Tantangan pengarusutamaan perdagangan manusia di tengah Covid-19

Hari Anti Perdagangan Manusia 30 Juli 2020 Apakah karya keselamatan Allah itu masih berlangsung di tengah kegelapan yang makin mendalam ? Tanya Romo Paschalis Saturnus, Pr mengawali uraiannya dalam konferensi pers online, 29 Juli 2020 lalu. Covid dan human trafficking Covid-19 tak mengenal batas-batas ekonomi, sosial, politik, gender, hingga agama.  Dengan keragaman masyarakat terdampak, memunculkan pula dampak yang berbeda-beda skala dan kedalamannya di setiap elemen masyarakat yang ada. Covid-19 menjadi economic attack pada kaum miskin yang notabene adalah kelompok paling rentan terhadap perdagangan manusia. Dampak serangan ekonomi terhadap komunitas rentan ini begitu luas dan dalam.  “Dalam situasi seperti ini, orang bisa melakukan hal-hal di luar perkiraan kita,” tutur Pdt. Emmy Sahertian dalam konferensi...

Pancasila sebagai tindakan pemerdekaan

Gagasan Dasar Pertama, Pancasila adalah memori, diskursus, konsensus, sekaligus elan pembebasan Indonesia : Pancasila tidak dapat dilepaskan dari sejarah pemerdekaan Indonesia. Pancasila adalah rekaman/catatan, narasi, diskusi, kegairahan, serta konseptualisasi sekaligus refleksi kolektif atasnya. Sebagai memori kolektif, Pancasila merekam ide-ide besar yang menggerakkan pergerakan kebangsaan : kemanusiaan, keadilan sosial, demokrasi kerakyatan, persatuan kebangsaan, serta ketuhanan. Trisila, socio nationalism, socio democratie, dan ketuhanan, jelas merujuk pada tiga spektrum ideologis yang menjadi tulang punggung pergerakan nasional. Sementara Ekasila, gotong-royong mengacu pada semangat paling dasar yang memungkinkan semua kekuatan rakyat bersatu, berkolaborasi, saling berkontribusi untuk merintis dan merajut keindonesiaan. Pancasila adalah...

Perjalanan untuk Merawat Rumah Kita Bersama : Dokumen Vatikan tentang Ekologi Integral

Kamis, 18 Juni 2020, di hadapan jurnalis yang terbatas dan mengikuti standar penjarakan fisik, panel yang terdiri dari para pemimpin lembaga di vatikan dan organisasi Katolik dunia meluncurkan dokumen berjudul “Journeying for the care of the common home”.  Dokumen setebal 225 ini dipersiapkan oleh Holy See Interdicastery Table on integral Ecology sejak 2015 dengan berusaha mengevaluasi kembali berbagai macam gerakan dan langkah yang muncul untuk memperjuangkan ekologi integral. Dokumen ini diharapkan bisa menjadi panduan yang membantu umat Katolik dan masyarakat luas untuk membangun hubungan sejati dengan segenap ciptaan. Sekretaris Hubungan Negara-negara, Uskup Agung Paul Gallagher, menyatakan bahwa dokumen tersebut memuat kontribusi dari berbagai konferensi uskup tingkat benua, organisasi internasional, Gerakan Katolik, para superior...

Ekologi Integral dan Tujuh Tujuan Laudato Si

Pembangunan (pengembangan-terj Rm. Martin Harun, OFM)) dapat disebut otentik kalau ada jaminan untuk mewujudkan perbaikan secara keseluruhan dalam kualitas hidup manusia, LS 147 Sebagaimana cinta menjadi ikatan, hakikat sekaligus obat sosial yang kuat dalam relasi antarmanusia, demikian pula cinta menjadi pepulih dalam persaudaraan manusia atas alam. Melengkapi Laudato Si, Dicastery for Promoting Integral Human Development juga mencanangkan Laudato Si Goals, yakni serangkaian tujuan strategis yang ingin diwujudkan sebagai hasil kongkrit ensiklik tersebut. Tujuan tersebut dikembangkan dari konsep ekologi integral yang menjadi inti tanggapan Paus Fransiskus atas krisis lingkungan yang dihadapi. Kita akan menyelami gagasan dasar ekologi integral ini sebelum kemudian mendiskusikan tujuan-tujuan dasar Laudato Si. Ekologi Integral Dari 6...

Tahun Peringatan Khusus Laudato Si 2020-2021 Dan Platform Aksi Multiyear Laudato Si

Lima tahun yang lalu, Paus Fransiskus mengeluarkan ensiklik beliau yang kedua, yang mengingatkan dan menyerukan kepada kita semua panggilan untuk kembali merawat dan memulihkan bumi sebagai rumah kita bersama. Laudato Si adalah ensiklik besar yang menempatkan lingkungan hidup sebagai tantangan utamanya. Laudato Si adalah jawaban yang akan mewujud bila seluruh Gereja dan semua orang yang berkehendak baik bersedia terlibat dalam gerakan bersama memperjuangkan semangat ensiklik ini. Usia lima tahun Ensiklik Laudato Si bisa bermakna ganda, ia terlalu singkat untuk usia sebuah kebijakan mengakar dan membumi  di tengah tengah 1,3 milyar umat Katolik apalagi 7,6 milyar di dunia, sementara di sisi lain waktu lima tahun terlalu panjang untuk kerusakan alam yang berlangsung dengan cepatnya. Menyadari perlunya pembumian dan percepatan penerapan...

Beyond Laudato Si : Sketsa Historis Gerakan Lingkungan 1970-2020

Humanity was moving further into unsustainable territory. (Donella Meadows, et al.)[1] Sejak tahun 1970-an, kemampuan bumi untuk menopang kehidupan yang lestari sudah terlewati. Artinya, manusia menggunakan lebih dari kemampuan bumi untuk meregenerasi dirinya sendiri setiap tahunnya. Di Indonesia, batas ini juga sudah terlampaui pada 2003. Artinya, manusia saat ini selalu berutang kepada bumi untuk menopang pertumbuhan ekonomi, kebudayaan, dan cara hidupnya sehari-hari. Kemampuan alam dalam menopang kerakusan dan ambisi manusia sangatlah terbatas. Dan karena bahasa bumi tak lagi kita mengerti, maka manusia hanya bisa meraba-raba dari dampaknya. Penderitaan alam akhirnya menjadi penderitaan manusia juga. Dari sudut pandang pemerintah dan gerakan masyarakat sipil global, desakan untuk mengoreksi arah ekonomi dunia terdengar sangat...

Faith institutions call for a just recovery by divesting from fossil fuels

Pada 18 Mei 2020, Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan Keuskupan Agung Semarang mengambil bagian dalam seruan global lembaga-lembaga agama untuk divestasi dari bahan bakar fosil. Seruan ini diinisasi oleh Global Catholic Climate Movement (GCCM) dan dilakukan bersama 42 lembaga dari 14 negara di dunia, berikut pernyataan pers yang disampaikan secara kolektif : Faith institutions call for a just recovery by divesting from fossil fuels Bailouts and recovery packages must not empower polluters As major challenges for the global economy are predicted in the wake of the coronavirus pandemic, a diverse group of faith institutions is putting the call for a just economic recovery into practice. Today, 42 faith institutions from 14 countries announce their divestment from fossil fuels. This is the largest-ever joint announcement of...

Fase Penyebaran dan Penguatan Daerah Menghadapi Covid-19

Pada tulisan sebelumnya, kita sudah melihat betapa daerah dihadapkan pada tiga tantangan simultan menghadapi Covid-19 : ketersediaan fasilitas kesehatan di daerah, dilema tarik ulur antara faktor kesehatan dan ekonomi (serta kepentingan-kepentingan lain), serta pergeseran wacana publik ke pelonggaran protokol kesehatan, yang sejatinya belum waktunya untuk dilakukan di tingkat daerah. Kondisi ini memaksa kita untuk mau tidak mau kita harus mendorong percepatan kesiapsiagaan daerah, pengembangan desain skenario kebijakan penanganan Covid-19 yang menopang perimbangan faktor ekonomi dan kesehatan, serta keharusan terus-menerus mewartakan kedisiplinan publik untuk melawan arus wacana yang terjadi. Dalam praktek, di satu sisi kita berhadapan dengan kondisi riil keterbatasan sumber daya, kedisiplinan perilaku bahkan di antara aparatur dan para relawan...

Distribusi Sebaran Covid-19 dan Tegangan Kebijakan Pusat-Daerah

Disadari atau tidak, pandemi Covid-19 di Indonesia telah memasuki fase baru. Saat ini kita dihadapkan pada kurva penyebaran yang terus menanjak, momentum kedaruratan di tengah masyarakat seakan telah berlalu. Jalanan kembali ramai dan beragam aktivitas publik mulai muncul. Di tengah ancaman Covid-19 yang diyakini belum mencapai puncaknya,[1] mau tidak mau, masyararakat sesaat harus berusaha keras memulihkan diri dari krisis yang telah dialami, dan mau tidak mau pula, mengambil nafas panjang untuk sebuah perjalanan ke depan yang belum tentu mudah. Pernyataan pemerintah[2] dan WHO[3] dengan jelas memperingatkan hal itu. Di sisi lain, fase itu ditandai juga dengan terus menurunnya DKI Jakarta dan sekitarnya sebagai pusat pandemi, diringi dengan semakin meratanya penderita Covid-19 ke berbagai daerah. Tulisan ini ingin menguraikan...

Tepatkah Pelonggaran Protokol Covid-19 ?

Enam Tantangan dari Lapangan Sulit dipungkiri betapa perkembangan aktual penanganan Covid-19 di beberapa hari terakhir ini cukup menggelisahkan kita. Kajian awal Kemenko Perekonomian “Road Map Ekonomi Kesehatan Keluar Covid-19” yang beredar viral[1], mulai dibukanya kembali angkutan umum (meskipun dengan protokol ketat) oleh Kementerian Perhubungan[2], hingga pernyataan Gugus tugas bahwa warga berusia di bawah 45 tahun diijinkan untuk kembali bekerja[3] sangat menggelisahkan kita. Meskipun sebagian dari pernyataan tersebut kemudian berusaha diluruskan, namun kesan upaya pelonggaran PSBB di berbagai daerah sudah terlanjut menyebar. Bukan hanya bahwa hal tersebut semakin mengurangi tingkat kedisiplinan diri masyarakat saat ini, tetapi juga mengingat dalam berbagai aspek kita sebenarnya belum mampu mengendalikan penyebaran Covid-19. Dalam...

Mengawal Kurva Pandemi

Memelihara Kesiapsiagaan di Tengah Lelahnya Publik Atas Covid-19 Sejak terdeteksinya pasien Covid-19 pertama di Indonesia pada 2 maret 2020 lalu, kurva penderita penyakit ini terus menaik dan relatif belum menunjukkan tanda-tanda penurunan hingga hari ke-67 (8 Mei 2020) ini.[1] Beberapa lembaga yang mengeluarkan perkiraan tentang akhir masa pandemi berdasarkan kalkulasi statistik meninjau kembali ramalan mereka. [2] Sementara itu, cukup banyak pihak yang mengkhawatirkan akan terjadinya  puncak penularan kedua. kekhawatiran ini cukup beralasan mengingat ketidakpedulian serta melemahnya kesiapsiagaan publik semakin terasa. Dalam tiga hari terakhir (5-7 Mei 2020) di kota Yogya misalnya, angka positif Covid-19 melonjak dari 10, 9, dan pada 7 Mei 2020 menjadi 15 pasien. Sementara itu, cukup banyak pihak yang mengkhawatirkan akan...

Kisah dari Sendai dan Masyarakat Berdaya Tahan terhadap Covid-19

Kisah-kisah gempa Sendai Pada 11 Maret 2011 pukul 14.46 Waktu Standar Jepang (05.46 UTC), masyarakat dunia dibuat terpesona pada respon masyarakat Jepang di tengah bencana gempa bumi Sendai/Tohoku berskala 9,0-9,1 SR.[1] Lima puluh pekerja reaktor nuklir yang bocor di Fukushima[2] menolak meninggalkan reaktor. mereka berjuang untuk mengatasi kebocoran dan dalam arti yang sesungguhnya mempertaruhkan nyawanya. Seribuan relawan lain dari berbagai penjuru Jepang kemudian bergabung bersama-sama mereka mengatasi tragedi nuklir itu. Mereka kemudian dikenal sebagai Fukushima 50[3]  dan menjadi pahlawan global atas kesediaan mereka mempertaruhkan nyawa hingga kebocoran nuklir di Fukushima dapat diatasi dan tidak berubah menjadi bencana lingkungan yang lebih besar. Tetapi keajaiban masyarakat di tengah bencana Sendai yang sesungguhnya...

Tujuh belas hal yang bisa paroki/stasi/lingkungan lakukan untuk mengatasi Covid-19

Banyak upaya yang sudah dilakukan Gereja baik hirarkhi maupun umat untuk menghadapi Covid-19. Berikut beberapa rekaman aktivitas yang baik secara sistematis dilaksanakan, maupun sporadis bermunculan di tengah umat beriman. Pelayanan pastoral baik sakramental maupun non sakramental di tengah Covid-19 tetap yang utama. Dalam hal pelayanan ini, terutama pelayanan kematian dan minyak suci, amat sangat penting untuk menekankan protokol kesehatan Covid-19 yang benar-benar aman. Dari kasus-kasus yang sudah terjadi di seluruh dunia, para pelayan Gereja sangat rentan terkena Covid-19. Siaran misa online melalui berbagai media elektronik (televisi dan radio) dan platform digital yang ada, entah Youtube, Facebook, Instagram, hingga Zoom. Tidak hanya itu, pelayanan keluarga seperti misa arwah, juga umum dilakukan secara online.Pendidikan, penyadaran, dan...

Paroki Siaga Covid-19 : tujuh elemen dasar ketahanan paroki

Ketahanan paroki adalah ketangguhan dan keuletan paroki untuk bertahan, memelihara, dan melindungi warganya terhadap ancaman yang ada, mengantisipasi resiko-resiko dan ketidakterdugaan situasi yang terjadi serta memulihkan diri dari kerusakan akibat sebuah bencana. Ada batas daya tahan sebuah masyarakat terhadap kebencanaa. Kesiapsiagaan yang baik secara pasti akan menaikkan tingkat daya tahan masyarakat itu terhadap ancaman-ancaman yang ada. Ada beberapa aspek ketahanan paroki : Pengetahuan akan ancaman kebencanaan : ciri, asal, bentuk ancaman kebencanaan yang muncul, hingga langkah dan strategi yang tepat untuk mengurangi resiko kerusakan yang mungkin terjadi. Penguasaan terhadap ancaman kebencanaan penting bukan hanya dalam kedalamannya, tetapi juga dalam keluasaan jangkauan pengetahuan terhadap seluruh anggota komunitas. Pengenalan...

Melawan stigmatisasi Covid-19 : akar masalah, gejala, dan langkah strategis

Diskriminasi kepada pasien Covid-19, kepada mereka yang dalam pemantauan (ODP dan PDP), serta tenaga kesehatan menandai ketidakdewasaan publik kita dalam menghadapi ancaman krisis yang terjadi. Ketidakmatangan publik itu, yang dalam masa-masa biasa mungkin tidak banyak disadari dan dirasakan dampaknya, bisa menjadi sangat tajam di saat-saat krisis dengan tekanan sosial yang tinggi di dalamnya. Pribadi maupun kolektif dapat dengan mudah melakukan tindakan-tindakan reaksioner dan emosional. Manusia seakan kehilangan nalar dan hati nuraninya. Kita sudah melihat bagaimana warga yang terduga Covid-19 terusir dari tempat tinggalnya, kita meihat bagaimana tenaga kesehatan tidak diterima di kampung tempat tinggalnya, kita juga melihat bagaimana mantan pasien Covid-19 tidak lagi bisa tinggal di tempat asalnya. Kita juga menyaksikan bagaimana ketegangan...

Membangun Ketahanan Melawan Covid (2) : Ketahanan Komunitas dan Ketahanan Masyarakat

Ketika solusi pengobatan belum ditemukan, demikian pula daya topang fasilitas kesehatan publik sangat terbatas, membangun masyarakat yang berdisiplin menjalankan aturan-aturan kesehatan yang didesain secara epidemiologis mengamankan populasi adalah solusi yang terbaik. Dalam postingan sebelumnya kita telah bersama-sama mencermati bagaimana membangun ketahanan terhadap Covid-19 pada tingkat pribadi dan keluarga. Dua lingkaran ini menjadi inti dari kemampuan masyarakat kita merespon penyebaran virus Corona di masyarakat. Lingkaran-lingkaran ketahanan ini saling menopang satu sama lain. Lingkaran yang lebih luar menjadi pendukung lingkaran ketahanan di dalamnya. Ketahanan pada tingkat pribadi tidak dapat terwujud tanpa dukungan ketahanan pada tingkat keluarga. Lebih luas lagi, upaya-upaya pada tingkat pribadi dan keluarga hanya dapat berjalan baik...

Membangun ketahanan melawan Covid (1) : Ketahanan Pribadi dan Ketahanan Keluarga

SARS Cov-2 bukan hanya virus yang menyerang pada tubuh, terutama sistem pernafasan kita, mlelainkan juga pada keseluruhan sendi-sendi masyarakat. Penularan yang sangat cepat dan sulit terdeteksi menyebabkan volume penderita meningkat. Rumah-rumah sakit dan pusat-pusat kesehatan masyarakat  dengan cepat terisi melampaui upaya pemerintah dan masyarakat melakukan penambahan kapasitas sistem perawatan kesehatan.  Mereka yang tidak mendapat pelayanan medis yang memadai, apalagi kelompok rentan, dengan sendirinya berada di bawah bayang-bayang resiko kesehatan yang tinggi. Tidak ada jalan lain untuk meredam ancaman kesehatan yang ada selain dengan menerapkan kedisiplinan  untuk penjarakan fisik, pembatasan mobilitas sosial, pemakaian masker, kebiasaan mencuci tangan, pembatasan aktivitas, serta penguatan sistem kekebalan tubuh. ...

Dekrit Indulgensi (Pengampunan) Khusus Saat Wabah COVID-19

Dekrit Penitensiaria Apostolik tentang Pemberian Indulgensi Khusus bagi Umat Beriman dalam Pandemi Saat ini (20 Maret 2020). Terjemahan tidak resmi oleh Rm. Adrianus Suyadi, SJ Karunia indulgensi (pengampunan) khusus ini diberikan kepada umat beriman (Katolik) yang terjangkit wabah Covid-19, yang umumnya disebut Coronavirus, dan juga kepada para dokter, tenaga medis, anggota keluarga dan semua orang yang dalam berbagai kapasitasnya, termasuk melalui doa, merawat mereka. “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan dan bertekunlah dalam doa” (Roma 12:12). Kata-kata yang ditulis oleh Santo Paulus kepada Gereja di Roma bergema sepanjang sejarah Gereja dan membimbing pertimbangan umat beriman dalam berhadapan dengan semua penderitaan, penyakit dan bencana. Saat ini di mana seluruh umat manusia terancam oleh penyakit...

Belajar dari Aksi Katolik, bertumbuh menjadi rasul awam I : Pasca Revolusi Perancis hingga tegangan Sosialisme-Kapitalisme

(bagian pertama dari dua tulisan) Cyprianus Lilik K.P. Duc in altum, Azione Cattolica. Abbi il coraggio del futuro![1], demikian sambutan Bapa Paus Yohanes Paulus II yang disampaikan pada 11th National Assembly of Italian Catholic Action di tanggal 26 April 2002. “Bertolaklah ke tempat yang lebih dalam, Aksi Katolik (Italia), milikilah keberanian untuk masa depan ! Kalau Teologi Pembebasan disebut sebagai gerakan teologi dan pastoral terbesar dalam Gereja Universal sepanjang paruh kedua abad 20, Aksi Katolik bisa dianggap sebagai “paman” dari gerakan tersebut, dan telah lahir hampir satu abad sebelumnya. Benar, Aksi Katolik adalah pendahulu Teologi Pembebasan yang lahir dari ‘dunia lama’ Gereja Universal, sementara Teologi Pembebasan adalah gerakan teologi dan pastoral yang tercipta dalam pusaran krisis ekonomi, sosial, politik...

Romo Endra Wijayanta, Pr Terpilih sebagai Ketua KKP-PMP Regio Jawa 2020-2023

Rapat Pertanggungjawaban dan Pemilihan Ketua Komisi Regio Jawa Pandemi boleh beraksi, tetapi karya keadilan dan kemanusiaan tak boleh mati. Keuskupan Agung Semarang kembali mendapat kehormatan dengan dipilihnya Romo Endra Wijayanta, Pr sebagai Ketua Komisi Keadilan, Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau (KKP PMP) Regio Jawa untuk masa bakti 2020-2023. Pada 10 September 2020 KKP PMP Regio Jawa menyelenggarakan rapat kerja regio dengan memanfaatkan platform pertemuan digital Zoom. Pertemuan ini dihadiri oleh Sekretaris eksekutif KKP PMP KWI Romo Eko Aldi, O Carm, Komisi KKP keuskupan, dan kongregasi se Regio Jawa dengan dua agenda utama, laporan pertanggungjawaban pengurus Komisi Regio Jawa masa bakti 2017-2020 dan pemilihan ketua regio yang baru. Kegiatan rutin KKP PMP - JPIC Regio Jawa diadakan 2 kali dalam setahun dalam bentuk Hari...

Kronologi Perjuangan Untuk Mendapatkan IMB Wisma Tyas Dalem Rejoso

Romo Endra Wijayanta, Pr Wisma Tyas Dalem Rejoso (TDR), adalah rumah keluarga Rm. Gregorius Utomo. Sebagai satu-satunya ahli waris, karena saudara kandungnya telah berpulang terlebih dahulu, Romo Utomo tentu berpikirke depan tentang keberadaan rumah dimana dia dididik dan dibesarkan tersebut.Sebagai seorang Imam yang lepas bebas terhadap harta duniawi, beliau sudah sejak lama merencanakan bahwa rumah itu akan diserahkan pada Gereja. Beliau berharapa gar Gereja dapat memanfaatkan sarana yang ada di lahan seluas 3800 m persegi itu dengan baik. Harapan Romo Utomo ini dapat dipahami karena beliau memang pribadi yang sungguh memperhatikan permasalahan yang ada dalam masyarakat khususnya Gereja. Perhatian beliau kepada para petani sudah dicurahkan sejak masa mudanya. Beliau pernah menjadi pejabat pada kementrian Pertanian di jaman Presiden Sukarno...

Tantangan keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan di era kebiasaan baru

The COVID-19 pandemic is far more than a health crisis: it is affecting societies and economies at their core. While the impact of the pandemic will vary from country to country, it will most likely increase poverty and inequalities at a global scale, making achievement of SDGs even more urgent.UN’s Framework for the Immediate Socio-Economic Response to the COVID 19 Crisis Vonis para pakar WHO bahwa kita semua harus hidup bersama dengan virus Corona dalam jangka panjang, memberi kita pilihan tunggal untuk menulis kembali kebiasaan sehari-hari selaras protokol keamanan kesehatan Covid-19. Ini jelas berdampak bagi hidup keseharian kita, dengan keniscayaan untuk selalu menggunakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak, hingga menyucihamakan benda-benda di sekitar kita sekala berkala. Lebih jauh dari itu, kebiasaan baru juga melahirkan...

Materi Webinar Laudato Si KKPKC-KAS

Romo, Suster, Ibu, Bapak, dan rekan-rekan semua berikut kami sampaikan file terkait Webinar Laudato Si yang diselenggarakan KKPKC KAS bekerjasama dengan Suster-suster Green Monastery, Kota Tanpa Sampah, dan Yayasan Benih Cetta Nusantara, 30 Mei 2020. Sr. Amelia Hendani, SGM, Spiritualitas Laudato Si : Membangun relasi baru dengan sesama ciptaanDownload Wilma Chrysanti, Hidup Minim Sampah. Serafina Adhita Herviana, Konservasi Meja MakanDownload Semoga bermanfaat dan terimakasih sekali atas partisipasinya...

WEBINAR LAUDATO SI KKPKC-KAS

Komisi Keadilan Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan KAS bekerjasama dengan Sisters of The Earth Community (Green Mountain Monastery), Kota Tanpa Sampah, dan Yayasan Benih Cetta Nusantara mengundang rekan-rekan semua untuk hadir pada webinar LAUDATO SI :: RECONNECTING : Manusia dan Bumi dalam kehidupan sehari-hariSabtu, 30 Mei 202, jam 19.00-21.00 WIB/20.00-22.00 WITA/21.00-23.00 WITmenggunakan aplikasi Zoom Narasumber : Spiritualitas Laudato SiSr. Amelia Hendani, SGMGreen Mountain Monastery, Grensboro, Vermont, USA Hidup minim sampah, untuk merawat bumiWilma ChrisantyKota Tanpa Sampah/Lab Tanya, Tangerang Konservasi alam melalui gerakan pangan lokalSerafina AdhitaYayasan Benih Cetta Nusantara, Yogyakarta Link pendaftaran : https://bit.ly/WebinarLaudatoSiatau WA 082135632002 (Cyprianus Lilik K....