(bagian pertama dari dua tulisan)

Cyprianus Lilik K.P.

Duc in altum, Azione Cattolica. Abbi il coraggio del futuro![1], demikian sambutan Bapa Paus Yohanes Paulus II yang disampaikan pada 11th National Assembly of Italian Catholic Action di tanggal 26 April 2002. “Bertolaklah ke tempat yang lebih dalam, Aksi Katolik (Italia), milikilah keberanian untuk masa depan !

Kalau Teologi Pembebasan disebut sebagai gerakan teologi dan pastoral terbesar dalam Gereja Universal sepanjang paruh kedua abad 20, Aksi Katolik bisa dianggap sebagai “paman” dari gerakan tersebut, dan telah lahir hampir satu abad sebelumnya. Benar, Aksi Katolik adalah pendahulu Teologi Pembebasan yang lahir dari ‘dunia lama’ Gereja Universal, sementara Teologi Pembebasan adalah gerakan teologi dan pastoral yang tercipta dalam pusaran krisis ekonomi, sosial, politik dari umat beriman di belahan bumi Selatan.

Begitu kuatnya gerakan Aksi Katolik, hingga hampir satu abad sebelumnya, Paus Pius X menuliskan motu proprionya yang pertama untuk gerakan ini : “Dalam ensiklik kami yang pertama kepada para Uskup di dunia, kami menggemakan  semua yang telah disampaikan para pendahulu kita yang mulia tentang aksi Katolik dari kaum awam, kami menyatakan bahwa aksi ini layak mendapatkan pujian tertinggi, dan memang dibutuhkan dalam kondisi gereja dan masyarakat saat ini.” Demikian ungkapan Paus Pius V dalam motu proprio “Fin Dalla Prima Nostra”, tertanggal 18 Desember 1903, yang secara khusus ditujukan kepada Catholic Action, Aksi Katolik, secara khusus di Italia.

Aksi Katolik adalah arus gerakan sosial dalam Gereja universal yang berkembang subur di Eropa dan kemudian seluruh Gereja di akhir abad 19 hingga paruh pertama abad 20. Gerakan ini didominasi oleh para awam dengan dukungan para klerus yang memiliki visi sosial tinggi. Gerakan ini digerakkan oleh kerinduan akan bagaimana seharusnya Gereja berperan di tengah dunia, di tengah modernitas yang sedang bersemi dan mulai bertumbuh. Tulisan ini adalah bagian pertama dari dua tulisan yang mencoba merekonstruksi jejak Aksi Katolik dan mencoba belajar dari kekuatan visi, misi, dan aksinya.

Aksi Katolik : Sungai dari banyak mata air

Aksi Katolik dapat dilihat sepagai upaya-upaya awam untuk menguatkan kembali peran Gereja di masyarakat, yang mulai melemah sejak Revolusi Perancis hingga arus deras gerakan demokrasi sosial dan komunisme di Eropa. Terdapat dua bentuk reaksi terhadap menurunnya kehadiran Gereja ini : reaksi progresif dan konservatif. Aksi Katolik dapat dikatakan menjadi sayap progresif, di sisi lain pendirian minor basilica di Paris bisa dilihat sebagai respon konservatif. Aksi Katolik ini umumnya aktif di negara-negara yang memiliki basis Katolik kuat tetapi dikuasai oleh penguasa politik yang cenderung antiklerikal. Belgia, Perancis, Spanyol, Italia, Bavaria adalah pusat-pusat perkembangan bagi gerakan Aksi Katolik ini.

Sebagai gerakan plurisentris, banyak komunitas dan gerakan di bawah naungan istilah Aksi Katolik. Ia mengimpun gerakan anak muda, perempuan, buruh pekerja, dan lain-lain. Legio Maria; Young Christian Workers, Young Christian Students; the Cursillo movement, RENEW International; Sodalities; the Christian Family Movement, hingga banyak komunitas pengorganisir masyarakat di berbagai tempat di seluruh dunia. Apapun itu, mereka digerakkan semangat yang sama untuk menjelmakan Gereja yang memasyarakat dan membangun nilai-nilai injili sebagai pondasi hidup bersama.

Gerakan Aksi Katolik muncul dari banyak mata air tetapi mengalir bersama menjadi satu sebagai arus perubahan di tengah Gereja Universal.

Gerakan Aksi Katolik di Italia, Azione Cattolica, mungkin menjadi yang tertua sekaligus paling aktif hingga saat ini. Società della Gioventù Cattolica Italiana (Italian Catholic Youth Society) didirikan pada tahun 1867 oleh Mario Fani dan Giovanni Acquaderni. Gerakan ini dikembangkan menjadi 4 sektor dan kemudian berganti nama menjadi Azione Cattolica di era Mussolini.

Azione Cattolica sangat cocok dengan situasi di Italia yang tidak memungkinkan Partai Katolik bergerak aktif di bawah penguasa Savoyard yang anti klerus dan menguasai negeri itu sejak 1870 hingga 1910, serta di bawah kaum fasis yang mearang hadirnya partai politik independen di negeri itu.

Pada 7 September 1921, Frank Duff mendirikan gerakan Legio Maria, yang melatih dan mengembangkan rasul-rasul awam melalui doa dan aksi nyata sukarela di bawah panji-panji Maria. Eduardo Bonnin, seorang anak muda dari Mallorca, Spanyol, di tahun 1940an, bersama dengan teman-teman mudanya gelisah akan lemahnya keterlibatan anak muda di Gereja. Mereka menempuh Camino de Santiago, dan mengembangkan metode yang menjadi dasar gerakan Cursillo dengan mengubah masyarakat melalui komunitas-komunitas kecil umat beriman.

Sebagai gerakan, Aksi Katolik muncul dalam banyak nama. Kadang istilah Aksi Katolik dipakai untuk menamai sebuah komunitas atau subkomunitas awam Katolik tertentu di sebuah negara. Di Chile, Aksi Katolik dipakai untuk menyebut gerakan Katolik muda di negeri itu, yang dalam bimbingan Santo Alberto Hurtado berperan penting dalam pendirian Chilean Trade Union Association. Namun kadang sebagai istilah, Aksi Katolik menjadi payung besar yang menaungi berbagai gerakan nasional dengan nama masing-masing yang sangat beragam.

Aksi Katolik sangat aktif terjun langsung mendampingi masyarakat, sehingga mereka menjelma menjadi kekuatan politik yang riil. Erich Klausener, ketua komunitas Aksi Katolik di Jerman, turut menjadi korban Hitler dan NAZI saat partai tersebut melalui sayap para militer dan intelijennya (Schutzstaffel/SS, Sicherheitsdienst/SD dan Geheime Staatspolizei/Gestapo), melancarkan operasi pembunuhan lawan-lawan politiknya pada 30 Juni hingga 2 Juli 1934, yang kemudian dikenal sebagai Nacht der langen Messer. Tentu saja, ada ‘martir-martir” yang lain sepanjang sejarah Aksi Katolik di seluruh dunia. Cukup banyak aktivis muda Aksi Katolik yang harus berhadapan dengan rejim otoriter di berbagai negara.

Young people of Catholic Action and their banners at the Stadium of Aurora University, https://digitalcommons.whitworth.edu/album13/index.7.html

Aksi Katolik sebagai gerakan pengorganisasian masyarakat

Di AS Aksi Katolik sangat subur di era Depresi Besar di tahun 1930an. Chicago menjadi salah satu pusat gerakan pengorganisasian masyarakat di AS , secara khusus di kawasan pekerja imigran di bagian selatan kota ini, tempat Gereja Katolik hadir melalui paroki-paroki imigran dan para penggerak melakukan kerja-kerja progresif pengorganisasian dan pemberdayaan masyarakat. Upaya ini didukung penuh oleh Kardinal George Mundelein dan Uskup auksilernya, Mgr. Bernard James Sheil. Pekerja migran ini membentuk Packinghouse Workers Organizing Committee (yang kemudian menjadi United Packinghouse Workers of America, UPWA-CIO) dan Back of the Yards Neighborhood Council (BYNC). UPWA-CIO menjadi gerakan serikat industri yang sangat efektif dan andalan gerakan buruh progresif. BYNC yang berbasis komunitas pertetanggaan dan paroki menjadi model bagi Saul Alinsky dalam mengembangkan pengorganisasian komunitas di seluruh AS.

UPWA-CIO memusatkan diri pada perjuangan hak buruh, sementara BYNC memusatkan diri pada pengembangan identitas bersama melintasi kelompok etnis para imigran dan menangani berbagai masalah komunitas. [2]

Model yang dikembangkan BYNC selanjutnya dikembangkan Saul Alinsky ini menjadi model bagi gerakan pengorganisasian komunitas seperti COPS (Communities Organized for Public Service) di San Antonio, dan Friendship House Harlem. Yang terakhir ini kemudian memberi pengaruh pada pemikiran Thomas Merton. Lewat persahabatan Alinsky dengan Jaques Maritain -teolog dan filsuf Katolik Peranci sekaligus konseptor Deklarasi HAM PBB- dan kerjasama dengan pemimpin-pemimpin Gereja Katolik kemudian menjadi inspirasi upaya pengorganisasian komunitas di seluruh dunia. Di Gereja Katolik di Chicago-lah seorang pengorganisir masyarakat AS belajar, berkantor, dan bekerja, hingga kelak menjadi presiden kulit berwarna pertama dalam sejarah negeri itu, Barack Obama.  Demikianlah, keadilan sosial di akar rumput dan didengarkannya secara langsung jeritan si miskin menjadi basis teologis dan filosofis dari Aksi Katolik. [3]

DI AS, gerakan Aksi Katolik juga terhubung dengan Catholic Worker yang lahir dari duet Dorothy Day dan Peter Maurin.

Aksi Katolik dalam tegangan ideologis kiri-kanan

Aksi Katolik tidak bisa dianggap satu gerakan tunggal dan solid, ia lebih mirip semangat yang menggerakkan banyak eksponen umat terutama kaum awam untuk bergerak secara progresif menjelmakan iman Katolik melalui banyak kanal gerakan sosial dengan tema-tema yang meluas. Keragaman ini menjadi kekayaan tetapi sekaligus tantangan untuk mengkonsolidasi, memberi arah, dan menentukan batas-batasnya.

Sejak awal, Aksi Katolik berada di tegangan antara sosialisme  dan komunisme di satu sisi dan kapitalisme di sisi lain. Inilah yang direspon Bapa Suci Pius X dengan motu proprio “Fin Dalla Prima Nostra”. Bahwa motu proprio ini adalah yang pertama beliau keluarkan di masa jabatannya, itu menunjukkan betapa sentralnya Aksi Katolik bagi Gereja saat itu. Meski demikian, sangat terasa dalam nada motu proprio ini kebutuhan untuk memoderasi gerakan-gerakan aksi politik Katolik agar tidak terlalu bergerak terlalu ke kiri. Upaya ini jelas terkait dengan arus politik Katolik di Eropa pasca Rerum Novarum, yang dengan kuat memberi daya pada gerakan sosial Katolik saat itu dan ditantang untuk ‘membela iman’ di tengah derasnya arus demokrasi sosial dan komunisme.

Motu proprio Paus Pius X ini menjadi semacam garis batas konseptual terhadap Aksi Katolik yang cenderung bergerak ke kiri sejak awal kehadirannya. Motu proprio diletakkan di atas pandangan yang mendominasi gereja Katolik saat itu bahwa masyarakat organik sebagai konstruksi masyarakat paling ideal dan sesuai dengan kehendak Allah. Masyarakat manusia adalah tiruan dari makhluk hidup dengan pembedaan peran dan fungsi masing-masing, dengan perbedaan kelas, budaya, dan kuasa dibutuhkan untuk menopang fungsi di tengah masyarakat dan karenanya upaya menciptakan kesetaraan dan pemerataan di dalamnya akan menghancurkan masyarakat itu sendiri. Sebuah gagasan yang terdengar sumbang di alam pikir jaman ini.

Tegangan ini nampak misalnya, dalam dinamika gerakan Aksi Katolik di Australia. Gerakan Aksi Katolik di negeri ini terbentuk pada tahun 1957 sebagai National Civic Council, yang berkembang dari gerakan studi sosial Katolik Australia di bawah B. A. Santamaria. Mereka umumnya terlibat di Partai Buruh Australia, sebelum akhirnya terusir oleh kubu kiri progresif di dalamnya. Selanjutnya para aktivis NCC ini membentuk Australian Labor Party (Anti-Communist), sebelum akhirnya menjelma menjadi Partai Buruh Demokratik.

Di arus ideologis yang lain misalnya, Peter Maurin, mitra Dorothy Day dalam mendirikan gerakan Catholic Worker di AS, yang di tahun 1933 menulis esai “Blowing the Dynamite”. Dalam esai ini, menurut Romo Bruce Nueli,[4] Maurin menangkap inti filosofis dari Aksi Katolik. Peter Maurin menulis :

Menulis tentang Gereja Katolik, seorang penulis radikal mengatakan : Roma harus melakukan lebih dari sekedar memainkan peran menunggu, dia harus menggunakan beberapa dari bahan peledak yang tersembunyi dalam pesan-pesannya. Meledakkan dinamit pesan adalah jalan satu-satunya untuk menjadikan pesan itu hidup. Jika Gereja Katolik saat ini tidak menjadi kekuatan dinamika sosial yang dominan, itu karena para pemikir Katolik telah mengambil dinamit pesan ini dari Gereja, membungkusnya dalam pemilihan kata-kata yang manis, menempatkannya dalam kotak kedap udara, dan duduk di atasnya. Sudah tiba waktunya untuk membongkar tutup itu, sehingga gereja Katolik dapat kembali menjadi kekuatan dinamika sosial yang dominan.”

Sebuah pesan yang sangat kuat, yang bagi Beato Joseph Cardinal Cardijn, menangkap “jiwa paling murni dari Injil (the purest spirit of the Gospel).”

Aksi Katolik sebagai gerakan dan mentalitas

Wajah sosial gereja yang kuat didorong oleh Aksi katolik berjejak cukup banyak  di Hollywood maupun budaya populer lainnya. Sosok pastor yang aktif bergerak memperjuangkan keadilan bagi masyarakat di sekitarnya muncul di berbagai film di tahun 1930, 1940, hingga 1950an. Beberapa di antaranya adalah Boys Town, The Keys of the Kingdom, Going My Way, dan On the Waterfront.[5]

Terlepas dari tegangan ideologis dalam tubuh Gereja Universal yang tercipta dalam konteks kontestasi ideologis Sosialisme dan Kapitalisme, dan masih terasa jejaknya hingga saat ini, kontribusi Aksi Katolik bagi revitalisasi peran sosial kemasyarakatan Gereja di tengah dunia pasca, serta penguatan peran awam sangatlah besar. Ia dapat disejajarkan dengan gerakan kebangkitan berbagai kongregasi religius yang sangat subur di pertengahan abad 19.

Tom Truman, dalam bukunya Catholic Action and Politics menyatakan bahwa di era Pasca Perang II, kehadiran gerakan Aksi Katolik di dunia (secara khusus di Italia dan Jerman Barat) sedikit memudar tergantikan perannya oleh partai Kristen Demokrat yang gencar melawan Komunisme dan mengkampanyekan prinsip-prinsip keadilan sosial Katolik. [6] Namun demikian, pendapat ini tidak sepenuhnya benar. Pengaruh Aksi Katolik masih sangat kuat terasa dalam Konsili Vatikan II dan dalam gerakan awam Katolik dunia di tahun 1970an bahkan hingga saat ini.

Bagi Romo Bruce Nieli, istilah Aksi Katolik berarti gerakan sekaligus mentalitas. Aksi Katolik adalah gerakan yang lahir di akhir abad 19 dan menemukan bentuk-bentuk terorganisirnya pada awal abad 20. Sebagai mentalitas ia menjelaskan sikap dasar dari kerja-kerja awam bekerja sama dengan hirarkhi, menjelmakan ajaran iman Katolik ke tengah dunia, dengan asas dan cara yang selaras dengan ajaran iman Katolik itu juga.

Aksi Katolik menemukan bentuknya yang khas,  terorganisir dan meluas ke seluruh dunia, ketika seorang pastor muda dari Belgia, Joseph Cardijn mendirikan Young Trade Unionists yang dirintisnya sejak 1919. Organisasi yang kelak menjelma menjadi Young Christian Workers, yang dalam kata-kata Romo  Nieli, menjadi “the quintessential model for Catholic Action.”[7]

(bersambung)


[1] Sambutan Bapa Paus Yohanes Paulus II pada 11th National Assembly of Italian Catholic Action tanggal 26 April 2002, http://www.vatican.va/content/john-paul-ii/en/messages/pont_messages/2004/documents/hf_jp-ii_mes_20040810_catholic-action.html

[2] James R. Barrett, http://www.Back of the Yards, encyclopedia.chicagohistory.org/pages/99.html

[3] Father Bruce Nieli,  A return to Catholic Action, U.S. Catholic (Vol. 80, No. 7, pages 36–38), July 2015, http://www.uscatholic.org/articles/201506/return-catholic-action-30210

[4] Fr. Bruce Nieli,  A return to Catholic Action, U.S. Catholic (Vol. 80, No. 7, pages 36–38), July 2015, http://www.uscatholic.org/articles/201506/return-catholic-action-30210

[5] Fr. Bruce Nieli,  A return to Catholic Action, U.S. Catholic (Vol. 80, No. 7, pages 36–38), July 2015, http://www.uscatholic.org/articles/201506/return-catholic-action-30210

[6] Tom Truman, Catholic Action and Politics (London: The Merlin Press, 1960).

[7] Father Bruce Nieli,  A return to Catholic Action, U.S. Catholic (Vol. 80, No. 7, pages 36–38), July 2015, http://www.uscatholic.org/articles/201506/return-catholic-action-30210

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *