Tantangan keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan di era kebiasaan baru

The COVID-19 pandemic is far more than a health crisis: it is affecting societies and economies at their core. While the impact of the pandemic will vary from country to country, it will most likely increase poverty and inequalities at a global scale, making achievement of SDGs even more urgent.UN’s Framework for the Immediate Socio-Economic Response to the COVID 19 Crisis Vonis para pakar WHO bahwa kita semua harus hidup bersama dengan virus Corona dalam jangka panjang, memberi kita pilihan tunggal untuk menulis kembali kebiasaan sehari-hari selaras protokol keamanan kesehatan Covid-19. Ini jelas berdampak bagi hidup keseharian kita, dengan keniscayaan untuk selalu menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak, hingga menyucihamakan benda-benda di sekitar kita sekala berkala. Lebih jauh dari itu, kebiasaan baru juga melahirkan...

Fase Penyebaran dan Penguatan Daerah Menghadapi Covid-19

Pada tulisan sebelumnya, kita sudah melihat betapa daerah dihadapkan pada tiga tantangan simultan menghadapi Covid-19 : ketersediaan fasilitas kesehatan di daerah, dilema tarik ulur antara faktor kesehatan dan ekonomi (serta kepentingan-kepentingan lain), serta pergeseran wacana publik ke pelonggaran protokol kesehatan, yang sejatinya belum waktunya untuk dilakukan di tingkat daerah. Kondisi ini memaksa kita untuk mau tidak mau kita harus mendorong percepatan kesiapsiagaan daerah, pengembangan desain skenario kebijakan penanganan Covid-19 yang menopang perimbangan faktor ekonomi dan kesehatan, serta keharusan terus-menerus mewartakan kedisiplinan publik untuk melawan arus wacana yang terjadi. Dalam praktek, di satu sisi kita berhadapan dengan kondisi riil keterbatasan sumber daya, kedisiplinan perilaku bahkan di antara aparatur dan para relawan...

Distribusi Sebaran Covid-19 dan Tegangan Kebijakan Pusat-Daerah

Disadari atau tidak, pandemi Covid-19 di Indonesia telah memasuki fase baru. Saat ini kita dihadapkan pada kurva penyebaran yang terus menanjak, momentum kedaruratan di tengah masyarakat seakan telah berlalu. Jalanan kembali ramai dan beragam aktivitas publik mulai muncul. Di tengah ancaman Covid-19 yang diyakini belum mencapai puncaknya,[1] mau tidak mau, masyararakat sesaat harus berusaha keras memulihkan diri dari krisis yang telah dialami, dan mau tidak mau pula, mengambil nafas panjang untuk sebuah perjalanan ke depan yang belum tentu mudah. Pernyataan pemerintah[2] dan WHO[3] dengan jelas memperingatkan hal itu. Di sisi lain, fase itu ditandai juga dengan terus menurunnya DKI Jakarta dan sekitarnya sebagai pusat pandemi, diringi dengan semakin meratanya penderita Covid-19 ke berbagai daerah. Tulisan ini ingin menguraikan...

Tepatkah Pelonggaran Protokol Covid-19 ?

Enam Tantangan dari Lapangan Sulit dipungkiri betapa perkembangan aktual penanganan Covid-19 di beberapa hari terakhir ini cukup menggelisahkan kita. Kajian awal Kemenko Perekonomian “Road Map Ekonomi Kesehatan Keluar Covid-19” yang beredar viral[1], mulai dibukanya kembali angkutan umum (meskipun dengan protokol ketat) oleh Kementerian Perhubungan[2], hingga pernyataan Gugus tugas bahwa warga berusia di bawah 45 tahun diijinkan untuk kembali bekerja[3] sangat menggelisahkan kita. Meskipun sebagian dari pernyataan tersebut kemudian berusaha diluruskan, namun kesan upaya pelonggaran PSBB di berbagai daerah sudah terlanjut menyebar. Bukan hanya bahwa hal tersebut semakin mengurangi tingkat kedisiplinan diri masyarakat saat ini, tetapi juga mengingat dalam berbagai aspek kita sebenarnya belum mampu mengendalikan penyebaran Covid-19. Dalam...

Kisah dari Sendai dan Masyarakat Berdaya Tahan terhadap Covid-19

Kisah-kisah gempa Sendai Pada 11 Maret 2011 pukul 14.46 Waktu Standar Jepang (05.46 UTC), masyarakat dunia dibuat terpesona pada respon masyarakat Jepang di tengah bencana gempa bumi Sendai/Tohoku berskala 9,0-9,1 SR.[1] Lima puluh pekerja reaktor nuklir yang bocor di Fukushima[2] menolak meninggalkan reaktor. mereka berjuang untuk mengatasi kebocoran dan dalam arti yang sesungguhnya mempertaruhkan nyawanya. Seribuan relawan lain dari berbagai penjuru Jepang kemudian bergabung bersama-sama mereka mengatasi tragedi nuklir itu. Mereka kemudian dikenal sebagai Fukushima 50[3]  dan menjadi pahlawan global atas kesediaan mereka mempertaruhkan nyawa hingga kebocoran nuklir di Fukushima dapat diatasi dan tidak berubah menjadi bencana lingkungan yang lebih besar. Tetapi keajaiban masyarakat di tengah bencana Sendai yang sesungguhnya...

Tujuh belas hal yang bisa paroki/stasi/lingkungan lakukan untuk mengatasi Covid-19

Banyak upaya yang sudah dilakukan Gereja baik hirarkhi maupun umat untuk menghadapi Covid-19. Berikut beberapa rekaman aktivitas yang baik secara sistematis dilaksanakan, maupun sporadis bermunculan di tengah umat beriman. Pelayanan pastoral baik sakramental maupun non sakramental di tengah Covid-19 tetap yang utama. Dalam hal pelayanan ini, terutama pelayanan kematian dan minyak suci, amat sangat penting untuk menekankan protokol kesehatan Covid-19 yang benar-benar aman. Dari kasus-kasus yang sudah terjadi di seluruh dunia, para pelayan Gereja sangat rentan terkena Covid-19. Siaran misa online melalui berbagai media elektronik (televisi dan radio) dan platform digital yang ada, entah Youtube, Facebook, Instagram, hingga Zoom. Tidak hanya itu, pelayanan keluarga seperti misa arwah, juga umum dilakukan secara online.Pendidikan, penyadaran, dan...

Paroki Siaga Covid-19 : tujuh elemen dasar ketahanan paroki

Ketahanan paroki adalah ketangguhan dan keuletan paroki untuk bertahan, memelihara, dan melindungi warganya terhadap ancaman yang ada, mengantisipasi resiko-resiko dan ketidakterdugaan situasi yang terjadi serta memulihkan diri dari kerusakan akibat sebuah bencana. Ada batas daya tahan sebuah masyarakat terhadap kebencanaa. Kesiapsiagaan yang baik secara pasti akan menaikkan tingkat daya tahan masyarakat itu terhadap ancaman-ancaman yang ada. Ada beberapa aspek ketahanan paroki : Pengetahuan akan ancaman kebencanaan : ciri, asal, bentuk ancaman kebencanaan yang muncul, hingga langkah dan strategi yang tepat untuk mengurangi resiko kerusakan yang mungkin terjadi. Penguasaan terhadap ancaman kebencanaan penting bukan hanya dalam kedalamannya, tetapi juga dalam keluasaan jangkauan pengetahuan terhadap seluruh anggota komunitas. Pengenalan...

Melawan stigmatisasi Covid-19 : akar masalah, gejala, dan langkah strategis

Diskriminasi kepada pasien Covid-19, kepada mereka yang dalam pemantauan (ODP dan PDP), serta tenaga kesehatan menandai ketidakdewasaan publik kita dalam menghadapi ancaman krisis yang terjadi. Ketidakmatangan publik itu, yang dalam masa-masa biasa mungkin tidak banyak disadari dan dirasakan dampaknya, bisa menjadi sangat tajam di saat-saat krisis dengan tekanan sosial yang tinggi di dalamnya. Pribadi maupun kolektif dapat dengan mudah melakukan tindakan-tindakan reaksioner dan emosional. Manusia seakan kehilangan nalar dan hati nuraninya. Kita sudah melihat bagaimana warga yang terduga Covid-19 terusir dari tempat tinggalnya, kita meihat bagaimana tenaga kesehatan tidak diterima di kampung tempat tinggalnya, kita juga melihat bagaimana mantan pasien Covid-19 tidak lagi bisa tinggal di tempat asalnya. Kita juga menyaksikan bagaimana ketegangan...

Membangun Ketahanan Melawan Covid (2) : Ketahanan Komunitas dan Ketahanan Masyarakat

Ketika solusi pengobatan belum ditemukan, demikian pula daya topang fasilitas kesehatan publik sangat terbatas, membangun masyarakat yang berdisiplin menjalankan aturan-aturan kesehatan yang didesain secara epidemiologis mengamankan populasi adalah solusi yang terbaik. Dalam postingan sebelumnya kita telah bersama-sama mencermati bagaimana membangun ketahanan terhadap Covid-19 pada tingkat pribadi dan keluarga. Dua lingkaran ini menjadi inti dari kemampuan masyarakat kita merespon penyebaran virus Corona di masyarakat. Lingkaran-lingkaran ketahanan ini saling menopang satu sama lain. Lingkaran yang lebih luar menjadi pendukung lingkaran ketahanan di dalamnya. Ketahanan pada tingkat pribadi tidak dapat terwujud tanpa dukungan ketahanan pada tingkat keluarga. Lebih luas lagi, upaya-upaya pada tingkat pribadi dan keluarga hanya dapat berjalan baik...

Membangun ketahanan melawan Covid (1) : Ketahanan Pribadi dan Ketahanan Keluarga

SARS Cov-2 bukan hanya virus yang menyerang pada tubuh, terutama sistem pernafasan kita, mlelainkan juga pada keseluruhan sendi-sendi masyarakat. Penularan yang sangat cepat dan sulit terdeteksi menyebabkan volume penderita meningkat. Rumah-rumah sakit dan pusat-pusat kesehatan masyarakat  dengan cepat terisi melampaui upaya pemerintah dan masyarakat melakukan penambahan kapasitas sistem perawatan kesehatan.  Mereka yang tidak mendapat pelayanan medis yang memadai, apalagi kelompok rentan, dengan sendirinya berada di bawah bayang-bayang resiko kesehatan yang tinggi. Tidak ada jalan lain untuk meredam ancaman kesehatan yang ada selain dengan menerapkan kedisiplinan  untuk penjarakan fisik, pembatasan mobilitas sosial, pemakaian masker, kebiasaan mencuci tangan, pembatasan aktivitas, serta penguatan sistem kekebalan tubuh. ...