Fase Penyebaran dan Penguatan Daerah Menghadapi Covid-19

Pada tulisan sebelumnya, kita sudah melihat betapa daerah dihadapkan pada tiga tantangan simultan menghadapi Covid-19 : ketersediaan fasilitas kesehatan di daerah, dilema tarik ulur antara faktor kesehatan dan ekonomi (serta kepentingan-kepentingan lain), serta pergeseran wacana publik ke pelonggaran protokol kesehatan, yang sejatinya belum waktunya untuk dilakukan di tingkat daerah. Kondisi ini memaksa kita untuk mau tidak mau kita harus mendorong percepatan kesiapsiagaan daerah, pengembangan desain skenario kebijakan penanganan Covid-19 yang menopang perimbangan faktor ekonomi dan kesehatan, serta keharusan terus-menerus mewartakan kedisiplinan publik untuk melawan arus wacana yang terjadi. Dalam praktek, di satu sisi kita berhadapan dengan kondisi riil keterbatasan sumber daya, kedisiplinan perilaku bahkan di antara aparatur dan para relawan...

Distribusi Sebaran Covid-19 dan Tegangan Kebijakan Pusat-Daerah

Disadari atau tidak, pandemi Covid-19 di Indonesia telah memasuki fase baru. Saat ini kita dihadapkan pada kurva penyebaran yang terus menanjak, momentum kedaruratan di tengah masyarakat seakan telah berlalu. Jalanan kembali ramai dan beragam aktivitas publik mulai muncul. Di tengah ancaman Covid-19 yang diyakini belum mencapai puncaknya,[1] mau tidak mau, masyararakat sesaat harus berusaha keras memulihkan diri dari krisis yang telah dialami, dan mau tidak mau pula, mengambil nafas panjang untuk sebuah perjalanan ke depan yang belum tentu mudah. Pernyataan pemerintah[2] dan WHO[3] dengan jelas memperingatkan hal itu. Di sisi lain, fase itu ditandai juga dengan terus menurunnya DKI Jakarta dan sekitarnya sebagai pusat pandemi, diringi dengan semakin meratanya penderita Covid-19 ke berbagai daerah. Tulisan ini ingin menguraikan...

Mengawal Kurva Pandemi

Memelihara Kesiapsiagaan di Tengah Lelahnya Publik Atas Covid-19 Sejak terdeteksinya pasien Covid-19 pertama di Indonesia pada 2 maret 2020 lalu, kurva penderita penyakit ini terus menaik dan relatif belum menunjukkan tanda-tanda penurunan hingga hari ke-67 (8 Mei 2020) ini.[1] Beberapa lembaga yang mengeluarkan perkiraan tentang akhir masa pandemi berdasarkan kalkulasi statistik meninjau kembali ramalan mereka. [2] Sementara itu, cukup banyak pihak yang mengkhawatirkan akan terjadinya  puncak penularan kedua. kekhawatiran ini cukup beralasan mengingat ketidakpedulian serta melemahnya kesiapsiagaan publik semakin terasa. Dalam tiga hari terakhir (5-7 Mei 2020) di kota Yogya misalnya, angka positif Covid-19 melonjak dari 10, 9, dan pada 7 Mei 2020 menjadi 15 pasien. Sementara itu, cukup banyak pihak yang mengkhawatirkan akan...