Romo Endra Wijayanta, Pr

Wisma Tyas Dalem Rejoso (TDR), adalah rumah keluarga Rm. Gregorius Utomo. Sebagai satu-satunya ahli waris, karena saudara kandungnya telah berpulang terlebih dahulu, Romo Utomo tentu berpikirke depan tentang keberadaan rumah dimana dia dididik dan dibesarkan tersebut.Sebagai seorang Imam yang lepas bebas terhadap harta duniawi, beliau sudah sejak lama merencanakan bahwa rumah itu akan diserahkan pada Gereja. Beliau berharapa gar Gereja dapat memanfaatkan sarana yang ada di lahan seluas 3800 m persegi itu dengan baik. Harapan Romo Utomo ini dapat dipahami karena beliau memang pribadi yang sungguh memperhatikan permasalahan yang ada dalam masyarakat khususnya Gereja.

Perhatian beliau kepada para petani sudah dicurahkan sejak masa mudanya. Beliau pernah menjadi pejabat pada kementrian Pertanian di jaman Presiden Sukarno dan disekolahkan di USA untuk memperdalam lagi tentang pertanian dan pemberdayaan para petani. Seluruh hidupnya sungguh dicurahkan untuk masyarakat kecil tanpa memandang dari agama apapun. Sebagaimana seorang rohaniwan Katolik yang membaktikan seluruh hidupnya untuk semua orang, Rm. Utomo adalah sosok panutan dalam hal kepedulian kepada semua orang terutama masyarakat kecil.

Misa Malam Rabu Pon

Sebagai orang jawa yang Katolik, Rm Utomo menggunakan rumah yang terletak di RT 02/RW 06 Dusun Rejoso untuk mengadakan kegiatan khusus. Setiap malam Rabu Pon, beliau mengadakan misa untuk mendoakan leluhurnya. Namun tak hanya itu, beliau juga mendoakan negara Indonesia serta dunia. Umat yang hadirpun banyak yang memohon doa lewat intensi doa yang beliau bacakan satu persatu.

Awalnya yang mengikuti misa tersebut hanyalah keluarga dan orang sekitar. Tetapi lama kelamaan menjadi banyak karena sahabat Romo Utomo dan umat dari luar lingkungan juga mengikutinya. Banyaknya umat tergerak untuk bergabung karena karisma yang dimiliki Rm Utomo.

Namun, ada peristiwa yang berbeda saat rutinitas misa Malam Rabu Pon dilaksanakan pada tanggal 2 Juli 2013.  Kegiatan itu dihentikan secara paksa oleh sekelompok orang dengan alasan tempat tersebut tidak boleh diadakan ibadat karena bukan gereja. Terjadi protes keras dari mereka. Aparat keamanan sendiri cenderung mengikuti kehendak sekelompok orang tersebut. Padahal waktu itu hadir Menhankam, Bapak Purnomo Yusgiantoro. Demi kenyamanan ibadat, akhirnya pelaksanaan misa yang juga bertepatan dengan syukuran imamat ke 50 Rm Utomo tersebut dipindah ke Gereja Maria Assumpta Klaten.

Berdasar dari peristiwa itu, terbitlah keputusan Pemda Klaten yang mengharuskan Wisma TDR memiliki IMB. Bagi beberapa orang hal itu dianggap diskriminatif. Tak terbersit sedikitpun dalam benak Romo Utomo Wisma TDR akan digunakan sebagai gereja. Wisma TDR tetap sebagai rumah hunian biasa yang dapat dipakai semua orang dan semua agama untuk mengadakan kegiatan apapun di tempat itu. Meski hal yang berbeda dihembuskan oleh kelompok yang berseberangan dengan keberadaan Wisma TDR (lihatlampiran 1).

Dinamika Pengajuan IMB

Rm Utomo taat asas. Meskipun keputusanPemda Klaten waktu itu beliau rasa seakan dibuat buat, namun beliau tetapt unduk. Beliau meminta beberapa umat menjadi panitia untuk mengurus pengajuan IMB (Panitia Wisma TDR).

Pengajuan pertama, tahun 2014, mendapat halangan dari pihak penentang Wisma TDR dengan beberapa cara misalnya: beberapa tetangga tidak mau tanda tangan, pembuatan isyu bahwa Wisma TDR akan menjadi gereja dan juga demo. Halangan seperti ini selalu dilakukan oleh mereka tiap kali pengajuan IMB dilakukan  

Tentangan dari kelompok yang berseberangan membuat situasi sedemikian “menakutkan” bagi masyarakat, khususnya umat katolik Lingkungan Rejoso. Tindakan kelompok itu cenderung intimidatif. Setelah pengajuan IMB yang pertama dihalangi, tahun 2015 pengajuan IMB diurus lagi. Pada saat itu semua persyaratan sudah lengkap, termasuk tandatangan wargay ang tanahnya berbatasan dengan Wisma TDR dan tandatangan pejabat desa serta kecamatan. Namun, beberapa orang mendatangi umat yang membawa berkas dan memintanya dengan paksa. Akhirnya surat tersebut “hilang” sehingga tidak bisa diproses lebih lanjut. Perlu diketahui bahwa  ketua RT 02 dan RW 06 dimana Wisma TDR tersebut berada termasuk yang menolak keberadaan Wisma TDR. Akibatnya mereka selalu mengatasnamakan warga untuk melarang apapun yang berkaitan dengan WismaTDR. Padahal sebagian besar warga tidak mempermasalahkannya.

Rentang antara tahun 2015 – 2019 tidak ada kegiatan apapun berkaitan dengan wisma TDR. Sesekali pengajuan IMB memang tetap diupayakan namun selalu tak mudahuntuk dilanjutkan dengan alasan yang sama.

Warga, terutama umat katolik yang akan mengadakan kegiatan apapun di sana masih diliputi kekhawatiran. Banner yang berisi pengumuman dari Satpol PP yang diletakkan di depan Wisma TDR seakan menjadikan kelompok yang tidak setuju keberadaan Wisma TDR diperbolehkan untukmembubarkan kegiatan. Ada kalimat dalam pengumuman itu yang bias arti, yakni: “Terhitung mulai tanggal 26 Juni 2013, segala aktivitas kegiatan dan pembangunan Griya Samadi dinyatakan dihentikan Satpol PP Kabupaten Klaten”. Pengumuman tersebut, oleh panitia Wisma TDR, dianggap bias karena dasar hukum pengumuman harusnya mengacu pada Surat Kepala PU tertanggal 18 Juni 2013 no : 503/ 1472/17 tentang pemberhentian kegiatan pembangunan. Dalam surat tersebut tak ada kata penghentian aktivitas kegiatan namun dalam pengumuman hal itu dimunculkan.

Langkah Baru Pengajuan IMB

Pada tanggal 24 Juli 2019, Wisma TDR digunakan sembahyangan. Ini terjadi karena Bu Marta (adik ipar Romo Utomo yang menempati rumah itu) mendapat giliran untuk sembahyangan lingkungan. Namun beberapa orang mendatangi dan membubarkan sembahyangan tersebut. Mereka berpegang pada isi banner yang dipasang oleh Satpol PP bahwa tempat tersebut tidak boleh digunakan untuk kegiatan.

Prihatin dengan peristiwa tersebut, FKUB Kebersamaan Klaten bertemu dengan Romo FX. Endra Wijayanto sebagai Romo Paroki Santo Yusuf Pekerja Gondangwinangun. Wisma TDR sendiri memang berada didalam wilayah Paroki tersebut. Dari pertemuan tgl 1 Agustus 2019 itulah mulai dirintis lagi untuk mengurus IMB Wisma TDR dengan “panitia yang baru”. Muncullah pemikiran pada pembicaraan itu bahwa yang harus dilakukan pertama kali adalah menjamin secara hukum bahwa aset Wisma TDR menjadi milik PGPM Gereja Gondangwinangun. Akhirnya pada tanggal 3 September 2019 Romo Utomo menghibahkan seluruh aset Wisma TDR kepada PGPM  (Pengurus Gereja Papa Miskin) Gereja St YusufPekerja Gondangwinangun.

“Test case”

Pada tanggal 9 September 2019 bertepatan dengan terpilihnya kembali Gus Marzuki sebagai Ketua  BANSER-ANSOR Klaten, Romo Endra berniat mengadakan syukuran sekaligus sebagai sosialisasi kepada masyarakat sekitar tentang keberadaan Wisma TDR. Acara malam itu berjalan dengan sangat baik. Tak ada tindakan represif dari kelompok yang tidak setuju dengan keberadaan WismaTDR waktu itu, karena Panitia telah bersiap siaga terutama Banser Kabupaten Klaten. Selama perjalanan dinamika pasang surutnya masalah Wisma TDR dari tahun 2013 ANSOR-BANSER memang selalu mendukung keberadaan dan aktivitas Wisma TDR.

Karena kegiatan pertama tersebut sukses maka pada bulan Oktober 2019, dalam rangka Hari Pangan Sedunia, Paroki Gondangwinangun berencana memusatkan kegiatan tersebut di Wisma TDR. Acara berupa diskusi tentang pertanian, kenduri dan kirab budaya. Namun ternyata rencana tersebut mendapat tentangan dari kelompok Ormas tertentu. Bahkan, hal itu dikuatkan oleh aparat pemerintah dengan tetap mengacu pada isi pengumuman pada banner yang terpampang di depan Wisma TDR. Akhirnya kegiatan Hari Pangan Sedunia itu dialihkan ke Kantor Desa Rejoso.

Menyadari tantangan dari pihak yang berseberangan dengan keberadaan Wisma TDR masih kuat maka Panitia justru semakin bersemangat untuk memperjuangkan IMB. Hal ini dianggap penting dan mendesak karena bila masih ada dalam keadaan “status quo” seperti selama itu, maka ketidaknyamanan masyarakat Rejoso justru semakin langgeng. Setelah berkali kali mengadakan rapat, bulan Januari 2020 panitia mulai bergerak untuk memenuhi persyaratan pengajuan IMB. Hal yang tidak mudah mulai dilakukan juga dengan mendatangi warga yang berbatasan langsung dengan Wisma TDR untuk meminta tanda tangan sebagai syarat menentukan batasTDR. Kebetulan disebelah utara dan selatan berbatasan dengan jalan; maka yang perlu tandatangan adalah di sebelah timur dan barat. Sebelah timur semua warga setuju namun warga disebelah barat Wisma TDR hanya satu (1) orang setuju sedangkan tiga(3) warga lain tidak.

Meski demikian, Panitia tetap melangkahke tahap selanjutnya dengan mendatangi Kantor Kepala Desa Rejoso. Namun Pak Sumardi selaku Kepala Desa tetap tidak bersedia tandatangan, dengan alasan bahwa Ketua RT dan Ketua RW belum tanda tangan. Tentu hal ini aneh karena tak ada persyaratan itu di dalam berkas pengajuan IMB. Baru kemudian hari panitia tahu bahwa Pak Sumardi diancam oleh mereka. Meski demikian, Pak Sumardi berjanji dalam waktu dua (2) hari akan menemui warga yang menolak untuk dimintai keterangan dan tanda tangannya. Namun saat Kepala Desa memanggil warga tersebut, Kantor Desa didatangi oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan Ormas tertentu. Tentu sosialisasi yang dilakukan oleh Kepala Desa tersebut gagal. 

Karena peristiwa itu, akhirnya Pemda turun tangan dan meminta permasalahan dibawa ke tingkat kabupaten. Pak Rony selaku Asekwilda berjanji dalam waktu dekat akan mempertemukan Panitia Wisma TDR dan perwakilan masyarakat yang menolak. Namun hal ini tak jadi dilakukan karena panitia Wisma TDR tidak setuju dengan alasan bahwa kelompok penentang pasti akan tetap menolak keberadaan Wisma TDR meskipun Panitia menjabarkan dengan baik. Juga keberatan dari kelompok mereka tidaklah disyaratkan dalam pengajuan IMB. Hanya warga sekitar Wisma TDR sendiri yang berhak untuk menolak atau setuju tentang batas wilayah. Keberatan dengan alasan lain pun tidak dapat menjadi akibat tidak diterbitkannya IMB.

Romo Utomo Wafat

Tanggal 15 Februari 2020, hal yang tidak diduga terjadi. Rm Gregorius Utomo wafat. Perjuangan untuk mendapatkan IMB seakan kehilangan roh. Persembahan indah bagi Rm Utomo dengan turunnya IMB Wisma TDR tidak kesampaian.

Namun tak dapat dipungkiri karena wafatnya Romo Utomo waktu itu, membuat banyak orang berpaling ke Wisma TDR,tempat asal Rm Utomo lahir dan dibesarkan. Tentu ini lumrah karena wafatnya seseorang biasanya menjadikan orang lain ingin tahu hal yang berkaitan orang yang sudah meninggal itu. Apalagi orang yang meninggal itu adalah pribadi utama sekelas Romo Utomo.

Bagaimanapun juga, meski motivator bagi perjuangan mendapatkan IMB Wisma TDR sudah menghadap Tuhan, langkah maju harus tetap berlanjut. Panitia bergerak membuka relasi dengan siapapun agar tujuan tercapai. Kecuali Pemda Klaten yang diwakili Asekwilda, perjumpaan dan komunikasi tentang Wisma TDR dilakukan juga dengan Komandan Kodim, Bu Esti Wijayanti dan Gemayomi, Pak Narno dan Camat Kecamatan Jogonalan. Harapan yang dibangun dengan adanya pertemuan itu adalah dukungan dan posisi yang jelas dari para pihak untuk menjamin terpenuhinya hak warga negara untuk mendapatkan IMB.

Kekuatan Media Sosial

Tulisan “Teladan Utama Romo Utomo” di beranda Fb Rm Endra menjadi artikel yang cukup menyedot perhatian bagi para pengguna media sosial. Tulisan yang dibuat dengan perasaan sedih karena wafatnya Romo Utomo, ditujukan untuk membuka mata banyak orang agar ikut mendukung niat baik Rm Utomo yang belum kesampaian. Tujuan lain adalah  untuk memotivasi panitia TDR dan umat agar tidak surut dan takut dalam memperjuangkan IMB (Lihat lampiran 2).

Panitia yang tetap bersemangat bukan hanya karena tulisan itu namun juga sebab lain digawangi oleh Mas Nata, PakBambang D N dan Pak Mulyadi. Dukungan penuh juga dilakukan oleh Gus Jazuli yangs elalu mendampingi sekaligus juga menjadi jembatan komunikasi antara panitia dengan Pemda Klaten. Gus Marzuki sebagai Komandan Banser – Ansor Kabupaten Klaten juga selalu memotivasi dengan memberikan keyakinan bahwa panitia tidak berjalan sendiri. Panitia menjadi lebih kuat karena ada orang lain yang membantu dengan cara mereka. Pak Susilo, Pak Bebet, Pak Eko, Pak Weno dan PakAgus adalah beberapa diantaranya. Dengan dukungan banyak orang seperti itu dan semakin meluasnya komunikasi dengan banyak orang yang berkepentingan di wilayah Kabupaten Klaten ini, panitia yakin dalam jangka waktu yang tidak lama akan mendapatkan IMB.

Namun hal yang sekiranya sudah pasti yakni IMB turun, ternyata hilang lagi. Pengajuan berkas yang selalu dikomunikasikan dengan Dinas PMPTSP tetap terganjal dengan tiadanya tandatangan dari beberapa warga. Kepala Desa tak bergeming dengan posisinya. Beliau tetap tidak mau tanda tangan dengan alasan keselamatan diri dan keluarganya. Takh anya itu, Camat Jogonalan yang bersedia untuk memfasilitasi perjumpaan panitia dengan warga yang menolak  (hasil rapat bersama 23 Juni 2020), ternyata mendapat intimidasi dari kelompok penentang Wisma TDR juga. Dengan alasan itu, Camat mengembalikan kebijakan pada Pemda Kabupaten Klaten. 

Usai perjumpaan dengan Camat Jogonalan pada tanggal 13 Agustus 2020, tulisan baru tentang perjuangan untuk mendapatkan IMB Wisma TDR muncul lagi dalam beranda Fb Rm Endra dan di media sosial lain. Banyak orang merepost. Tulisan tersebut seakan menjadi notulen pertemuan panitia dengan Camat Jogonalan (lampiran3).

Pada tanggal 14 Agustus 2020, sebelum Pak Camat Jogonalan bertemu dengan Pak Rony selaku Asekwilda, Rm Endra membuat Surat Terbuka yang ditujukan pada Pemda Kabupaten Klaten via Camat Jogonalan. Penulis berharap dengan surat yang lebih tegas semua orang, khususnya Pemda, tahu posisi panitia Wisma TDR dan umat katolik serta warga masyarakat yang mulai “geregetan”dengan adanya ketidaktegasan pemerintah. Sebagai warga Indonesia yang mempunyaih ak sama di mata hukum mengapa keinginan baiknya tidak didukung? Banyak orang dalam jaringan panitia, termasuk Banser – Ansor mulai menanyakan kapan “merapatkan barisan dan bergerak”. Hal ini menakutkan karena konflik horisontal antara pihak pro dan kontra terhadap keberadaan Wisma TDR, dapat terjadi.

Isi surat terbuka tersebut dianggap lugassekaligus tegas namun “wise” kata seorang wartawan senior.

SURAT TERBUKA UNTUKPEMERINTAH KABUPATEN KLATEN

Ibu Bupati dan jajarannya yang kami hormati. Izinkan kami menuliskan curahan hati kami lewat surat ini. Sebetulnya kami tak berkehendak, namun karena masalah Pengajuan IMB Wisma Rejoso (WR) telah diketahui banyak orang dan berlangsung lama, maka kami memberanikan diri.

Seperti kita ketahui Wisma Rejoso sebagai tempat tinggal keluarga Rm Utomo telah beralih kepemilikan pada PGPM Gereja Katolik St Yusuf Pekerja Gondangwinangun. Lebih dari 1 tahun kami mengupayakan pengajuan IMB baru atas bangunan itu, meski sebetulnya “perjuangan” itu telah terjadi beberapa kali dan bertahun tahun lamanya. Upaya kami tersebut selalu sesuai dengan prosedur dan aturan yang ada namun selalu terhambat oleh segelintir warga yang didukung oleh Ormas tertentu yang tidak prosedural. Intimidasi pada keluarga/ umat Katolik/ bahkan warga yang mengadakan kegiatan di WR selalu terjadi dan kami diminta untuk mengalah. Bahkan Kepala Desa ataupun Bapak Camat Jogonalan sendiripun mendapat tekanan dari mereka. Akankah jajaran di atasnya, Pemerintah Kabupaten Klaten, takut dengan mereka pula? Dimana kewibawaan Pemerintah Daerah bila hal itu terus berlanjut? Ataukah kami dianggap sebagai kelompok kecil dan tak punya kekuatan apapun sehingga dianggap mudah untuk diabaikan demi kepentingan kondisi yang damai dan kondusif di Kabupaten Klaten?

Selama ini, kami diam namun saatnya sekarang bersuara. Beberapa tahun kami ikut aturan yang ada, namun kami mulai berpikir akan melakukan jalan yang berbeda karena kelompok lain juga diperbolehkan melakukannya. Sudah sekian lama kami merasa terzalimi, namun sekarang waktunya untuk berani. Bukan isapan jempol semata bila dibalik kami ada banyak jaringan orang dan Lembaga yang mendukung keterbatasan kami.

Sebetulnya alasan apa yang membuat permohonan kami berlarut larut dan tidak dapat diselesaikan dengan bijak? Wisma Rejoso akan kami kembangkan sebagai tempat untuk menggali nilai nilai Pancasila serta mengembangkan budaya serta menumbuhkan pemberdayaan masyarakat sekitar. Tak ada benak kami sedikitpun untuk membuat tempat itu sebagai Gereja. Sungguh! Bila kami tidak diperbolehkan melakukan hal itu, beri kami keputusan pasti.

Semoga kami yang, juga warga negara Indonesia, mendapatkan hak sama untuk memiliki IMBdi wilayah negara ini. Mudah mudahan kami juga bisa memberikan sumbangsih bagiI ndonesia, khususnya di Wilayah Kabupaten Klaten, untuk merajut persaudaraan dan toleransi antar warga negara dengan memaksimalkan penggunaan Wisma Rejoso nantinya.

Namun terlepas dari itu semua, kami yakin jajaran Pemda Kabupaten Klaten dalam waktu yang tidak lama akan dapat menyelesailan masalah ini dengan baik. Kami yakinP emerintah hadir dengan bijak memecahkan kebuntuan permasalahan antar warganegara yang mempunyai kedudukan sama di negara Kesatuan ini.

Salam hormat kami,

RmEndra Wijayanta, Pr

Surat itu kemudian tersebar secara masif pada media sosial yang ada. Banyak orang ikut menyebarkan kembali dan bahkan menyampaikannya pada para pihak yang berkepentingan. Kecuali Pengurus Pusat dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari PDIP, Wakil Ketua BPIP, Gubernur Jawa Tengah serta jajarannya, Bupati Klaten dan jajarannya menerima surat tersebut ternyata ada orang yang sebelumnya tidakt ahu keberadaan Wisma TDR menjadi paham. Kekuatan medsos kembali menunjukkan“tajinya”. Menurut info dari beberapa orang, siang di hari yang sama dengan tanggal surat terbuka itu, Pemerintah Kabupaten Klaten bertemu untuk membahas persoalan Wisma TDR. Seakan tak harus menunggu lama, panitia Wisma TDR kemudian dipanggil oleh jajaran Pemda Klaten untuk datang di Kecamatan Jogonalan. Agenda pembicaraan hanya satu, yakni berembug tentang percepatan pengajuan IMB Wisma TDR. Singkat kata pertemuan pada waktu itu mengerucut pada penyelesaian kasus yang telah berlangsung lama dan penuh dinamika tersebut. Bahkan, saat ituK epala Desa dan Camat Jogonalan langsung tanda tangan dalam berkas pengajuan IMB, meski mereka masih diliputi kekhawatiran.

Hal melegakan tersebut tentu menjadikan panitia seakan “berhutang”. Surat terbuka yang ditujukan pada Pemda harus dilanjutkan dengan berita baru. Oleh sebab itu,muncullah tulisan berjudul “Merayakan Indonesia Merdeka” (lampiran 4).

Setia pada Proses :Membuahkan Hasil

Sungguh banyak orang bergembira dengan torehan keberhasilan panitia dalam memperjuangkan terpenuhinya Wisma TDR mendapatkan IMB nya. Ada beberapa orang menganggap bahwa penyelesaian Wisma TDR begitu cepat. Bahkan ada yang menyangsikan keberhasilan itu. “Lho kok gampang banget? Beneran nih sudah selesai masalahnya?” Mereka tidak menyadari bahwa turunnya IMB Wisma TDR membutuhkan proses lama dan perjuangan yang tidak mudah. Kesetiaan untuk tetap semangat ketika menghadapi benturan dari banyak pihak dan tak bergeming ketika ada intimidasidari sekelompok orang menjadi warna tersendiri dalam menjalani proses tersebut.

Akhir dari semua proses perjuangan itu terjadi. Pada tanggal 29 Agustus 2020, panitia menerima Surat Keputusan Kepala Dinas PMPTSP bernomor 503.3/658 tahun 2020 yang berisi bahwa Wisma TDR mendapatkan IMB. Hal yang diimpikan oleh banyak orang, khususnya Rm Utomo, menjadikan panitia tergetar ketika mendatang Wisma TDR dan menempelkan sticker IMB pada 2 tiang yang ada di depan dan belakang Wisma TDR.

Panitia yakin hanya berkat Tuhanlah yang menjadikan perjuangan akhirnya berhasil. Ada yang berseloroh bahwa Rm Utomo harus datang sendiri kesorga dan bertemu Tuhan untuk meminta secara langsung agar IMB Wisma TDR turun. Bu Esti Wijayanti dan Gemayominya, FKUB Kebersamaan, Umat Gondangwinangun serta banyak orang terlibat dalam mewujudkan perjuangan tersebut.

Terima kasih pada semua pihak yang mendukung Panitia Wisma TDR dan Umat Gereja St Yusuf Pekerja Gondangwinangun untuk mendapatkan hak nya. Tak lupa ucapan terima kasih secara khusus pada Pemda Kabupaten Klaten yang memenuhi permohonan Romo Utomo lewat perjuangan kami.

Tuhan yang memulai pekerjaan baik, akan menyelesaikannya pula. Amin.  

LAMPIRAN

Lampiran 1

Warga Klaten Gagalkan Menteri Katolik Resmikan Gereja Ilegal Griya Samadi

KLATEN(voa-islam.com) – Menteri Pertahanan Republik Indonesia (Menhan RI) Purnomo Yusgiantoro yang direncanakan orang-orang Kristen di Klaten untuk meresmikan gereja ilegal Griya Samadi pada hari Selasa (2/7/2013) jam 18.00 WIB akhirnya gagal. Selain meresmikan gereja ilegal, kedatangan Menhan juga bertujuan untuk mengukuhkan 50 tahun keimamanG REGORIUS UTOMO atau yang lebih akrab disapa Romo Tomo. Namun, karena respon penolakan terhadap gereja ilegal Griya Samadi milik Romo Tomo begitu keras datang dari masyarakat muslim di Klaten dan khususnya warga muslim di desa Rejoso, maka peresmian Gereja Ilegal yang terbilangnekad itu dipindah ke gereja Maria Assumpta,Semangkak, Klaten Kota. Hal ini disampaikan Gianto kepada voa-islam.com, Korlapaksi unjuk rasa damai lima ratusan laskar dan umat Islam Klaten serta warga muslim desa Rejoso di depan gereja ilegal Griya Samadi pada Selasa (2/7/2013) sore didesa Rejoso.  

“HUT pengangkatan imamat GREGORIUS UTOMO atau Romo Tomo yang ke 50 tahun gagal. Acara pada tanggal 2 Juli (2013 -red) awalnya mau diselenggarakan peresmian gereja ilegal Griya Samadi di Rejoso oleh Menhan Purnomo Yusgiantoro juga gagal dan dipindah ke gereja Maria Assumpta Semangkak Klaten,” katanya. Meski ada sebagian laskar Islam dan umat Islam yang kurang puas dengan aksi damai pada Selasa sore tersebut, tapi setelah Gianto memberikan penjelasan dari tujuan aksi tersebut dan langkah-langkah kedepan yang diambil, akhirnya mereka bisa memahaminya. “Setelah maghrib, orasi dari para orator menjelaskan tentang(kondisi desa -red) Rejoso dan masyarakatnya (kepada para laskar -red). 

Pada Selasa malam seusai aksi unjuk rasa damai berlangsung, pria yang juga anggota KOKAM Muhammadiyah Klaten ini mengungkap kepada voa-islam.com bahwa secara hitungan matematis, umat Islam menang beberapa langkah dari pihak gereja ilegal Griya Samadi. “Hasilnya, Satpol PP menghentikan pembangunannya, HUT keimaman RomoTomo di Rejoso batal, Menhan tidak jadi meresmikan, Rebanan (sejenis musikgambus -red) dari lintas iman dari Ponpes Pancasila Sakti yang dipimpin olehs audara Jazuli gagal,” ungkapnya.

Hasil lain yang dicapai dari aksi damai pada Selasa sore itu adalah, Menhan Purnomo Yusgiantoro yang beragama Kristen Katolik segera balik ke Jakarta dan tidakj adi meresmikan gereja ilegal Griya Samadi serta mengukuhkan keimaman Romo Tomo. “Menhan cepat-cepat pulang tidak ikut makan dan tidak jadi meresmikan,acara puncak 2 – 4 Juli (2013 -red) tidak dapat ijin, acara ke-agamaan dank egiatan rutin tiap Rabu Pon tidak boleh ada, dan warga simpatik kepada kita (para laskar Islam -red),” imbuhnya.

“Tanggal 4 Juli (2013 –red) gelar wayang kulit dan pengobatan gratis juga dipindah dari Rejoso ke gereja Ganjuran Bantul Yogyakarta (tempat dimana Romo Tomo bertugas dan sekarang ini menetap -red). IMB Griya Samadi ditolak oleh Pemda Klaten dan diberhentikan pembangunannya (oleh Satpol PP -red) setelah kita buktikan bahwa Griya Samadi adalah sebuah gereja,” tandasnya. Sebelumnya diberitakan bahwa Griya Samadi milik GREGORIUS UTOMO yang lokasinya berada disebelah timur Kantor Kelurahan Desa Rejoso pada awalnya adalah sebuah tempat tinggal. Tapi, dalam perkembangannya ternyata difungsikan sebagai gereja. Dan melalui Surat Kepala DPU Kabupaten Klaten tertanggal 18 Juni 2013 Nomor : 503 / 1472 / 17 tentangP emberhentian Kegiatan Pembangunan akhirnya Pemda Klaten menyatakan bahwa Griya Samadi melanggar hukum dank emudian disegel karena tidak ada IMB.

Selain itu,Griya Samadi juga melanggar ketentuan Bab VII Pasal 56 Ayat ( 1 ) jo Bab XPasal 60 Ayat ( 1 ) dan ( 2 ) Perda Kabupaten Klaten Nomor 15 Tahun 2011tentang Bangunan Gedung yang menimbulkan gangguan Ketertiban Umum danKetentraman Masyarakat. [KhalidKhalifah]

Lampiran 2

Teladan Utama dari Romo Utomo

“Teroris sekalipun, jangan dimusuhi. Kasihi dan doakanlah.” Demikian ungkapan seorang imam dengan wajah serius. Tak ada keraguan dalam ungkapan itu. Begitulah dia. Tak pernah dalam benaknya terbersit ungkapan negatif atau ungkapan kasih yang palsu. Dia sungguh pribadi yang unggul sesuai namanya:Utomo. Hidup dan karyanya dipersembahkannya untuk semua orang, tanpa kecuali. Namun atas segala sesuatu yang dilakukan, tak menjadikannya bangga karena halitu mudah menjadikan diri menjadi sombong. Segala keutamaan pribadi dan hidupnya musnah karena terbakar oleh api cinta Tuhan. Itu menjadi semakin sempurna karena kesetiaannya sebagai salah satu bagian dari ratusan orang yang ada dalam kumpulan Imam Diosesan Gereja Katolik Keuskupan Agung Semarang.

Pribadi utama Rm Utomo semenjak muda memang selalu berjuang bagi pemberdayaan masyarakat kecil, pengentasan kemiskinan, mendorong petani semakin kreatif dan berkecukupan, mengembangkan swadaya ekonomi bagi semua orang tak pernah memandang perbedaan apapun (agama/ suku/ras/ antar golongan). Meski demikian,ada sebagian orang yang berpikir sebaliknya. Apapun yang dilakukannya hanyalah untuk kepentingan diri dan kelompoknya namun Rm Utomo tak pernah menghiraukan semua itu. Dia tetap melakukan hal baik yang telah diperjuangkannya selama hidupnya.

Setiap memimpin ibadat suci dia selalu mendoakan dunia agar damai, negara Indonesia agar tenteram dan adil, pemimpin bangsa dan tokoh agama di negeri ini untukbisa bersatu demi maju dan damainya semua anak bangsa. Kecuali itu, dengan setia dia sebut pula orang dan ujud doa yang dimohonkan pada Tuhan lewat untaian kata yang dihunjukkan pada Sang Pemilik Segalanya. Namun, mulai tahun 2013 semua doa suci itu selalu diakhiri dengan permohonan pribadi agar Wisma Tyas Dalem Rejoso mendapatkan ijin bagi pembangunan sekaligus tak ada kesulitan bagi siapapun untuk mengadakan kegiatan apapun di sana.

Sugeng tindak, Rm Utomo. Doakan selalu agar Wisma Tyas Dalem Rejoso dapat lagi menjadi tempat bagi setiap orang mengembangkan dirinya sekaligus menjadi sarana perjumpaan penuh persaudaraan bagi sesama dan lingkungan hidupnya. Amin.

Lampiran 3

Updateberita Wisma Rejoso (WR).

WRa dalah tempat tinggal Rm Utomo yang bertahun tahun kami ajukan IMB-nya sebagai tempat Sosial Budaya dan bukan gereja, namun “digagalkan” oleh sekelompok orang.

Mas Nata, Pak Bambang dan saya selaku Panitia Pengajuan IMB WR tadi (13 Agt 2020jam 11) menghadap Camat Jogonalan untuk meminta waktu sekaligus memfasilitasi Sosialisasi dengan masyarakat berkaitan dengan Pengajuan IMB kami. Hal itu kita upayakan karena pada Rapat tgl 23 Juni 2020 yang dihadiri oleh Pak Camat dan Muspika Jogonalan, PTSP, Perwaskim, Satpol PP dan Lurah Rejoso menelurkan gagasan akan ada Sosialisasi tersebut. Dengan sosialisasi diharapkan para pihak yang tidak setuju dengan IMB WR menjadi paham.

Namun,pertemuan tadi membuat kita, sekali lagi, kecewa. Pak Camat membeberkan bahwabeberapa hari setelah rapat 23 Juni 2020 ada 3 orang yang mendatangi danmendesak Pak Camat dengan alasan : pokoknya Wisma Rejoso tidak boleh dibangun!IMB harus digagalkan. Karena bila tetap berlanjut, akan ada kerusuhan!Peristiwa itu lah yang menagkibatkan Pak Camat mulai gamang dan melapor padaAsekwilda (Pemda Kabupaten Klaten). Menurut Pak Camat, Pak Roni meminta agarPak Camat mendiamkan dahulu masalah Pengajuan IMB WR. Fiuuuhh…

Mas Nata berkata keras karena kegamangan Pemerintah Kecamatan untuk memfasilitasi Sosialisasi yang telah menjadi keputusan bersama pada tanggal 23 Juni. Banyakp oint dan hal yang disampaikannya sebagai desakan agar Pemerintah harus hadir dan jangan kalah dengan kelompok intoleran. Sebagai warga negara yang mempunyai hak sama untuk mendirikan bangunan, harus diakomodir juga sama seperti mereka yang tidak setuju. Jangan permintaan mereka melulu yang diindahkan!

Akhirnya Pak Camat meminta waktu untuk bertemu dengan Pak Asekwilda terlebih dahulu guna membicarakan langkah apa yang akan menjadi target selanjutnya. Pokoknya panitia mendesak harus ada Sosialisasi entah di tingkat Desa/ Kecamatan/ Kabupaten.B agaimana caranya? Biarkan mereka yang merencanakan.

Pada akhir pertemuan tadi saya menambahkan bahwa kita tak lagi bisa membendung bila ada teman teman jaringan kita yang akan menghangatkan situasi Rejoso. GusJazuli (Pesantren Al-Muttaqien Klaten), Gus Marzuki (Pimpinan Banser Klaten) dan FKUB (plat hitam) serta Bu Esti Wijayanti (Gemayomi) menjadi jaringan kuat dari panitia. Saya mengatakan bila Pemerintah Daerah mementahkan lagi, kita akan membiarkan Rejoso menjadi isu nasional. Intoleransi dan kelemahan Pemda untuk mengatasi masalah IMB WR menjadi isyunya. Namun, semoga hal ini tidak terjadi.

Catatan tambahan. Mas Nata sebelum menghadap Pak Camat telah menghadap Dinas PMPTSP. Dari mereka ternyata ada perubahan lagi tentang fungsi bangunan. Beberapa waktu lalu, Pak Joko (PMPTSP) menyarankan bahwa fungsi bangunan WR sebagai pendapa, hunian dan pagar. Namun, tadi berubah lagi fungsi menjadi hunian lantai 1 dan 2. Repot memang karena berkali kali soal fungsi bangunan ini dipermasalahkan. Apakah ada skenario dibalik itu? Yo embuh…

Kita menunggu peristiwa selanjutnya…

Lampiran4

MERAYAKAN INDONESIA MERDEKA

Bagai bola salju yang menggelinding semakin besar dan tak tentu arah, tulisan kami yang berjudul “Surat Terbuka Untuk Pemda Klaten” yang kami unggah di media sosial tadi pagi (14 Agt 2020) begitu banyak yang membaca dan membagikannya. Kami mendengar bahwa surat tersebut sampai pada banyak orang termasuk Bapak Ganjar Pranowo. Kami sendiri tidak menduga hal itu terjadi.

Tidak butuh waktu lama muncullah tanggapan positif dari Pemda Klaten. Kami dengar mereka langsung membicarakan masalah Wisma Rejoso dengan semangat untuk cepat menyelesaikannya. Akhirnyas ekitar jam 14.00 mereka memanggil kami untuk membicarakan pengajuan IMB Wisma Rejoso di Kecamatan Jogonalan. Sekwilda, Asekwilda, Kepala DPMTSP, Perwaskim,Kodim, Camat Jogonalan dan Muspika serta Lurah Rejoso hadir.

Singkat kata, pertemuan tadi siang menghasilkan kesepakatan yang membuat kami lega. Jajaran Pemda Klaten berani menjamin terpenuhinya harapan Rm Utomo dan kami untuk mendapatkan IMB Wisma Rejoso. Hal ini pasti menggembirakan kita semua. Terlebih bagi beberapa orangy ang selalu mendukung kami dengan kasih persaudaraan yang sejati. Gus Jazuli, Gus Marzuki, Mas Nata, Pak Bambang Nugroho DS, Pak Bebet, Pak Andreas Eko, (BuEsti dan Gemayomi) adalah beberapa diantaranya. Mereka dengan ringan hati menemani umat Gereja Katolik St Yusuf Pekerja Gondangwinangun untuk melanjutkan mimpi memanfaatkan Wisma Rejoso sebagai tempat merajut persaudaraan sejati.

Keberhasilan Wisma Rejoso untuk memiliki IMB memang pantas kita syukuri. Namun tak elok bila hal itu dirayakan dengan sukacita sehingga membuat pihak lain terganggu. Kami meyakini peristiwa menggembirakan itu lebih bermakna reflektif bagi kita semua, tanpa kecuali,untuk memahami perbedaan pendapat dan taat mengikuti peraturan negara ini dengan baik.

Terima kasih kami haturkan pada siapapun yang membantu kami dengan doa, dukungan, empati dan membagikan kegelisahan kami pada banyak orang. Terima kasih kepada jajaran Pemda Kabupaten Klaten yang akhirnya dengan bijaksana menyelesaikan permasalahan Wisma Rejoso dengan baik. Semoga Tuhan selalu memberkati Anda dan negara Indonesia yang merayakan 75 tahun kemerdekaannya. Merdeka !

diambil dari :

https://web.facebook.com/notes/rm-endra/kronologi-perjuangan-untuk-mendapatkan-imb-wisma-tyas-dalem-rejoso/10151820879842351/

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *