Belajar dari Aksi Katolik, bertumbuh menjadi rasul awam I : Pasca Revolusi Perancis hingga tegangan Sosialisme-Kapitalisme

(bagian pertama dari dua tulisan) Cyprianus Lilik K.P. Duc in altum, Azione Cattolica. Abbi il coraggio del futuro![1], demikian sambutan Bapa Paus Yohanes Paulus II yang disampaikan pada 11th National Assembly of Italian Catholic Action di tanggal 26 April 2002. “Bertolaklah ke tempat yang lebih dalam, Aksi Katolik (Italia), milikilah keberanian untuk masa depan ! Kalau Teologi Pembebasan disebut sebagai gerakan teologi dan pastoral terbesar dalam Gereja Universal sepanjang paruh kedua abad 20, Aksi Katolik bisa dianggap sebagai “paman” dari gerakan tersebut, dan telah lahir hampir satu abad sebelumnya. Benar, Aksi Katolik adalah pendahulu Teologi Pembebasan yang lahir dari ‘dunia lama’ Gereja Universal, sementara Teologi Pembebasan adalah gerakan teologi dan pastoral yang tercipta dalam pusaran krisis ekonomi, sosial, politik...

Tantangan pengarusutamaan perdagangan manusia di tengah Covid-19

Hari Anti Perdagangan Manusia 30 Juli 2020 Apakah karya keselamatan Allah itu masih berlangsung di tengah kegelapan yang makin mendalam ? Tanya Romo Paschalis Saturnus, Pr mengawali uraiannya dalam konferensi pers online, 29 Juli 2020 lalu. Covid dan human trafficking Covid-19 tak mengenal batas-batas ekonomi, sosial, politik, gender, hingga agama.  Dengan keragaman masyarakat terdampak, memunculkan pula dampak yang berbeda-beda skala dan kedalamannya di setiap elemen masyarakat yang ada. Covid-19 menjadi economic attack pada kaum miskin yang notabene adalah kelompok paling rentan terhadap perdagangan manusia. Dampak serangan ekonomi terhadap komunitas rentan ini begitu luas dan dalam.  “Dalam situasi seperti ini, orang bisa melakukan hal-hal di luar perkiraan kita,” tutur Pdt. Emmy Sahertian dalam konferensi...

Tantangan keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan di era kebiasaan baru

The COVID-19 pandemic is far more than a health crisis: it is affecting societies and economies at their core. While the impact of the pandemic will vary from country to country, it will most likely increase poverty and inequalities at a global scale, making achievement of SDGs even more urgent.UN’s Framework for the Immediate Socio-Economic Response to the COVID 19 Crisis Vonis para pakar WHO bahwa kita semua harus hidup bersama dengan virus Corona dalam jangka panjang, memberi kita pilihan tunggal untuk menulis kembali kebiasaan sehari-hari selaras protokol keamanan kesehatan Covid-19. Ini jelas berdampak bagi hidup keseharian kita, dengan keniscayaan untuk selalu menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak, hingga menyucihamakan benda-benda di sekitar kita sekala berkala. Lebih jauh dari itu, kebiasaan baru juga melahirkan...

Pancasila sebagai tindakan pemerdekaan

Gagasan Dasar Pertama, Pancasila adalah memori, diskursus, konsensus, sekaligus elan pembebasan Indonesia : Pancasila tidak dapat dilepaskan dari sejarah pemerdekaan Indonesia. Pancasila adalah rekaman/catatan, narasi, diskusi, kegairahan, serta konseptualisasi sekaligus refleksi kolektif atasnya. Sebagai memori kolektif, Pancasila merekam ide-ide besar yang menggerakkan pergerakan kebangsaan : kemanusiaan, keadilan sosial, demokrasi kerakyatan, persatuan kebangsaan, serta ketuhanan. Trisila, socio nationalism, socio democratie, dan ketuhanan, jelas merujuk pada tiga spektrum ideologis yang menjadi tulang punggung pergerakan nasional. Sementara Ekasila, gotong-royong mengacu pada semangat paling dasar yang memungkinkan semua kekuatan rakyat bersatu, berkolaborasi, saling berkontribusi untuk merintis dan merajut keindonesiaan. Pancasila adalah...

Ekologi Integral dan Tujuh Tujuan Laudato Si

Pembangunan (pengembangan-terj Rm. Martin Harun, OFM)) dapat disebut otentik kalau ada jaminan untuk mewujudkan perbaikan secara keseluruhan dalam kualitas hidup manusia, LS 147 Sebagaimana cinta menjadi ikatan, hakikat sekaligus obat sosial yang kuat dalam relasi antarmanusia, demikian pula cinta menjadi pepulih dalam persaudaraan manusia atas alam. Melengkapi Laudato Si, Dicastery for Promoting Integral Human Development juga mencanangkan Laudato Si Goals, yakni serangkaian tujuan strategis yang ingin diwujudkan sebagai hasil kongkrit ensiklik tersebut. Tujuan tersebut dikembangkan dari konsep ekologi integral yang menjadi inti tanggapan Paus Fransiskus atas krisis lingkungan yang dihadapi. Kita akan menyelami gagasan dasar ekologi integral ini sebelum kemudian mendiskusikan tujuan-tujuan dasar Laudato Si. Ekologi Integral Dari 6...

Beyond Laudato Si : Sketsa Historis Gerakan Lingkungan 1970-2020

Humanity was moving further into unsustainable territory. (Donella Meadows, et al.)[1] Sejak tahun 1970-an, kemampuan bumi untuk menopang kehidupan yang lestari sudah terlewati. Artinya, manusia menggunakan lebih dari kemampuan bumi untuk meregenerasi dirinya sendiri setiap tahunnya. Di Indonesia, batas ini juga sudah terlampaui pada 2003. Artinya, manusia saat ini selalu berutang kepada bumi untuk menopang pertumbuhan ekonomi, kebudayaan, dan cara hidupnya sehari-hari. Kemampuan alam dalam menopang kerakusan dan ambisi manusia sangatlah terbatas. Dan karena bahasa bumi tak lagi kita mengerti, maka manusia hanya bisa meraba-raba dari dampaknya. Penderitaan alam akhirnya menjadi penderitaan manusia juga. Dari sudut pandang pemerintah dan gerakan masyarakat sipil global, desakan untuk mengoreksi arah ekonomi dunia terdengar sangat...

Fase Penyebaran dan Penguatan Daerah Menghadapi Covid-19

Pada tulisan sebelumnya, kita sudah melihat betapa daerah dihadapkan pada tiga tantangan simultan menghadapi Covid-19 : ketersediaan fasilitas kesehatan di daerah, dilema tarik ulur antara faktor kesehatan dan ekonomi (serta kepentingan-kepentingan lain), serta pergeseran wacana publik ke pelonggaran protokol kesehatan, yang sejatinya belum waktunya untuk dilakukan di tingkat daerah. Kondisi ini memaksa kita untuk mau tidak mau kita harus mendorong percepatan kesiapsiagaan daerah, pengembangan desain skenario kebijakan penanganan Covid-19 yang menopang perimbangan faktor ekonomi dan kesehatan, serta keharusan terus-menerus mewartakan kedisiplinan publik untuk melawan arus wacana yang terjadi. Dalam praktek, di satu sisi kita berhadapan dengan kondisi riil keterbatasan sumber daya, kedisiplinan perilaku bahkan di antara aparatur dan para relawan...

Tepatkah Pelonggaran Protokol Covid-19 ?

Enam Tantangan dari Lapangan Sulit dipungkiri betapa perkembangan aktual penanganan Covid-19 di beberapa hari terakhir ini cukup menggelisahkan kita. Kajian awal Kemenko Perekonomian “Road Map Ekonomi Kesehatan Keluar Covid-19” yang beredar viral[1], mulai dibukanya kembali angkutan umum (meskipun dengan protokol ketat) oleh Kementerian Perhubungan[2], hingga pernyataan Gugus tugas bahwa warga berusia di bawah 45 tahun diijinkan untuk kembali bekerja[3] sangat menggelisahkan kita. Meskipun sebagian dari pernyataan tersebut kemudian berusaha diluruskan, namun kesan upaya pelonggaran PSBB di berbagai daerah sudah terlanjut menyebar. Bukan hanya bahwa hal tersebut semakin mengurangi tingkat kedisiplinan diri masyarakat saat ini, tetapi juga mengingat dalam berbagai aspek kita sebenarnya belum mampu mengendalikan penyebaran Covid-19. Dalam...

Mengawal Kurva Pandemi

Memelihara Kesiapsiagaan di Tengah Lelahnya Publik Atas Covid-19 Sejak terdeteksinya pasien Covid-19 pertama di Indonesia pada 2 maret 2020 lalu, kurva penderita penyakit ini terus menaik dan relatif belum menunjukkan tanda-tanda penurunan hingga hari ke-67 (8 Mei 2020) ini.[1] Beberapa lembaga yang mengeluarkan perkiraan tentang akhir masa pandemi berdasarkan kalkulasi statistik meninjau kembali ramalan mereka. [2] Sementara itu, cukup banyak pihak yang mengkhawatirkan akan terjadinya  puncak penularan kedua. kekhawatiran ini cukup beralasan mengingat ketidakpedulian serta melemahnya kesiapsiagaan publik semakin terasa. Dalam tiga hari terakhir (5-7 Mei 2020) di kota Yogya misalnya, angka positif Covid-19 melonjak dari 10, 9, dan pada 7 Mei 2020 menjadi 15 pasien. Sementara itu, cukup banyak pihak yang mengkhawatirkan akan...

Kisah dari Sendai dan Masyarakat Berdaya Tahan terhadap Covid-19

Kisah-kisah gempa Sendai Pada 11 Maret 2011 pukul 14.46 Waktu Standar Jepang (05.46 UTC), masyarakat dunia dibuat terpesona pada respon masyarakat Jepang di tengah bencana gempa bumi Sendai/Tohoku berskala 9,0-9,1 SR.[1] Lima puluh pekerja reaktor nuklir yang bocor di Fukushima[2] menolak meninggalkan reaktor. mereka berjuang untuk mengatasi kebocoran dan dalam arti yang sesungguhnya mempertaruhkan nyawanya. Seribuan relawan lain dari berbagai penjuru Jepang kemudian bergabung bersama-sama mereka mengatasi tragedi nuklir itu. Mereka kemudian dikenal sebagai Fukushima 50[3]  dan menjadi pahlawan global atas kesediaan mereka mempertaruhkan nyawa hingga kebocoran nuklir di Fukushima dapat diatasi dan tidak berubah menjadi bencana lingkungan yang lebih besar. Tetapi keajaiban masyarakat di tengah bencana Sendai yang sesungguhnya...