penyidap penyakit juga belum banyak. Upaya penahanan (containment) terhadap penyakit dapat dilakukan mnelalui karantina diri. Fase ketiga adalah transmisi komunitas, bila penyebaran wabah mulai berlangsung pada tingkat komunitas. Penularan mulai menyebar di antara mereka yang tidak memiliki kontak langsung dengan penderita, juga tidak pernah mengunjungi daerah pusat wabah. Transmisi komunitas sulit untuk dibendung mengingat penularan sulit dilacak karena berlangsung di ruang publik sehingga cenderung bersifat anonim. Penularan antar penumpang angkutan umum atau pengunjung pasar misalnya, sulit untuk bisa ditelusuri. Fase keempat adalah epidemi, yakni penyebaran penyakit yang sangat sulit dikontrol dan mengenai masyarakat dalam jumlah besar dan berlangsung sangat cepat.

Masing-masing jenis transmisi memiliki pola penanganannya tersendiri. Pendekatan tracking dan tes efektif untuk mengatasi transmisi lokal. Pendekatan tes massal dan karantina lokal  pada suatu daerah tertentu dibutuhkan untuk bisa mengatasi transmisi komunitas. Sementara karantina pada kawasan yang cukup luas dibutuhkan untuk menangani situasi epidemik.

Sumber daya untuk mengatasi setiap jenis transmisi berbeda-beda, namun jelas semakin besar skala penyebaran semakin dibutuhkan sumber daya yang lebih besar untuk mengatasinya. Kemampuan penanganan tergantung pada (1) kedalaman pemetaan,(2) kecepatan, (3) efektivitas langkah yang dipilih berdasarkan analisis situasi/hasil pemetaan, (4) sinergi pemangku kepentingan, dan (5) eksekusinya. Penanganan Covid-19 di berbagai negara menunjukkan semakin cepat dan menyeluruh negara itu mengambil tindakan, kasus yang ada semakin bisa diminimalkan. Korea Selatan, Taiwan, Kamboja, Vietnam, adalah negara-negara yang terdekat dengan China sebagai pusat awal pandemi, namun kesiapsiagaan mereka berhasil membendung penyebaran pandemi di negeri-negeri itu.

Transmisi lokal sudah terjadi di banyak tempat di Indonesia, sementara transmisi komunitas juga mulai muncul di beberapa kasus, misal di beberapa rumah sakit, serta yang terbaru (dan masih dalam pemeriksaan) diduga terjadi pusat perbelanjaan di Yogyakarta. Dari transmisi lokal dan transmisi komunitas dapat menjelma menjadi klaster lokal. Klaster-klaster lokal yang masih terlacak berkembang di beberapa kota. Beberapa klaster menyebar cukup luas dan menjadi klaster nasional,[ii] bahkan internasional. Di Jawa Timur saja teridentifikasi 52 kluster.[iii]

Penguncian dalam mobilitas manusia dan barang antardaerah menjadi prioritas. Pendataan mobilitas, desinfetasi di tiap-tiap simpul pergerakan manusia dan barang menjadi sangat penting dan mutlak untuk dilakukan.

Pengembangan Kekuatan Penanganan Covid-19 di Daerah

Di saat pusat penyebaran awal di Jakarta, Jawa Barat dan Banten mulai menurun, tantangan penanganan Covid-19 semakin terdistribusi ke berbagai daerah. Bagi penulis (1) pembentukan disiplin protokol kesehatan di masyarakat; (2) pengendalian mobilitas manusia dan barang; (3) pengembangan fasilitas kesehatan; serta (4) kebijakan dan strategi pendukung terutama di sektor ekonomi, ketersediaan pangan, dan energi menjadi kunci utama. Dalam hal ini ada lima langkah yang harus dilakukan di tingkat daerah :

Pertama, pemetaan kesiapsiagaan daerah secara menyeluruh dan mendalam mutlak dilakukan untuk memperoleh gambaran kapasitas yang dimiliki, tantangan yang mungkin timbul, skenario yang akan terjadi, dan peluang-peluang yang bisa dikelola untuk mengatasi penyebaran Covid-19.

Kedua, penyusunan rencana operasional, rencana strategis, dan rencana sektoral untuk mengatasi penyebaran Covid-19 di daerah-daerah secara partisipatif dan sinergis termasuk skenario-skenario yang ada dan bagaimana penanganannya.

Ketiga, pembukaan partisipasi dan sinergi antar elemen yang ada secara bersungguh-sungguh dan kongkrit di lapangan. Kita semua menyadari, partisipasi dan sinergi telah menjadi jargon namun sangat lemah dalam pelaksanaan. Semua pihak harus menyadari bawa partisipasi dan sinergi antar berbagai elemen akan mampu mengatasi kelangkaan sumber daya, mengatasi celah dalam tindakan dan kebijakan, serta memberi kapasitas sistemik untuk mengelola persoalan yang ada. Kemampuan berkomunikasi, saling berpartisipasi, dan bersinergi adalah niscaya dalam penanganan Covid-19.

Keempat, pembentukan komitmen bersama atas protokol kesehatan yang ada dan rencana aksi bersama, serta dan pelaksanaannya secara berdisiplin  di semua lapisan oleh semua pihak : pribadi, keluarga, komunitas, tempat kerja, dan ruang publik. Maka penguatan jejaring sosial koordinasi, komunikasi, dan pendidikan publik adalah niscaya untuk dilakukan.

Kelima, penguatan sinergi regional antar daerah. Penyebaran Covid-19 sangat tergantung pada mobilitas manusia dan barang, rantai ekonomi, serta pola sosial budaya setempat. Artinya, penanganannya tergantung pada pengelolaan koridor-koridor transportasi, sosial, ekonomi, dan budaya yang menaungi daerah-daerah yang ada. Kerjasama dan penyelarasan kebijakan antar daerah tidak dapat tidak harus dilakukan.

Mencari model kehidupan bersama Covid-19

Selain (1) pembentukan disiplin protokol kesehatan di masyarakat; (2) pengendalian mobilitas manusia dan barang; (3) pengembangan fasilitas kesehatan; serta (4) kebijakan dan strategi pendukung terutama di sektor ekonomi, ketersediaan pangan, dan energi, faktor kelima sangat penting untuk ditumbuhkan : kekuatan untuk mempertahankan visi dan terus membangun harapan. Sebuah model hidup dan tumbuh bersama Covid-19 harus dikembangkan dan dikisahkan, agar publik tahu bagaimana harus menyesuaikan kehidupan pribadi, sosial, dan profesionalnya di tengah-tengah bahaya virus Corona yang belum paripurna.

Seiring dengan pernyataan WHO tentang kemungkinan bertahannya Covid-19 untuk rentang waktu yang lama ke depan[iv], perlahan kini sedang muncul, pertama-tama masih sebagai wacana, yakni gagasan kewajaran baru (new normality) yang menempatkan manusia hidup berdampingan dengan lebih aman dan sehat bersama Covid-19.  Makin lama ia makin membentuk dirinya sebagai perangkat kode perilaku hingga menjadi kebiasaan yang meresap ke dalam hidup sehari-hari masyarakat.

Kita semua, oleh kemanusiaan  diundang, untuk berkontribusi bersama untuk membangun habitus baru itu, bukan hanya demi hidup yang lebih sehat di tengah-tengah Covid-19, tetapi hidup yang lebih adil dan lestari bagi segenap ciptaan di muka bumi.

Yogyakarta, 16 Mei 2020
Cyprianus Lilik K. P.


[i] https://www.connectedtoindia.com/the-four-stages-of-covid-19-explained-7280.html

[ii] di antaranya seminar bisnis syariah di Bogor, seminar Gereja Bethel Indonesia di Bandung, Sinode Tahunan GPIB di Bogor, Musyawarah HIPMI Jawab Barat. https://www.kompas.com/tren/read/2020/04/11/193000565/mengetahui-sejumlah-klaster-awal-penyebaran-virus-corona-di-indonesia?page=3, klaster besar yang belum disebut adalah itjma Jamaah tabligh di Gowa dan Ponpes Temboro, Magetan yang menyebar hingga ke Aceh.

[iii] yang cukup besar di antaranya pelatihan Tenaga Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) Asrama Haji Sukolilo Surabaya dengan 167 kasus, klaster Ponpes Temboro Magetan 46 kasus, klaster Surabaya XII-PT HM Sampoerna, https://nasional.tempo.co/read/1341245/beberapa-klaster-penyebaran-covid-19-di-indonesia/full&view=ok

[iv] https://www.tribunnews.com/corona/2020/05/15/peringatan-who-virus-covid-19-tak-akan-hilang

https://kkpkc-kas.org/fase-penyebaran-dan-penguatan-daerah-menghadapi-covid-19/

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *